RSUD Gunungsitoli Krisis Obat Antibiotik

GUNUNGSITOLI, NBC – Sudah tiga minggu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungsitoli mengalami krisis obat antibiotik jenis Cefotaxime 1 gram dan ceftriaxone 1 gram. Pihak Kementrian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara hingga kini belum menjawab keluhan ini. Untuk menanggulangi ketiadaan ini, pihak RSUD Gunungsitoli mengganti dengan jenis obat lainnya.

Hal ini diakui Plh. RSUD Gunungsitoli Ismed Amazihönö kepada NBC di aula lantai 3 RSUD Gunungsitoli, Senin (1/6/2015). “Sudah tiga minggu stok obat antibiotik jenis Cefotaxine 1 gram dan ceftriaxone 1 gram. Kami sudah menyurati Mentri Kesehatan dengan surat Nomor: 442.1/2615/Pel/IV/2015 tentang penyampaian keluhan tentang obat kosong dengan harga e-katalog di pedagang farmasi tanggal 8 April 2015 dan juga kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dengan surat Nomor: 442.1/2614/Pel/V/2015 tentang penyampaian keluhan tentang obat kosong dengan harga e-katalog di pedagang farmasi tanggal 25 Mei 2015 dan sampai sekarang belum ada jawaban,” ujar Ismed sambil menunjukkan surat itu.

Menurut Ismed, sebulan sebelum persediaan obat itu habis, pihaknya telah mengantisipasi dan menyurati Kemenkes dan Dinkes provsu. “Proses pengadaan obat itu melalui e-katalog. Sembari menunggu jawaban, kami (RSUD Gunungsitoli) telah membeli obat itu di seluruh apotik di Gununggsitoli dan juga di Sibolga, dan 3 minggu ini sudah habis. Mengantisipasinya, menggunakan obat lain yang kualitasnya sama.”

Atas ketiadaan persediaan obat tersebut, dipastikan Ismed cukup berdampak pada pelayanan pasien terutama pasien peserta Jamkesmas, Askes dan BPJS. Walau demikian, Ismed berharap dokter yang menangani pasien tidak membebankan pembelian obat kepada pasien.

“Sudah ada surat edaran tidak dibebankan kepada pasien BPJS dan sejenisnya untuk dibebankan pembelian obat sesuai formulasi. Jika tidak ada stok, pihak RSUD dapat mencari pengganti sesuai kualitas. Untuk itu, jika ada pasien yang diberi rresep silahkan sampaikan pada kami dan kami mencari solusinya” kata Ismed yang ditemani Kepala Seksi Medik Kristian Lase.

Ismed menyampaikan dalam sehari obat itu setidaknya digunakan sebanyak 200 vial. Oleh karena itu, mereka berharap, Dinas Kesehatan Provinsi dan Menteri Kesehatan dapat memprioritaskan keluhan mereka itu.

Salah seorang dokter yang meminta namanya dirahasiakan yang dijumpai NBC di ruang kerjanya di RSUD Gunungsitoli mengatakan kewalahan menangani pasien akibat ketiadaan obat dimaksud. Dengan terpaksa mengeluarkan resep agar pasien membelinya di luar RSUD Gunungsitoli.

“Cukup kewalahan, obat yang diberikan pengganti standar yang sudah lama ditinggalkan penggunaannya. Terpaksa kami beri resep dan pasien beli. Agar penanganan pasien segera sembuh,” ujar dokter itu dengan pelan.

Menurut dia, ketiadaan obat seperti ini yang bertanggungjawab penuh pada pengadaan pihak pengelola RSUD Gunungsitoli. Jika ada obat pengganti, mereka hanya mengeluarkan resep dan yang berkoordinasi pasien dengan kepala ruangan. [NDH]

Related posts