PERALIHAN MUSIM

BMKG: Nias Selatan dan Nias Barat Berpotensi Longsor

Peta Peringatan Banjir | Sumber gambar: BMKG

Peta Peringatan Banjir | Sumber gambar: BMKG

MEDAN, NBC – Berdasarkan peta prakiraan potensi banjir yang dilansir Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Wilayah I Sumbagut, memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, intensitas hujan di kepulauan Nias dikategorikan menengah dengan intensitas 5,0–15,0 mm/jam atau 20–50 mm/24 jam. Menurut BMKG, khusus wilayah Nias Selatan dan Nias Barat bisa berpotensi longsor jika hujan berlangsung hingga beberapa jam. Masyarakat diminta tetap waspada.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah I Sumbagut, Sunardi kepada NBC, Rabu (3/6/2015) di Medan. Sunardi mengungkapkan bahwa meski kategori banjir menengah, khusus wilayah Nias Selatan dan Nias Barat, peta peringatan dini longsor di kedua wilayah tersebut menunjukkan dalam kategori tinggi. Artinya, wilayah tersebut harus hati-hati dengan hujan yang terjadi selama beberapa jam, longsor dapat terjadi.

“Longsor itu kan bukan hanya terjadi karena curah hujan saja, tergantung sudut kemiringannya. Kemudian, tangkapannya. Maksudnya, daerah tersebut apakah padat penduduk, wilayah hutan atau perkebunan. Itu kan beda-beda. Intinya itu, kemiringan. Semakin terjal, kemungkinan longsor akan semakin tinggi,” jelas Sunardi.

Karena sudut kemiringannya itu, suatu wilayah dapat terjadinya longsor meski hujan dengan kategori sedang. “Walaupun hujannya tidak terlalu tinggi, kemungkinan bisa longsor. Misalnya, dia daerah padat penduduk, tanaman pengikatnya tidak ada. Kemungkinan longsornya tinggi,” sebutnya.

Sunardi mengimbau, dengan adanya kondisi ini, daerah dengan sudut kemiringan yang tinggi, diharapkan jangan dihuni. “Harus banyak menanam pohon yang mengikat, yang banyak menyerap air. Artinya, dengan menanam pohon ini, dapat mencegah terjadinya erosi. Jadi itu intinya,” ungkapnya kembali.

Berbicara suhu udara, Sunardi memaparkan, suhu panas di Sumatera Utara mencapai 34 derjat celsius. “Kalau kemarau nanti bisa mencapai 35 hingga 36 derajat celsius. Kalau sekarang ini 34 (derajat celsius),” katanya.

Sunardi menjawab kondisi Sumatera Utara mudah-mudahan tidak terjadi gelombang panas seperti yang terjadi di India dengan suhu panas mencapai 48 derajat celsius. “Mudah-mudahan tidak. Di India itu kan berada di belahan utara. Kebetulan di sana lagi musim panas. Berketepatan arah angin menuju ke sana. Awan panasnya terperangkap di Gunung Himalaya. Makanya, konsernnya ke sana (India). Secara umum begitu dia,” jelasnya.

Dengan suhu panas 34 derajat ini, BMKG mengimbau agar masyarakat jangan membakar sampah sembarangan. Sebab, hal ini dapat memicu terjadinya kebakaran jika tidak diawasi dengan baik.  [ARA]

Related posts