Tragedi Perempuan Nias, Sampai Kapan?

Dua orang perempuan melintasi sungai untuk menjual karet, Sabtu (20/4/2013) | Foto:NBC/Nitema Mendrofa

Dua orang perempuan Nias melintasi sungai untuk menjual karet, Sabtu (20/4/2013) | Foto:NBC/Nitema Mendrofa

Oleh: Fotarisman Zaluchu

NBC — Sebut saja namanya Fina. Umurnya ketika saya berjumpa dengannya baru 16 tahun. Suaminya hanya beda 3 tahun saja dengannya. Fina, kini sedang mengandung anak pertama mereka. Ia berhenti di SMP karena orangtuanya setuju menikahkannya dengan Jaya (juga nama samaran), yang juga baru saja menyelesaikan SMA-nya.

Saat ini Fina tinggal bersama dengan keluarga mertuanya di sebuah Kecamatan di Kabupaten Nias Selatan. Ia punya adik ipar 5 orang dan kakak ipar 4 orang. Ya, suaminya memang satu-satunya anak laki-laki. Orangtua Jaya begitu menginginkan anak laki-laki, sehingga mereka tidak mau ber-KB. Sampai Jaya lahir, mereka masih menginginkan anak laki-laki, sayangnya yang lahir perempuan semua.

Selesai pernikahan berbiaya sekitar Rp 40 juta itu, Fina harus bekerja keras. Hutang pernikahan yang harus dibayarkan oleh keluarga suaminya memang membuat banyak perempuan Nias akhirnya banting tulang. Tetapi di keluarga itu, ia tidak sendiri mengalami hal itu. Dua kakak iparnya sekarang ini pergi meninggalkan dua anak-anaknya kepada ibu mertuanya karena mereka merantau ke “PT” (perusahaan, lazimnya disebut demikian) di Medan. Ketika saya tanyakan kepada ibu mertua Fina bagaimana mengurus begitu banyak orang di rumah kecil dengan hanya tiga kamar itu, ia menjawab “ya seadanya inilah”. Hutang yang dibuat ketika pernikahan membuat suami kedua anaknya tersebut harus merantau dan mencari uang, mempercayakan anak-anak mereka yang masih kecil kepada mertuanya.

Fotarisman Zalukhu | Foto: Dok. Pribadi

Fotarisman Zalukhu | Foto: Dok. Pribadi

Bekerja keras kini menjadi rutinitas Fina. Di pagi hari ia harus bangun cepat mengurus adik-adik iparnya yang semuanya masih bersekolah. Lalu ia berangkat mencuci pakaian di ledeng umum milik desa di seberang rumah mereka. Sekitar jam 9 pagi ia berangat ke ladang yang terletak di perbukitan di belakang rumah mereka. Jalan menuju kesana melewati sebuah sungai kecil. Jalannya juga turun naik. Di sanalah Fina memetik daun ubi untuk menjadi makanan bagi ternak babi mereka. Ternak itulah yang menjadi harapan mereka untuk membayar hutang pernikahan mereka. Di saat perempuan seusianya sedang belajar, ia sudah hamil dan harus bekerja keras demi membayar hutang.

Suaminya sendiri kerjanya serabutan. Saat saya berjumpa dengan Fina, suaminya kebetulan sedang mendapatkan pekerjaan membuat parit jalan, beberapa meter dari rumah mereka. Biasanya kerjanya hanya keluyuran bersama teman-temannya. Tak pernah sekalipun Jaya membantu istrinya ke ladang.

Beban hutang pernikahan bukan hanya terletak di pundak istri ketika pernikahan itu selesai. Beban itu juga kadang harus ditanggung oleh anak-anak perempuan sebuah keluarga. Demi pernikahan saudara laki-lakinya, mereka harus rela terpinggirkan. Kisah ini diceritakan oleh seorang teman wartawan yang ketika saya di Nias, juga sedang meliput berita mengenai pelatihan ketrampilan pada perempuan Nias. Ia berkata, bahwa ia berjumpa dengan dua perempuan. Keduanya, kira-kira berusia 17-an. Sayangnya, kedua anak itu telah putus sekolah. Alasannya bukan karena tidak punya uang untuk melanjutkan pendidikan. Kedua perempuan itu, diminta oleh ibunya untuk berhenti sementara waktu, supaya ada uang yang bisa disimpan untuk menikahkan abang mereka. Awalnya mereka diminta “mengalah” setahun, kemudan dua tahun, sampai akhirnya mereka pun tak lagi bisa bersekolah. Beruntung sebuah lembaga memberikan pelatihan menjahit bersama-sama dengan perempuan lain yang kurang beruntung di Nias Utara. Waktu teman saya itu bertanya berapa biaya pesta pernikahan abangnya, mereka menjawab sekitar Rp 80 juta.

Perempuan Nias memang masih berada dalam posisi yang kurang beruntung. Mereka harus membantu kebutuhan keluarga sejak mereka kecil. Dari sana, mereka dididik untuk bekerja keras, di ladang dan di sawah, demi keperluan keluarga. Mengambil daun ubi, menimba dan mengangkat air dari sumur, memberi makan babi, memasak da mencuci, adalah rutinitas pekerjaan perempuan Nias di pedesaan, sejak mereka kecil, bahkan sampai mereka telah berumah tangga. Kehidupan seperti itu seolah dijadikan takdir oleh mereka. Fina, dulunya mengaku tidak pernah bekerja di ladang seperti sekarang. Tetapi ketika saya tanyakan mengapa jadinya bekerja, ia menjawab, “hawisa wolau”.

Kepasrahan perempuan Nias pada nasib, memang amat lekat dengan budaya patriarkhi. Dan Nias amat kental dengan tradisi itu. Bahwa laki-laki memegang peranan yang sangat penting dan harus diutamakan, memiliki sejarah yang amat panjang di Pulau Nias. Bahkan ada masa dimana perempuan-perempuan Nias dijual kepada para pedagang budak, supaya para bangsawan memperoleh pakaian dan perhiasan mewah. Ya, tertindasnya perempuan di Nias, mendapatkan pembenaran oleh berbagai macam perangkat sosial termasuk budaya bahkan agama. Kita tahu bahwa dalam setiap pertemuan adat, perempuan selalu berada di belakang layar. Mereka hanya tahu memasak dan mencuci seluruh peralatan ketika pesta diselenggarakan. Salah seorang tokoh masyarakat yang saya jumpai pernah berkata bahwa perempuan hanyalah “ngoni-ngoni”. Sebuah persepsi sosial yang sangat merendahkan keberadaan perempuan. Belum lagi lagi anggapan bahwa perempuan juga harus hormat kepada laki-laki sebagai “högö”, turut melanggengkan rendahnya posisi perempuan di Nias. Dan itu terus berlangsung sampai sekarang sebagaimana kisah Fina di atas.

Budaya patriarkhi berkelindan dalam sistem pernikahan Nias. Karena jujuran dibebankan kepada pihak laki-laki, maka mau tidak mau laki-laki harus membayar modal pernikahan tersebut dengan cara apapun. Mentalitas “sökhi mate moroi aila” menyebabkan jujuran dibayar berapapun itu yang diminta oleh keluarga perempuan, dan untuk menjamu kerabat laki-laki. Kelihatannya perilaku ini terkesan “jantan”, tetapi sebagian besar pernikahan di pedesaan Nias, berdasarkan pengamatan saya, justru didanai oleh hutang.

Masih dalam bungkus budaya patriarkhi, ketika posisi perempuan tersingkirkan oleh dominasi kaum laki-laki, maka perempuan dan kepentingannya hanyalah semata-mata untuk kepentingan laki-laki. Konsekuensi hutang yang dibuat oleh keluarga laki-laki, kemudian ditanggungkan kepada perempuan ketika ia telah menjadi isteri, meski hutang tersebut dibuat tanpa sepengetahuan dan persetujuannya. Dan hutang keluarga, juga dibebankan kepada anak-anak perempuan lain yang ada di rumah tersebut. Ketika laki-laki juga sudah berumah tangga, seluruh kepentingannya pun harus dilayani dengan baik oleh isterinya dan tidak jarang melakukan tindakan kekerasan fisik. Semua ini bisa terjadi karena dominasi laki-laki dalam budaya Nias masih sangat luar biasa ketatnya. Dalam budaya dimana patriarkhi sangat ketat, sebagaimana ditulis oleh Rubin (1975), perempuan hanyalah barang yang bisa ditransfer dari satu pihak kepada pihak lain, bahkan terkesan menjadi alat pertukaran semata. Sebuah pernyataan yang harus kita renungkan bersama.

Pergeseran posisi perempuan memang mulai nampak terlihat pada wilayah perkotaan. Banyak perempuan di kota sudah menjadi pejabat, anggota DPRD dan meneruskan sekolah ke jenjang yang tinggi. Tetapi sebagian besar perempuan Nias masih belum beruntung. Mereka harus bekerja keras dan membanting tulang. Konteks kemajuan hampir-hampir tidak pernah mereka rasakan.

Khususnya dalam keadaan hamil, seperti Fina, seharusnya ia butuh istirahat yang lebih baik. Apalagi usianya ketika hamil masih sangat muda. Pernikahan di usia sangat muda ini cukup banyak terjadi di Pulau Nias. Tetapi sayangnya Fina tidak punya waktu. Ia baru berhenti menjelang siang, pulang ke rumah untuk memasak, lalu kembali ke ladang pukul dua sampai dengan sore hari. Di malam hari Fina harus memasak dan membersihkan rumah untuk kembali bekerja esok hari seperti hari-hari sebelumnya. Maka tidak heran jika menurut data Kementrian Kesehatan RI (2013), lebih dari separuh perempuan hamil di Nias mengalami defisit energi. Kondisi ini memperburuk kesehatan perempuan, dan berpotensi menyebabkan kematian ibu ketika melahirkan, yang berdasarkan data di Pulau Nias adalah yang tertinggi di Sumatera Utara.

Terlalu banyak pekerjaan rumah untuk menolong perempuan Nias dari tragedi ini. Butuh waktu yang panjang untuk mengubah tradisi. Posisi perempuan yang tidak beruntung dalam sistem pernikahan Nias yang begitu mahal, adalah akhir. Penyebab utamanya adalah budaya patriarkhi yang begitu dipegang kuat di Nias. (FOTARISMAN ZALUCHU, kandidat PhD dari AISSR, University of Amsterdam)

Related posts