KETAHANAN PANGAN

Ternak Puyuh Meningkatkan Gizi Keluarga

Eka Setiawan Karsa Telaumbanua dan Telurnya

Eka Setiawan Karsa Telaumbanua dan telur puyuhnya. | Foto-foto: NBC/Ketjel Zagoto

 

NBC — Menjaga ketahanan pangan keluarga sejatinya bukan hanya kewajiban pemerintah. Kita seharusnya mampu terlibat untuk menjaga ketahanan pangan meskipun dalam ruang lingkup keluarga sendiri. Ide awal ini tak dinyana dapat berkembang menjadi usaha yang mendatangkan keuntungan. Keluarga tidak hanya menikmati, tetapi juga bisa jadi penunjang penguatan ekonomi keluarga.

Berawal dari hobi dan pengetahuan tentang kandungan gizi puyuh yang tinggi membuat Eka Setiawan Karsa Telaumbanua (34), atau sering disapa Ama Chatryn, menekuni usaha beternak burung puyuh. Lulusan Fakultas Peternakan Universitas Sumatera Utara tahun 2004 ini sejak awal memang mencintai unggas.

Saat NBC menyambangi rumahnya di Desa Iraonogeba, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, beberapa ayam katai dan ayam kampung berkeliaran di sekitar rumahnya.

Berdasarkan penelusuran NBC, jika dibandingkan dengan telur ayam yang mengandung 11 persen protein, kandungan protein telur puyuh (Coturnix japonica) mencapai 13 persen. Kandungan vitamin B1 pada telur puyuh sebesar 140 mu-g, sedangkan telur ayam hanya 50 mu-g. Sementara jumlah kandungan vitamin A dan B2 pada telur puyuh dua kali lipat dari telur ayam. Bahkan, kandungan mineralnya, seperti zat besi dan potasium, lima kali lipat dari telur ayam.

Bibit, Pakan, dan Manajemen Pemeliharaan

Mesin penetas telur buatan sendiri.

Mesin penetas telur puyuh buatan sendiri.

Meski awalnya susah mendapatkan bibit, Eka berhasil membeli 300 telur dari salah satu peternakan unggas di Gunungsitoli dengan harga Rp 600 per butir. Telur-telur itu ditetaskan dengan mesin penetas buatan sendiri. Selama 18 hari, dari 200 anak puyuh yang dapat ditetaskan, tinggal 138 ekor yang berhasil menjadi bibit. Dari bibit-bibit itulah puyuh Eka terus berkembang hingga sekarang, mencapai 500 ekor.

NBC pun diberi kesempatan untuk menengok kandang puyuh yang berada di dalam bangunan yang terpisah dari rumah. Memelihara puyuh memang membutuhkan perhatian khusus. Selain rentan terhadap stres, puyuh juga rentan terhadap penyakit pernapasan dan pencernaan unggas. Untuk itu, Eka tidak tanggung-tanggung mencurahkan perhatiannya kepada peliharaannya itu. Sebagai penangkal stres, Eka memutar musik sejak telur puyuh masih berada di dalam mesin penetas.

“Bibit puyuh yang berkualitas tidak akan mendapatkan hasil telur yang maksimal apabila tidak didukung oleh pakan dan manajemen pemeliharaan yang optimal,” ujar Eka.

Seekor puyuh membutuhkan total 22 gram convit per hari. “Itu saya bagi-bagi dan saya berikan empat kali dalam sehari. Selain pakan, tiap kandang dilengkapi saluran air yang tidak berhenti mengalir. Pakan yang baik menunjang produktivitas telur,” lanjutnya.

Kandang burung puyuh betina.

Kandang burung puyuh betina.

Manajemen pemeliharaan yang diterapkan Eka sangat sederhana. Berbekal bangunan seluas 12 meter x 6 meter, Eka memelihara puyuhnya dalam barisan kandang berukuran 120 sentimeter x 60 sentimeter x 20 sentimeter. Setiap kandang maksimal diisi 40 puyuh betina. Hampir setiap hari puyuh bertelur.

Eka juga melakukan pemilahan terhadap jenis kandang. Ada kandang produksi, kandang anakan, dan kandang jantan. Hal ini membuat usaha peternakan puyuh Eka cepat berkembang.

Dari Mulut ke Mulut

Sejak memulai beternak puyuh pada akhir 2013 hingga kini, Eka tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarganya. Beberapa kenalan dan tetangganya kerap datang untuk membeli telur puyuh miliknya. Dari tuturan kenalan dan tetangga itulah kini Eka dapat menjangkau pasar yang lebih luas melalui media sosial.

Telur puyuh segar dia jual dengan harga Rp 600 per butir. Ia juga menyediakan daging puyuh segar berdasarkan pesanan dengan harga Rp 11.000 per ekor. Selain itu, kotoran puyuh dijual untuk dijadikan bahan pupuk organik.

Usaha Eka menjaga ketahanan pangan keluarga kini mengantarnya menjadi peternak puyuh yang mampu menunjang penguatan ekonomi keluarganya. Bagaimana, Anda tertarik untuk beternak puyuh? [Ketjel Zagoto]