PILKADA 2015

Saatnya Menjadi Pemilih yang Cerdas!

Ilustrasi ini yang diambil di Google ini menggambarkan kondisi perekrutan para kepala daerah yang masih berdasarkan mahar politik oleh partai politik. Jika calon kepala daerah membayar parpol, siapa yang bisa menjamin bahwa yang bersangkutan tidak korupsi?

Ilustrasi ini yang diambil di Google ini menggambarkan kondisi perekrutan para kepala daerah yang masih berdasarkan mahar politik oleh partai politik. Jika calon kepala daerah membayar parpol, siapa yang bisa menjamin bahwa yang bersangkutan tidak korupsi?

Oleh: Fikar Damai S. Gea

NBC — Suhu politik menuju Pilkada sudah mulai menghangat bahkan panas. Kita tinggal menunggu kapan suhu ini akan mendidih. Akan tetapi suhu yang mulai panas ini berasal dari para kandidat yang berkeinginan untuk ikut bertarung dalam Pilkada tahun 2015 ini. Apakah setiap masyarakat pemilik hak suara ini juga sudah mulai memanas atau kah masih dingin-dingin saja? Pembaca yang bisa memberi jawabannya.

Namun demikian, kita mengharapkan masyarakat dapat memilih kandidat yang tepat, karena hasil Pilkada ini sangat menentukan bagaimana nasib dan kesejahteraan kita hingga lima tahun ke depan. Karena itu, sudah saatnya kita berperan menentukan siapa yang akan memimpin daerah kita masing-masing.

Jika kita berkaca pada lima kabupaten/kota di Pulau Nias saat ini, pembaca dapat menilai sendiri bagaimana korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela. Lalu dari sisi pencapaian kinerja pembangunan, bagaimana? Bidang infrastuktur, pendidikan, kesehatan, pertanian, UMKM bahkan pelayanan publik sekalipun jauh dari harapan. Pemerintah daerah hanya mampu berharap agar opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak mendapat tidak menyatakan pendapat (disclaimer of opinion) atau tidak wajar (adversed opinion), kalau boleh mendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion) dan kalau beruntung mendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion). Apa arti opini ini jika realita kehidupan masyarakat jauh dari kata sejahtera.

Niccolo Machiaveli pernah berkata; “Keinginan untuk memperoleh lebih memang merupakan hal yang alami dan umum. Dan ketika seseorang berhasil dalam hal ini mereka akan mendapat pujian bukan kutukan. Tetapi ketika mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya dan masih mau memperolehnya dengan segala cara maka mereka layak dihukum atas kesalahan mereka.” Hal ini berarti bahwa dalam alam demokrasi dewasa ini masyarakat memiliki hak untuk memberikan evaluasi terhadap kinerja pemimpin. Apakah kita masih akan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk tetap memimpin atau kita mencari kandidat lain.

Kesalahan Besar Pemilih

Setuju atau tidak setuju, kesalahan terbesar pemilih pada saat Pilkada kurang lebih lima tahun yang lalu di seluruh kabupaten/kota di Pulau Nias adalah masyarakat kita terbuai dalam nuansa kharismatik dan pencitraan yang berlebihan. Kita cenderung memilih pemimpin yang tampak gagah, berwibawa dan terkenal sehingga kita dibutakan untuk melihat kompetensi dan jejak rekam para kandidat. Masyarakat mesti hati-hati dalam memilih pemimpin. Karena jika salah akan membuat kita menyesal di kemudian hari. Karena kadang kala sisi gelap seseorang baru akan muncul setelah seseorang berkuasa.

Mungkin saja kita tidak percaya, namun ada tiga ciri kepribadian pemimpin yang biasanya muncul setelah menduduki sebuah jabatan yang cenderung masyarakat yang dipimpin tidak sukai. Ketiga hal itu disebut sebagai ‘Triad Gelap’, yakni Narsisisme, Machiavellianisme (Mach) dan Psikopati. Biasanya bagi pemimpin yang memiliki tiga dimensi kegelapan ini akan cenderung mementingkan diri sendiri, lebih mengedepankan citra, memikat dan pandai menyembunyikan atau menyamarkan niat jahatnya.

Bagi masyarakat yang sering mengamati para pemimpin di Pulau Nias maka akan sangat mudah untuk menentukan indikasi ketiga sisi gelap ini:

Narsisisme adalah tipe permimpin yang narsis, ingin dikagumi dan orientasinya adalah pencarian status dan kejayaan. Narsisisme ini jika kadarnya wajar mungkin bagus karena biasanya pemimpin seperti ini mau menerima perubahan, gampang mencari dan menerima informasi dari luar dan terbuka dalam mengambil keputusan. Akan tetapi jika dalam kadar yang berlebihan juga akan bersifat negatif, karena pemimpin seperti ini tidak berani bertanggung jawab, lari dari masalah, tidak berani mengambil keputusan yang tidak populis dan cenderung mengorbankan bawahan.

Mungkin itu masih susah dipahami, agar lebih real maka contohnya adalah pemimpin yang kesukaannya menghadiri acara ke acara, lebih mengedepankan seremonial daripada tindakan nyata untuk rakyat, pencitraan adalah yang utama, selalu ingin dihormati dimana-mana, pandai mengobral janji dan semua sifat narsis lainnya.

Dimensi kedua adalah Machiavellianisme (Mach). Istilah ini untuk menghormati penulis politik Niccolo Machiavelli, yang menulis Il Principe, buku pedoman abad ke-16 untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan melalui kelicikan dan manipulasi. Pemimpin dengan Mach ini tidak narsis namun realistis terhadap dirinya karena tujuannya bukan untuk mengesankan orang. Namun, pemimpin seperti ini memperlihatkan egoisme yang tinggi dan tidak mau berhenti sebelum mencapai tujuan.

Prinsip pemimpin dengan Mach tinggi adalah tujuan membenarkan cara. Mereka tidak mau kehilangan jabatan dan kedudukannya. Segala cara ditempuh. Dia menyiapkan orang-orang yang mendukung di sekelilingnya, apakah itu saudara, orang dekat atau para kolega. Dengan demikian tujuannya bisa tercapai dengan mudah. Tipu menipu, kelicikan dan manipulasi dihalalkan. Saling lengser melengserkan orang dalam jabatan adalah tradisinya.

Dimensi ketiga adalah Psikopati. Pemimpin yang memiliki sisi gelap kepemimpinan seperti ini adalah pemimpin yang egoismenya lebih tinggi dari pemimpin dengan Mach. Tidak takut terhadap tekanan, tidak memikirkan apa yang dialami oleh rakyat yang penting jabatan dan kedudukukannya aman, tidak segan-segan untuk berkhianat dan menjatuhkan siapa saja yang menghalangi keinginannya untuk berkuasa.

Pemimpin seperti ini tidak peduli terhadap komentar publik, suara media maupun suara langsung melalui demonstrasi diabaikannya, ancaman hukuman sekalipun diabaikannya. Pemimpin seperti ini suka gonta-ganti partai politik karena sifat dasarnya cenderung berkhianat dan mempersalahkan orang lain.

Ketiga dimensi gelap kepribadian yang diangkat ini sama sekali bukan untuk menghakimi para pemimpin yang sedang memimpin di Pulau Nias saat ini. Tidak ada tendensi untuk itu. Akan tetapi lebih mengedepankan bagaimana masyarakat harus tahu kebiasaan para pemimpin dari masa ke masa bahkan sampai hari ini. Bahkan berlaku untuk siapa saja, karena orang tidak dilihat hanya pada saat dia mau mencalonkan diri tetapi dilihat dari perjalanan karirnya dari awal sampai saat ini. Dari rekam jejak inilah kita dapat melihat sisi gelap seseorang. Kekuasaan itu tidak hanya di pemerintahan saja, namun di perusahaan juga, di organisasi kemasyarakatan maupun oraganisasi keagamaan, bahkan dalam komunitas kekerabatan sekecil apapun dapat menunjukkan sisi gelap dari setiap orang.

Dari apa yang sudah diuraikan di atas sesungguhnya tampak adanya lingkaran setan antara kepribadian, kekuasaan dan korupsi. Masyarakat pemilih memiliki andil cukup besar jika sebuah kepemimpinan di daerah berhasil sesuai harapan publik atau juga gagal karena lebih didominasi oleh dimensi kegelapan sehingga menghasilkan kepemimpinan yang korup dan manipulatif.

Pintu Perubahan

Jangan salah untuk kedua kali dalam memilih pemimpin! Memilih dalam Pilkada ke depan ini adalah ibarat memberi kepercayaan kepada orang yang sebenarnya asing. Kita hanya mengenal mereka karena nama besar mereka, jabatan tinggi yang mereka miliki dan kekayaan mungkin. Sementara mereka memimpin dan mengendalikan hajat hidup kita selama lima tahun ke depan.

Selagi masih panjang waktu, kepada seluruh masyarakat di Pulau Nias kita jangan menutup mata dan telinga. Sekarang sudah mulai bermunculan calon baik petahana maupun kandidat baru, mari melihat, mempelajari dan menelaah rekam jejak mereka dari awal karir mereka hingga saat ini.

Pilkada adalah sebuah pintu yang terbuka lebar kepada masyarakat untuk menentukan pilihan yang terbaik untuk membawa Kepulauan Nias ini ke arah yang lebih baik. Secara pribadi jika saya melihat lima kabupaten/kota di Pulau Nias pasca pemekaran, baik pemekaran pertama yaitu Kabupaten Nias Selatan maupun pemekaran kedua yaitu Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli, kondisi ke lima daerah ini menjadi merata ketertinggalannya. Walaupun Kota Gunungsitoli dan Teluk Dalam sebagai ibukota Nias Selatan sudah sedikit lebih maju namun semuanya memiliki masalah-malasahnya sendiri yang harus diatasi dan masih jauh dari kata maju.

Sebagai sarana edukasi kepada masyarakat, pada kesempatan ini akan saya uraikan beberapa hal yang dapat membantu masyarakat untuk melihat dan menilai rekam jejak para calon kandidat kepala dan wakil kepala daerah di lima kabupaten/kota di Pulau Nias ke depan:

Integritas; pemimpin yang baik itu bisa dipercaya. Dipercaya karena apa yang dia katakan sama dengan apa yang diperbuat. Apa yang telah diniatkan diikuti dengan tindakan.

Kedermawanan; pemimpin yang baik itu gemar membantu. Tapi harus hati-hati dalam hal ini. Karena seorang calon akan bisa lebih dermawan berpuluh-puluh kali lipat pada saat masa kampanye. Itu beda. Kedermawanan dinilai dari cara hidup sehari-hari para kandidat tidak hanya pada hari-hari belakangan saja. Namun lebih dari pada itu yakni kedermawanan yang dilakukan ketika tidak ada media yang meliputnya, kedermawanan yang dilakukan dari hati untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Kedermawanan yang dilakukan bukan untuk pencitraan.

Keadilan; pemimpin yang baik itu adil dan bijak. Tak perlu jauh-jauh melihat calon pemimpin itu adil dan bijak, lihatlah apa yang dia lakukan terhadap keluarga dan kerabat-kerabat terdekatnya. Jika kepada Saudaranya saja dia tidak adil dan tidak bijak bagaimana untuk orang lain.

Diplomatis; pemimpin yang baik itu menangani konflik dengan baik. Semaksimal mungkin kita menghindari pemimpin yang lari dari masalah. Mari melihat lagi ke belakang bagaimana para kandidat pernah menyelesaikan masalah yang langsung bersentuhan dengan hajat hidup orang banyak.

Tegas; pemimpin yang baik itu membuat keputusan yang tepat sasaran dan tepat waktu. Jangan memilih pemimpin yang memble tetapi yang berani mengambil keputusan, baik itu populis maupun tidak. Selagi itu untuk kepentingan rakyat harus diputuskan.

Kecerdasan dan kompetensi; pemimpin yang baik itu membantu kinerja kelompok. Mari melihat para kandidat yang inklusif. Mau merangkul semua kelompok dan golongan. Bukan karena tim suksesnya, keluarganya, kerabat dan koleganya atau yang lainnya. Tetapi lebih kepada kemampuan dan kinerja akhir yang menjadi pertimbangan.

Visi; pemimpin yang baik itu bisa menjelaskan masa depan yang dikehendaki. Pilihlah pemimpin yang tahu permasalahan daerah, punya solusi, memiliki strategi untuk menindaklanjuti. Jika pemimpin cuma obral janji kosong belaka hindarilah.

Bagi kita masyarakat di Pulau Nias mari berprinsip. Mau berapa pun jumlah kandidat, jika kita memakai indikator di atas untuk menilai mudah-mudahan akan mendapatkan hasil yang baik. Karena perubahan ada di tangan kita. Korupsi dan keserakahan akan jabatan (Machiavellianisme) juga ditentukan oleh suara masyarakat. Karena kepemimpinan adalah berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat pula. Mari kita manfaatkan Pilkada, pintu perubahan yang sudah terbuka lebar di depan kita. [Fikar Damai S. Gea, masyarakat Nias tinggal di Gunungsitoli]

Related posts