PEMBANGKIT LISTRIK

PLTA di Luaha Ndroi Tak Berfungsi

PLTA di Desa Fulolo kecamatan Alasa Kabupaten Nias Utara yang dibangun NGO UNIDO dari dana bantuan BRR Aceh-Nias akiabt gempa (28/3/2005) silam. Kini tidak dapat dioperasikan lagi. Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat turunta tangan mengelolaanya demi mengatasi masalah kelanggaan listrik di desa itu. Sabtu (16/5/2015). Foto NBC/Onlyhu Ndraha.

PLTA di Desa Fulölö, Kecamatan Alasa, Kabupaten Nias Utara, yang dibangun lembaga UNIDO dari dana bantuan BRR Aceh-Nias, seperti tampak Sabtu (16/5/2015), kini tidak dapat dioperasikan lagi. Masyarakat berharap pemerintah daerah turun tangan mengelola PLTA itu untuk mengatasi krisis listrik di desa tersebut. | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

ALASA, NBC – Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Luaha Ndroi, Desa Fulölö, Kecamatan Alasa, Kabupaten Nias Utara, yang dibangun lembaga United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dari dana bantuan BRR Aceh-Nias pascagempa 28 Maret 2005 kini tidak berfungsi. Di tengah krisis daya listrik, masyarakat berharap PLTA tersebut dapat berfungsi kembali. Jarak pembangkit dengan air terjun Luaha Ndroi sekitar 100 meter.

Menurut Sekretaris Pengelola PLTA Augusman Hulu (39), pembangkit itu pernah dimanfaatkan 136 keluarga sejak 2008 hingga 2013. Namun, karena pengetahuan operator yang kurang dan terjadi banjir, terjadi arus pendek serta beberapa komponen rusak dan terbakar.

“Operator dan pengurus tidak punya keahlian untuk mengoperasikan alat itu,” kata Augusman, Sabtu (16/5/2015), di rumahnya, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi PLTA.

Setelah pembangunan PLTA yang menelan dana sekitar Rp 2 miliar itu, warga tidak diberi pelatihan tentang cara pengoperasian dan pengelolaan pembangkit itu. Pelatihan pernah difasilitasi oleh UNIDO di Surabaya pada 2008, tetapi yang datang ke pelatihan itu adalah pegawai Kecamatan Alasa. Setelah pelatihan, para pegawai itu tidak mengajari masyarakat mengenai pengoperasian dan pengelolaan PLTA.

“Yang ikut pelatihan semuanya pegawai, bukan penerima manfaat,” ujar Augusman.

Ketika PLTA berfungsi, lanjutnya, setiap pengguna membayar Rp 12.000 per bulan kepada pengelola. Dana itu digunakan, antara lain, untuk biaya pembelian oli serta insentif operator dan pengelola. Sisa dana dijadikan sebagai kas desa. Namun, sejak 2008 hingga 2013, jumlah warga yang membayar tidak sampai 75 persen.

Tidak Berfungsi Maksimal

Kini PLTA itu menyisakan dinamo, huler, turbin, dan gedung. Sementara pipa penyalur air tidak dapat berfungsi maksimal karena diterjang banjir. Dia berharap, Pemerintah Kabupaten Nias Utara turun tangan untuk memperbaiki PLTA itu guna mengantisipasi masalah listrik di Desa Fulölö. Sebab, tidak semua desa dialiri listrik negara dari Gunungsitoli.

Erwin Hulu, pemuda setempat, yang dijumpai NBC mengatakan, saat pembangkit itu berfungsi, warga desanya cukup senang dan terbantu mengatasi masalah penerangan. Ketiadaan pengetahuan operator menjadi penyebab PLTA itu rusak.

Dari pengamatan NBC, pipa yang mengaliri air ke turbin sepanjang sekitar 500 meter dan bangunan telah diselimuti semak, sedangkan di dekat bendungan pipa ambles. Di dalam bangunan tampak bekas kebakaran dari sejumlah komponen listrik. [NDH]

Related posts