PEMUNGUTAN SUARA

Pemilihan Presiden Mahasiswa STIE Nias Ricuh

Kericuhan mahasiswwa STIE Pembnas Nias saat pemungutan surat suara pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa di ruang lokal 8 STIE Pembnas Nias. Sabtu (9/5/2015). Foto NBC/Onlyhu Ndraha.

Pemungutan suara dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa STIE Pembangunan Nasional Nias, di ruang lokal 8 STIE Pembangunan Nasional Nias, Sabtu (9/5/2015), berakhir ricuh. | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

GUNUNGSITOLI UTARA, NBC — Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa (Presma) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan Nasional Nias, Sabtu (9/5/2015), berakhir ricuh. Berdasarkan tata tertib, pasangan dengan suara terbanyak yang akan ditetapkan sebagai pemenang. Calon dengan nomor urut 1 adalah pasangan Martinus Lase dan Leni Kristiani Waruwu. Calon bernomor urut 2 adalah Krisman Telaumbanua dan Simeon Alvian Zebua. Calon bernomor urut 3 adalah pasangan Junirawati Zebua dan Benoni Harefa.

Dari pengamatan NBC, seusai penghitungan surat suara di tempat pemungutan suara (TPS) 1, terjadi kelebihan 1 suara. Pendukung masing-masing mulai ribut. Namun, saksi sepakat agar penghitungan suara dilanjutkan di TPS 2.

Menjelang penghitungan di TPS 2, pasangan Krisman Telaumbanua-Simeon Alvian Zebua meminta pendukungnya meninggalkan lokasi penghitungan suara.

“Ayo kawan-kawan, kita tinggalkan proses penghitungan ini. Biarkan panitia menjalankan sendiri,” ujar Krisman sambil meninggalkan lokasi, disusul timnya.

Di luar ruangan, Krisman melewati kerumunan mahasiswa yang saling dorong. Ia kecewa atas tindakan mereka itu. Petugas satuan pengamanan STIE pun langsung melerai. Alhasil, panitia memutuskan untuk memberhentikan proses penghitungan suara dan menyarankan bahwa yang menang adalah pasangan dengan perolehan suara terbanyak.

Terpaksa Diberhentikan

Ketua Panitia Presma Yaseroro Zendrato kepada NBC membenarkan bahwa ada sekelompok mahasiswa yang ricuh saat penghitungan berlangsung. “Terpaksa kami berhentikan akibat kericuhan sekelompok mahasiswa yang ingin menggagalkan pemilihan presiden mahasiswa,” ujarnya.

Yaseroro melanjutkan, pada TPS 1 terdapat 400 surat suara dan yang digunakan 177 lembar. Pada TPS 2 terdapat 300 surat suara dan yang digunakan 164 lembar, sedangkan di TPS 3 ada 300 surat suara dan yang digunakan 195 lembar.

Setelah penghitungan di TPS 1, calon dengan nomor urut 1 memperoleh 10 suara, calon bernomor urut 2 meraih 58 suara, dan calon bernomor urut 3 memperoleh 73 suara. Adapun suara batal sebanyak 37 suara.

“Di TPS 2, surat suara masih belum selesai dihitung, mahasiswa sudah ricuh,” kata Yaseroro kesal.

Walau di TPS 2 dan TPS 3 tidak semua surat suara dibuka, lanjutnya, berdasarkan tata tertib pasal 9, apabila situasi ricuh, yang dinyatakan sebagai pemenang pada Presma adalah pasangan dengan suara terbanyak. “Ada tata tertib yang sudah ditandatangani Pembantu Ketua III,” ucap Yaseroro. [NDH]