JENDER

Moyo, Tarian Pembebasan Perempuan

Beberapa perempuan Nias menarikan tari moyo di suatu acara pergelaran budaya Nias di Solo, Jawa Tengah. | Foto: mansixgea.blogspot.com

Beberapa perempuan Nias menarikan tari moyo di suatu acara pergelaran budaya Nias di Solo, Jawa Tengah. | Foto: mansixgea.blogspot.com

Oleh Formas Juitan Lase

NBC — Artikel yang dimuat NBC (27/10/2014) berjudul “Tari Moyo dan Perempuan Nias” cukup menarik perhatian pembaca. Itu karena masyarakat kita masih melihat tari moyo sebagai sebuah tradisi yang sakral dan mengandung nilai-nilai magis. Sementara pendapat lain tak lebih sebagai upaya mengeksotiskan tarian tersebut sehingga pesan moral yang terkandung di setiap gerakan tarian tak luput digaungkan untuk dilestarikan dari gerusan budaya populer.

Sayangnya, tak ada dari perempuan para pelakon tari moyo itu yang bersuara. Padahal, tari moyo dan perempuan menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Lebih lagi tarian yang mencerminkan ketangguhan itu hanya bisa dilakukan oleh perempuan. Bukan laki-laki. Namun, kenyataannya, tari moyo justru menjadi entitas yang terpisah dari perempuan Nias. Moyo tetap saja berada di angkasa. Tak akan pernah bisa membumi menyentuh semangat perempuan Nias. Dalam bahasa Nias, moyo adalah burung elang.

Tari moyo semestinya dimaknai sebagai identitas dan kebebasan perempuan Nias dari segala macam represi dan diskriminasi sosial-kultural yang lebih banyak berpihak kepada laki-laki ketimbang perempuan. Kesempatan untuk memilih dan menentukan hidup, lebih banyak diberikan kepada laki-laki. Sementara perempuan yang terbaik baginya adalah yang dipilihkan untuknya.

Diskriminasi Perempuan

Sekian lama budaya memosisikan perempuan sebagai warga kelas kedua. Simone de Beauvoir (1974) menyebutnya sebagai yang Liyan (the other). Perempuan tak kan pernah bisa sejajar dengan laki-laki. Laki-laki selalu diposisikan lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.

Budaya kita juga melakukan hal demikian. Budaya patriarki yang kita anut mendefenisikan perempuan secara parsial. Termasuk dalam tindak perilaku hingga keputusan-keputusan yang menentukan masa depannya, diputuskan berdasarkan kehendak laki-laki.

Kita tidak boleh tutup mata, masih banyak perempuan yang direpresi oleh laki-laki. Baik posisi dalam pernikahan maupun dalam keluarga sebagai istri dan anak. Kita juga patut menyadari bahwa banyak perempuan yang tidak mengenyam pendidikan karena kesempatan itu lebih besar diberikan kepada laki-laki.

Sistem perkawinan juga merupakan salah satu jalan masuk represi dan kekerasan terhadap perempuan. Penerapan böwö dalam pengertian ‘mahar’ yang sesuai fondrakö (hukum adat) mestinya tidak ditanggung oleh pihak laki-laki saja karena ini menimbulkan  bencana. Böwö ini menandai perempuan sebagai barang belian (komoditas) sehingga bisa diperlakukan sekehendak laki-laki.

Ini tidak main-main. Banyak perempuan yang akhirnya mengalami kekerasan dalam rumah tangga karena pola pikir semacam ini. Data kasus kekerasan terhadap perempuan dari Perkumpulan Sada Ahmo (Pesada) Nias pada tahun 2010 menyebutkan, dari lima kasus bertambah menjadi 12 kasus pada tahun 2011 (NBC, 6/3/2012).

Budaya kita mengajarkan bahwa ketika perempuan menikah, perempuan otomatis menjadi milik (kekuasaan) suaminya, sehingga harus patuh dengan kehendak suami. Kalaupun mengalami kekerasan, perempuan tabu membicarakannya apalagi melaporkannya karena itu aib keluarga yang harus ditutupi demi menjaga kehormatan suaminya.

Selain kekerasan, kesempatan untuk mengenyam pendidikan juga lebih banyak berpihak kepada laki-laki. Tak mengherankan jika kehadiran bayi laki-laki lebih diharapkan daripada perempuan karena laki-laki merupakan ahli waris keluarga. Perempuan justru dimitoskan, tak perlu sekolah karena akan mendapat “bagian” dari suaminya.

Perempuan dimitoskan sebagai ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya. Sementara semua energi yang dimilikinya diarahkan untuk kepentingan orang lain. Sementara kepentingan dan kemajuan dirinya diabaikan. Yang lebih parah lagi, perempuan dimitoskan lahir bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan laki-laki (Frieden, 1974).

Ketidakberpihakan pendidikan perempuan akhirnya berimbas pada maraknya perkawinan usia dini. Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Nias pada 2005 mencatat, sekitar 1.600 anak perempuan yang menikah pada usia dini berusia antara 10-18 tahun (Langitperempuan.com, 23/12/2008).

Celakanya, banyak perempuan tidak sadar dengan bentuk-bentuk represi dan diskriminasi tersebut. Karena perempuan lahir, diajar, dan dididik dalam budaya laki-laki, budaya patriarki. Kondisi perempuan ini dinaturalisasi sebagai kodratnya. Seolah apa yang terjadi adalah sesuatu yang terberi (given). Sesuatu yang alami dan tak perlu dipertanyakan lagi.

Moyo: Kebebasan Perempuan

Perempuan Nias sebenarnya bisa mengambil nilai-nilai yang diajarkan dalam tari moyo, terutama dalam menjalani kehidupannya. Sebetulnya, jika dihidupi dengan sebaik-baiknya, ada nilai-nilai kebebasan dan kemandirian yang bisa dijadikan sebagai pandangan hidup perempuan Nias.

Asal usul tari moyo mempunyai banyak versi. Ada yang menyebutkan bahwa awal mula terciptanya tari moyo muncul ketika Sirao melompat dan menari di ujung tombak Burusa yang tertancap di bukit Gomo Sihayahaya, Gomo Sidela I’a. Tarian Sirao yang seperti seekor burung elang menari dengan mengepakkan sayap dan melayang di udara inilah yang menjadi cikal bakal tari moyo. Cerita lainnya juga menyebutkan bahwa tari moyo berasal dari kerinduan seorang pengantin perempuan yang ingin bebas seperti elang yang terbang ke sana ke mari. Namun, esensinya sama. Berkisah tentang kebebasan perempuan (NBC, 27/10/2014).

Namun, di balik itu, makna tarian moyo mengajarkan perempuan Nias untuk bisa keluar dari represi dan tragedi yang sudah dituturkan sebelumnya. Perempuan memiliki hak untuk menentukan hidupnya, menentukan masa depannya, punya hak untuk menyuarakan pendapatnya. Perempuan juga bebas memilih suaminya dan berhak mengenyam pendidikan yang setinggi-tingginya.

Yang perlu diingat dan digaungkan adalah eksistensi tari moyo yang tidak hanya mengakar pada bentuk-bentuk ritualistik, tetapi turut menyatu dalam segala sendi kehidupan perempuan Nias. Tari moyo dan perempuan Nias diibaratkan menjadi satu kesatuan seperti jiwa dengan raga. Menjadi identitas perempuan Nias yang bebas dari diskriminasi, penindasan, dan bebas dari keterbelakangan pendidikan.

Moyo memberikan kesan tangkas dan perkasa. Dua sifat tersebut sering dilekatkan dengan maskulinitas. Namun, meski kebebasan perempuan tidak semata-mata diukur dari nilai-nilai maskulinitas, tetapi moyo bisa menjadi cara untuk meraih kebebasan itu melalui internalisasi makna dan semangat moyo itu sendiri. Tampaknya sederhana, tetapi di dalamnya tersirat keberanian, ketangkasan, kegigihan, optimisme, ketekunan, kewibawaan, serta keanggunan yang bisa menjadi roh perempuan Nias. Karena itu tari moyo diharapkan tidak hanya tenggelam dalam konstruksi budaya dan didefenisikan dalam ketentuan-ketentuan kultural dan estetika semata.

Pada akhirnya upaya yang mesti dilakukan adalah mengubah cara pandang perempuan Nias. Berhenti menerima hidupnya sebagai pelengkap dan pendamping laki-laki, berhenti pada mitos bahwa pendidikan tinggi adalah milik laki-laki, dan berhenti bahwa perempuan harus lebih banyak mengalah pada kepentingan laki-laki.

Pernyataan saya ini mohon tidak disalahpahami. Saya tidak mengatakan bahwa segala sesuatu yang menyebabkan represi dan keterbelakangan perempuan Nias disebabkan oleh ulah laki-laki. Tidak. Namun, saya ingin mengatakan bahwa budaya kita, budaya patriarki hasil bentukan masyarakat kita lebih banyak berpihak kepada laki-laki dibandingkan kepada perempuan. Dan, laki-laki turut mengamini dan berkontribusi melanggengkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan ini.

Padahal, perempuan dianugerahkan kemampuan yang sama dengan laki-laki. Kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk mengemukakan pendapatnya, kemampuan untuk mengambil keputusan. Karena itu, melalui semangat tari moyo ini ingin mengajak perempuan Nias untuk berani menolak jika nilai-nilai dan adat budaya memaksakan perempuan dalam kondisi yang represif. Jika terjadi kekerasan, baik kekerasan fisik maupun simbolik, segera laporkan. Jangan didiamkan agar pihak yang berwenang dapat mengambil tindakan.

Juga kesempatan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi harus dibuka seluas-luasnya. Karena sudah saatnya perempuan Nias maju dan berani menentukan masa depan dan menggenggam mimpinya. Seperti moyo yang terus mengangkasa. [FORMAS JUITAN LASE]

Related posts