DUGAAN KORUPSI USBM

Mahasiswa Korban USBM Terkena Pukulan Polisi, 1 Orang Dirawat

AvDvHTE77XDHORekbvc3Eg_jdNvvTL_jxFCJs6OZorW_

Aksi saling dorong antara mahasiswa dan polisi di depan Kantor Kejaksaan Negeri, Selasa (5/5/2015). | Foto: Seiman Lase

TELUKDALAM, NBC — Selasa (5/5/2014) sekitar pukul 11.00, ratusan mahasiswa kembali mendatangi Kejaksaan Negeri Telukdalam guna melanjutkan tuntutan mereka setelah dua hari sebelumnya mereka berunjuk rasa agar kejaksaan negeri menuntaskan kasus USBM. Kedatangan mahasiswa dihadang oleh polisi di pintu pagar kantor Kejari Telukdalam.

Terjadi adu mulut antara mahasiswa dan polisi. Mahasiswa mencoba memaksa masuk di Kejari, tetapi tetap dihadang oleh polisi. Aksi saling dorong pun tak terhindarkan.

Saat itu, mulai terjadi kericuhan, seorang anggota polisi bernama Briptu Anggito Sianipar memukul salah seorang mahasiswi bernama Merimawati Ndruru. Akibatnya, pipi sebelah kiri Merimawati memar. Mahasiswa lain, Yusminar Sarumaha juga kena pukulan salah seorang polisi.

Kericuhan sempat mereda. Koordinator mahasiswa meminta mahasiswa lainnya mengurus temannya yang terkena pukulan polisi. Kedua korban pemukulan polisi itu dibawa ke RS Lukas. Saat itu, pihak RS Lukas menolak untuk merawat kedua korban dengan alasan takut memberikan keterangan visum atas insiden itu. “Kami tidak bisa mengeluarkan visum tanpa surat keterangan dari polisi,” ujar salah seorang perempuan dokter RS Lukas.

Setelah mendapatkan pengobatan, kedua korban pemukulan pun kembali bergabung dengan teman-teman mereka berdemo di depan kantor Kejari. Pendemo terus berorasi menyuarakan tuntutan mereka kepada kejaksaan negeri untuk segera menyelidiki secara tuntas dugaan korupsi di program USBM serta segera menetapkan tersangka lainnya.

Pukul 12.30, mahasiswa makan siang dengan memesan nasi bungkus di luar pagar Kejari.

Pada 13.30, mahasiswa mulai melempari kantor Kejari Telukdalam dengan telur busuk.

Entah siapa yang memprovokasi, ada dari antara pendemo melempari kantor Kejari dengan batu. Lemparan tersebut mengenai beberapa personel Polres Nisel yang berada di halaman kantor Kejari. Akibatnya, petugas kepolisian pun emosi dan mengejar para pendemo.

Dari keterangan koordinator demo, pelempar batu yang mengenai petugas polisi sama sekali mereka tidak ketahui sumbernya. “Kami hanya punya telur yang kami siapkan sebelumnya. Kami menduga ada provokator yang sengaja melempari polisi, agar polisi marah dan kami dibubarkan,” ujarnya.

Saat itu, polisi pun langsung mengamankan 4 pendemo dari jalan raya. Sekitar pukul 14.00, mahasiswa diamankan di kantor Kejari.
Terlihat polisi memukuli mahasiswa dengan berulang-ulang.

Penangkapan pendemo itu menyulut emosi mahasiswa terus melakukan aksi di luar kantor Kejari. Pagar Kejari sudah ditutup. Setelah bernegosiasi dengan pihak polisi yang dikomandoi Wakapolres Nisel Salati Zalukhu, beberapa perwakilan massa memasuki kantor Kejari untuk meminta Polres segera membebaskan temannya. Mahasiswa, polisi dan Kejari berdialog di ruangan keempat mahasiswa diamankan.

Perwakilan mahasiswa dan polisi bersepakat, mahasiswa yang sudah ditangkap akan dibebaskan asal mahasiswa membubarkan diri. Setelah tercapai kesepakatan itu, 4 mahasiswa dilepas. Mereka dilepas pada pukul 15.30. Menghargai kesepakatan itu, massa kemudian membubarkan diri dan membawa Disiplin Luahamböwö, koordinator demo, ke RS Lukas. Disiplin Luahamböwö adalah salah seorang korban USBM. Sekarang Disiplin menjabat sebagai Ketua BEM STIH Nias Selatan. Dia juga aktivis Divisi Hukum Pospera.

Pada saat kericuhan itu, polisi mengeluarkan dua kali tembakan peringatan. Saat ini, Disiplin masih dirawat di RS Lukas dan belum sadarkan diri. Disiplin mengalami luka di bagian kepala dan pelipis kiri.

Setelah dikonfirmasi melalui via telepon, Kajari Telukdalam mengaku belum siap menerima massa mahasiswa dengan alasan bahwa dia belum ada persiapan. [SEI/HER]

Related posts