DUGAAN PENGGELAPAN

Hakim Kembalikan Berkas Perkara Sumangeli kepada Penyidik

Sukari Buulolo

Pelapor Sukari Bu’ulölö, STh, saat memberikan keterangan di depan pengadilan. Ia harus dibantu saat pindah dari kursi roda karena kakinya cedera. | Foto: NBC/Iman Jaya Lase

GUNUNGSITOLI, NBC – Kasus dugaan penggelapan uang salah seorang anggota koperasi pada tahun 2012  sebesar Rp 30.000 yang melibatkan salah seorang anggota KPU Nias Selatan, Sumangeli Mendröfa, disidangkan sekaligus vonis, Kamis (28/5/2015). Karena dianggap termasuk tindak pidana ringan (tipiring) dan tidak memenuhi prosedur hukum, kasus tersebut dikembalikan kepada Polres Nias Selatan. (Baca: Gara-gara Rp 30.000, Sumangeli Dijadikan Tersangka)

Sidang perdana yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Gunungsitoli itu dipimpin majelis hakim Kennedy P. Sitepu dan dihadiri oleh pihak penyidik dari Polres Nias Selatan Ipda Ajis Girsang.

Dijelaskan Ajis Girsang, karena merupakan kasus tindak pidana ringan, sidang perdana tersebut tidak melibatkan Kejaksaan Negeri Telukdalam dan proses sidang hanya dilakukan sekali saja yang hasil putusan langsung dibacakan oleh majelis hakim pada hari itu juga.

Penyidik pernah menyerahkan berkas kasus itu kepada Kejaksaan Negeri Telukdalam, tetapi dikembalikan karena tidak memenuhi syarat dan diusulkan langsung ke pengadilan. (Baca: Kejari Telukdalam Belum Terima Pernyempurnaan Berkas Sumangeli)

Sidang juga menghadirkan pelapor, Sukari Bu’ulölö, STh. Sukari terlihat menggunakan kursi roda dengan kaki sebelah kanan dibalut perban.

Selain itu, persidangan juga menghadirkan saksi-saksi, yaitu Sukari Bu’ulölö (saksi korban), Abiziduhu Halawa, Amonaha Halawa, Sopani Ndruru, SS (PNS/mantan Kasek SMK Negeri 3 Lölöwa’u), Kariawan Laia, S.Th (abang dari Bendahara Koperasi), Sekedar Waruwu (Wakil Ketua Koperasi). Tiga saksi lainnya, yaitu Kasihani Laia, S.Pd (Bendahara), Ya’atulö Warae (Mantan Kepala SMP Negeri 3 Lölöwa’u), dan Titian M. Gulö (mantan siswa SMP Negeri 3 Lölöwa’u, tidak hadir dalam persidangan itu.

Kesembilan saksi tersebut telah memberikan keterangan kepada penyidik Polres Nias Selatan dengan BAP yang disampaikan di pengadilan. Resume BAP itu dibacakan oleh Ajis Girsang.

Dalam tuntutannya, pihak penyidik dari Polres Nias Ipda Ajis Girsang menyampaikan bahwa Sumangeli Mendröfa sebagai terdakwa yang saat itu sebagai wakil ketua koperasi sengaja menggelapkan uang sebesar Rp 30.000 dengan tidak mengembalikan kepada salah seorang anggota koperasi atas nama Sukari Bu’ulölö.

“Saat itu terdakwa tidak mengembalikan uang salah seorang anggota koperasi dengan alasan kepada para anggota koperasi untuk makan bersama. Namun, (acara makan-makan itu) tidak pernah terlaksana. Saat pelapor menagih uang koperasinya tidak pernah dikembalikan,” kata Ajis Girsang.

Sidang yang dimulai pukul 15.10 tersebut baru selesai pada pukul 20.30. Sidang sempat diskors dua kali.

Sanggah Keterangan di BAP

Di depan hakim, tiga saksi, yaitu Sopani Nduru, Kariaman Laia, dan Amonaha Halawa, menyanggah semua keterangan yang mereka berikan saat diperiksa oleh penyidik Polres Nias Selatan.

Setelah resume BAP dibacakan, Sumangeli menyampaikan keberatan terhadap keterangan para saksi yang dibacakan oleh Ajis.  “Apa alasan saudara mengatakan bahwa saya telah melakukan penggelapan uang milik Sukari,” tanya Sumangeli kepada tiga saksi, yaitu Sopani, Kariaman, dan Amonaha.

“Saya tidak tahu jika Sumangeli telah melakukan penggelapan uang korban Sukari Bu’ulölö. Saya hanya tahu setelah dipanggil oleh penyidik Polres Nias Selatan dari laporan pelapor,” ujar Sopani. Hal yang sama juga disampaikan Kariaman dan Amonaha.

Dalam keterangannya yang dibacakan oleh penyidik bahwa mantan siswa SMP Negeri 3 Lölöwa’u, Titian M. Gulö, mengatakan bahwa koperasi telah dibubarkan dan uangnya sudah dikembalikan oleh Pengurus Koperasi kepada para anggota.

Sekadar Waruwu, Wakil Ketua Koperasi, mengatakan bahwa uang koperasi itu ada di tangannya. Pada 14 Februari 2012, Kepala Sekolah menyerahkan uang kepada Ketua Koperasi Sumangeli Mendröfa. Kemudian pada 18 Februari 2012, Sumangeli menyerahkan uang tersebut kepada Sekadar Waruwu untuk dibagikan kepada kepada para anggota.

“Bukti penyerahan uang sebesar Rp 5.312.000 itu ada pada saya dan sudah uang itu sudah saya bagi-bagikan kepada anggota. Saya tidak tahu apakah Sukari Bu’ulölö belum menerima uangnya, sebab itu sudah berlangsung dua tahun lalu, dan yang bersangkutan tidak pernah menagih. Saya menganggapnya telah dibayarkan. Saya heran, mengapa justru Sumangeli yang dituduh menggelapakan uangnya,” ujar Sekadar Waruwu dalam persidangan itu.

Sementara itu, Sekadar Waruwu juga menyampaikan kepada majelis hakim bahwa selama dia diperiksa, ia berada di bawah tekanan dan dibentak-bentak. “Penyidik juga membujuk saya agar kuintansi penerimaan uang antara saya dan Sumangeli dianggap tidak ada,” ujar Sekadar sambil memperdengarkan rekaman penyidikan terhadap dirinya yang berdurasi hampir 6 jam.

Pada putusannya majelis hakim Kennedy P. Sitepu tidak memberikan vonis bersalah ataupun sebaliknya. Hakim memutuskan mengembalikan berkas perkara ke Polres Nias Selatan. Hakim menyatakan bahwa tuntuntan yang diberikan kepada terdakwa tidak tepat. Penyidik menuduhkan KUHP Pasal 372 dengan ancaman 4 tahun. Sementara kasus yang dituduhkan kepada terdakwa adalah KUHP Pasal 205 karena kerugian hanya Rp 30.000 dengan ancaman hukuman 3 bulan penjara.

Hal lain menjadi pertimbangan hakim, seperti diatur dalam Pasal 205 KUHP tersebut, selambat-lambatnya 3 hari setelah pembuatan BAP selesai kasus tersebut diserahkan ke pengadilan. Akan tetapi, faktanya, kasus dugaan penggelapan ini telah berlangsung selama berbulan-bulan. Sukari melaporkan Sumangeli ke Polres Nias Selatan pada 6 Oktober 2014.

“Menyatakan berkas perkara atas nama Sumangeli Mendrofa dikembalikan ke Polres Nias Selatan dan semua biaya perkara ditanggung oleh negara,” kata Kennedy P. Sitepu.

Untuk diketahui, akibat penersangkaan dirinya, Sumangeli harus rela melepas jabatannya sebagai Ketua KPU Nias Selatan (Baca: Berstatus Tersangka, Ketua KPU Nias Selatan Diganti). Adapun pihak Polres Nias Selatan belum menyatakan sikap terkait hasil sidang tersebut.  [MAN]

Related posts