Ditinggal Orangtua, Bocah Ini Dipaksa Bekerja oleh Tantenya

LH saat dijemput

LH (10) saat dijemput oleh tim PKPA Nias dari rumahnya di Laowöwaga, Kecamatan Lahewa Timur, Kabupaten Nias Utara, Kamis (21/5/2015). | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

LAHEWA TIMUR, NBC – LH, bocah perempuan berusia 10 tahun, diduga dieksploitasi oleh tantenya sendiri sejak 4 tahun silam di Desa Laowöwaga, Kecamatan Lahewa Timur, Kabupaten Nias Utara. Setiap hari, anak yang ditinggal meninggal oleh ayahnya dan ditinggal pergi oleh ibunya, ini hanya diberi makan kerak nasi dan mulai kerja pukul 05.00 hingga 21.30. Tim dari Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) dan Polsek Lahewa membawa LH ke kantor PKPA untuk mendapatkan hak-hak layaknya sebagai seorang anak.

Anggota tim advokasi PKPA Nias, Berkati Ndraha, kepada NBC, Rabu (20/5/2015), mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi adanya bocah yang hak-haknya tidak diberikan oleh saudara kandung ayah LH dari masyarakat dan setelah ditemukan, sekujur tubuh korban tampak bekas pukulan dan luka bakar.

“Melihat fisik LH tidak sebanding dengan umurnya yang sudah mencapai 10 tahun. Sedikit kerdil akibat dipekerjakan melebihi waktu. Ada beberapa bekas luka di tubuh LH,” kata Berkati di lokasi kejadian.

Menurut Berkati, perlakuan MH, tante LH, patut diduga telah melanggar Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Karena itu, pihaknya memindahkan LH ke PKPA dibantu personel Polsek Lahewa untuk mendapatkan hak yang layak sebagai anak. “Kalau sudah di PKPA, nanti kami mencari solusi agar LH bisa sekolah”.

Saat tim PKPA datang, LH tidak ada di rumah. Ia sedang berada di kebun. Tim PKPA dan Polsek pun terpaksa menunggu beberapa saat.

Dipukuli

Menurut pengakuan LH kepada NBC, hampir setiap hari dia selalu menerima pukulan, apalagi jika tidak bekerja. “Aku dibangunkan pukul 05.00, langsung kerja memberi makanan ternak babi. Jika sudah terang disuruh kerja ke ladang mengambil daun ubi, menyiangi kebun nilam atau menderes karet. Pada pagi tidak diberi makan, hanya siang dan itu yang diberi kerak nasi. Kalau sore memberi makan ternak. Setelah itu memasak, pernah saat memasak nasinya tidak masak seutuhnya, tanteku memukuliku dengan mengambil bara api dan memberikan di lengan kananku. Aku hanya menangis,” ujar LH dengan bahasa Nias sambil terbata-bata.

LH menunjukkan bekas luka bakar dan luka bekas pukulan tubuhnya, di kepala bagian depan terdapat bekas luka pukulan. Di leher juga terdapat bekas luka seperti terkena sayatan benda tajam, bekas luka bakar di 4 tempat di lengan kanan, 2 tempat di lengan kiri. 2 tempat di paha sebelah kiri. Ada juga bekas luka di jari kedua tangan akibat tersayat saat mengiris makanan ternak.

LH hanya berharap dia bisa keluar dari rumah tantenya dan mendapatkan hidup yang layak seperti anak lainnya. “Aku mau sekolah,” kata LH.

Di tempat yang sama, MH membantah tuduhan bahwa dirinya sering memukuli dan tidak memberi makan LH. “Aku memang pernah mencubitnya jika sering melawan. Bukan aku yang memberi dia makan kerak nasi, tetapi dia sendiri yang mau makan. Wajar jika saya mencubitnya untuk perbaikan masa depannya,” ujar MH.

Menurut MH, anak saudaranya laki-laki itu bisa tinggal di rumahnya sejak 6 tahun lalu saat ibu dari LH, Ina Idayu br Sialagan, pulang ke kampungnya di Tapanuli dan meninggalkan suaminya, Adisaba Halawa, yang sedang sakit.

“Saat sakit, abang saya menitipkan LH kepada saya dan meminta agar saya bisa membiayai pengobatannya di RSUD Gunungsitoli. Tapi, abang saya sudah meninggal sekarang. Jadi, LH menjadi anak saya juga,” kata MH.  [NDH]

Related posts