PROFESI DOKTER

Tangisan Seorang Dokter dan Dampaknya

profesi-dokter111

Ilustrasi

Oleh Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM.

NBC — Berbagai diskusi telah dilakukan untuk membahas mengenai model penempatan dokter di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) supaya terjadi pemerataan tenaga dokter sehingga derajat kesehatan masyarakat Indonesia semakin terpelihara dengan baik. Artinya, bisa terjadi pemerataan tenaga dokter di daerah-daerah, baik di daerah Jawa maupun daerah di luar Jawa. Hal ini tentu bukanlah pekerjaan yang mudah.

Salah satu kebijakan pemerintah yang sudah berjalan selama ini adalah penempatan dokter yang baru lulus, menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) pemerintah dan ditempatkan di daerah-daerah yang masih minim jumlah dokter dan yang akses pelayanan kesehatan masih jauh dibandingkan dengan kota. Mengapa penempatan dokter PTT ini menjadi sangat penting bagi daerah? Supaya daerah itu dapat mendapatkan tenaga dokter, minimal dokter umum. Lebih baik lagi kalau di daerah itu terdapat beberapa dokter yang sudah lulus spesialis, seperti dokter spesialis anak, spesialis obsgyn, spesialis bedah, dan spesialis penyakit dalam.

Barangkali jika tidak ada kebijakan dokter PTT dari pemerintah, mungkin dokter tidak ada yang berpraktik di daerah. Semua dokter umum dan atau dokter spesialis pasti memilih tempat praktik di kota yang jumlah penduduknya banyak.

Pertanyaannya adalah mengapa dokter lebih memilih praktik di kota dan di lingkungan yang padat penduduknya? Karena semakin padat penduduk, biasanya semakin banyak jenis penyakit yang diderita. Contoh, penyakit demam berdarah, penyakit gula, penyakit sesak napas, dan beberapa jenis penyakit lainnya.

Perlu diketahui bahwa seorang dokter bisa praktik/kerja mandiri sehingga ada kecenderungan bahwa dokter itu buka praktik di tempat yang banyak penduduk, terutama di kota-kota besar. Di kota banyak terdapat rumah sakit dan juga banyak puskesmas. Dengan demikian, akan banyak pasien yang bisa ditangani dan diobati oleh dokter. Semakin banyak pasien yang ditangani dokter, biasanya dokter semakin memiliki kecakapan dalam mengobati pasien pada masa yang akan datang. Semakin banyak kasus penyakit yang diderita pasien akan semakin meningkatkan kualitas dokter dalam menangani dan mengobati pasien.

Selain yang disebutkan di atas, masih ada alasan yang membuat dokter sangat senang berpraktik di kota, yaitu menyangkut pendidikan anak-anaknya serta dapat memperoleh tempat hiburan bagi keluarga besarnya. Akan tetapi, yang jelas, terdapat banyak perbedaan antara keadaan di kota dengan keadaan di desa. Saya berharap Anda dapat menangkap dan memahami mengenai apa yang saya maksud pada beberapa hal yang saya ungkapkan di atas.

Berdasarkan kondisi ini, tidak mengherankan jika di beberapa daerah, pemerintah daerah berjuang keras untuk mendapatkan dokter umum dan dokter spesialis bahkan dokter subspesialis untuk bisa ditempatkan di daerahnya. Pemerintah daerah tidak segan-segan memberikan insentif kepada dokter yang berkenan praktik di daerahnya.

Pada umumnya insentif yang diberikan pemerintah daerah kepada dokter yang mau berpraktik di daerahnya berupa pemberian rumah dinas, kendaraan dinas, listrik dan air, biaya transportasi pulang-pergi jika sang dokter rindu pulang kampung tempat kelahiran, dan honor tambahan bagi sang dokter. Ini semua dilakukan pemerintah daerah supaya ada dokter yang mau berpraktik di daerahnya. Sebagai kata kuncinya adalah pemimpin di daerah itu sangat peduli pada kondisi kesehatan warganya.

Insentif untuk Dokter

Nah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Apa yang terjadi pada dokter kita yang berpraktik di Nias Selatan? Menurut NBC tanggal 26 Maret 2015, dokter yang bekerja di lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan, dr. Fanny Hondrö, Sp.A, menangis saat menyampaikan tuntutan soal gajinya yang belum dibayarkan selama 2 bulan dan dana kapitasi melalui kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sejak Januari 2014. Tentu berita ini sangat menyedihkan dan mungkin bisa dikatakan kurang manusiawi.

Betapa tidak, dokter diminta bekerja terus melayani masyarakat, tetapi pendapatannya malah tidak jelas, alias tidak dibayarkan. Sungguh perlakuan yang sewenang-wenang. Ini dokter lho. Dokter itu sebuah profesi yang sudah diakui dunia dan juga diakui profesi yang sangat mulia.

Di daerah lain, pemerintah daerah berusaha keras agar banyak dokter yang mau berpraktik di daerahnya, dengan menyediakan berbagai fasilitas. Sementara di tempat kita malah sebaliknya, sudah bersedia berpraktik di Nias Selatan (mungkin karena cinta daerahnya), tetapi justru kurang mendapat perhatian yang berwenang, sampai-sampai gaji dan dana kapitasi tidak dibayarkan, alias ditunda pembayarannya kepada dokter. Bahkan diminta untuk mencari tempat kerja lain. Berdasarkan hal di atas, tentu perlu dipertanyakan mengenai manajemen keuangan daerah sehingga insentif dan gaji para dokter menjadi tidak jelas.

Saya menangis atau Anda menangis mungkin hanya berdampak pada diri sendiri. Akan tetapi, kalau sampai dokter menangis sangat memberikan dampak pelayanannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Dokter bekerja itu selalu dengan hati yang tenang, nyaman, dan lingkungan kerja yang mendukung sehingga setelah mendengarkan keluhan dan informasi dari pasien, mereka segera memutuskan saat itu juga mengenai terapi atau tindakan yang perlu diberikan dan yang sesuai kondisi penderita. Tindakan itu mempercepat kesembuhan pemyakit yang diderita pasien.

Profesi Dokter

Sangat beda dengan profesi seperti kita di luar dokter. Suatu pekerjaan mungkin  bisa ditunda atau tunggu wangsit, mungkin pengaruhnya masih bersifat badaniah, yaitu mungkin akan mendapatkan amarah dari atasan kita jika pekerjaan itu tertunda. Namun, kalau dokter menunda pengobatan pasien, taruhannya nyawa. Apa nyawa kurang bernilai bagi Anda? Selama kita bisa berpikir secara normal, selama nyawa ada di badan, kita bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita dan bagi orang lain. Akan tetapi kalau nyawa sudah berpisah dari badan, selesailah sudah pekerjaan kita selama-lamanya.

Untuk itu, saya mengajak kita sekalian untuk berpikir jernih. Hargailah profesi dokter karena dokter sangat dibutuhkan masyarakat. Jangan biarkan air mata seorang dokter bercucuran, tetapi akuilah bahwa profesi dokter itu sangat mulia sehingga dengan itu tidak perlu lagi menunda pembayaran gaji dokter beserta dana kapitasinya (sesuai dengan besaran yang telah menjadi haknya). Kalau perlu tambahkan insentif kepada dokter yang mau berpraktik di daerah sehingga mereka termotivasi bekerja untuk menyehatkan masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Dokterlah yang bekerja keras untuk menyehatkan masyarakat. Dokter dan petugas kesehatan lainnya yang dapat mengurangi angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) di daerah. Merekalah yang bisa melaksanakan program keluarga berencana, termasuk yang berdiri di garis depan untuk menanggulangi dan mengobati berbagai penyakit yang telah menjadi momok menakutkan bagi masyarakat pada saat ini, seperti penyakit HIV/AIDS, stroke, TBC, kecanduan narkoba, dan lainnya.

Jangan sampai kita bekerja, yang hasil kerjanya hanya membuat dokter menangis lagi. Hargailah profesi dokter yang sangat mulia itu. Berilah dan ciptakanlah lingkungan kerja dokter yang bersahabat, aman dan nyaman. Berilah fasilitas alat dan fasilitas lainnya, yang dapat memberikan dorongan kepada para dokter untuk mau berbuat yang lebih baik lagi dalam upaya menyehatkan masyarakat kita. [Manahati Zebua, Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi]