PILKADA 2015

Publik Kecam Spanduk Tak Etis di Telukdalam

Pemasangan spanduk ini dikecam oleh warga masyarakat Nias Selatan, termasuk di media sosial. | Foto: NBC/Seiman Lase

Pemasangan spanduk ini dikecam oleh warga masyarakat Nias Selatan, termasuk di media sosial. | Foto: NBC/Seiman Lase

TELUKDALAM, NBC Pemasangan spanduk ucapan selamat dan sukses atas pencopotan Sumangeli Mendröfa dari Ketua KPU Nias Selatan, yang dipampang di beberapa tempat di Telukdalam dan Kecamatan Amandraya, dikecam oleh publik. Mereka menyayangkan muatan spanduk itu yang tidak memberikan pembelajaran politik yang baik bagi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Nias Selatan melalui Dinas Kesbangpol Nias Selatan diminta untuk melakukan penertiban terhadap spanduk itu.

“Sungguh luar biasa spanduk itu. Saya belum pernah melihat isi spanduk yang tidak etis itu sebelumnya. Ini benar-benar tindakan yang dapat merusak perpolitikan di Nias Selatan. Pergantian Ketua KPU merupakan hal yang rutin dilakukan dan sesuatu yang lumrah. Jadi, hal ini semestinya tidak perlu terlalu dibesar-besarkan,” ujar dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Nias Selatan Hasaziduhu Möhö, saat ditemui di ruang kerjanya Kampus STIH Nias Selatan, Rabu (22/4/2015).

Kemunculan spanduk ini, lanjut Hasaziduhu, justru semakin menegaskan dugaan masyarakat bahwa pemakzulan Sumangeli direncanakan (by design) oleh pihak-pihak tertentu. Hasaziduhu merasa heran kok tiba-tiba ada spanduk yang mensyukuri pencopotan seseorang dari jabatannya. Ia menyitir peristiwa memalukan dalam pemilu sebelumnya yang berujung pada pemecatan secara tidak hormat empat komisioner KPU Nias Selatan karena melanggar kode etik.

“Spanduk itu menunjukkan ungkapan kepuasan diri atau kelompok tertentu atas digantinya Ketua KPU Nias Selatan. Masyarakat pun kini menduga-duga, ini pasti sebagai usaha memuluskan ‘permainan’ pada pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) 2015 seperti kejadian sebelumnya. Saya melihat ada agenda yang cukup terstruktur untuk menyingkirkan Sumangeli dari jabatan Ketua KPU Nias Selatan sehingga dapat memuluskan permainan pada Pilkada mendatang,” kata Hasaziduhu.

Hasaziduhu berharap, cukup sudah yang telah terjadi di Nias Selatan seperti selama ini yang menjadi sorotan publik. Semua pihak diharapkan bisa menunjukkan kearifan dan kedewasaan berpikir dan bertindak sehingga suasana bisa kondusif dan Nias Selatan bisa terbebas dari berbagai cap atau stigma negatif.

Hal senada juga disampaikan oleh seorang hamba Tuhan yang tidak ingin disebutkan namanya. “Seperti dagelan politik taman kanak-kanak dan belum ada kedewasaan dalam percaturan politik di Nias Selatan. Mestinya tidak harus seperti itu. Pemasangan spanduk tersebut sangat tidak etis dan tidak bermoral. Itu spanduk tidak edukatif dan terkesan provokatif. Saya minta agar pemerintah kita segera menertibkan spanduk yang berpotensi menimbulkan konflik itu,” ujar hamba Tuhan itu kepada NBC, Rabu.

Di tempat yang berbeda, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIH Nias Selatan Disiplin Luahamböwö, saat dimintai tanggapannya di Kampus STIH Nias Selatan, Kamis (23/4/2015), juga mengecam keras spanduk itu.

“Pemasangan spanduk itu sangat tidak elok dan tidak etis. Itu ungkapan orang yang tidak berpendidikan dan tidak bermoral. Ini benar-benar memalukan kaum intelektual di Nias Selatan. Saya tahu spanduk ini dipasang oleh barisan sakit hati terhadap mantan Ketua KPU Sumangeli. Saya mengimbau agar jangan ada lagi spanduk yang memalukan seperti ini,” kata Disiplin

Bukti Klaim Keberpihakan

Selain tokoh masyarakat dan aktivis mahasiswa di Nias Selatan, petinggi partai di Nias Selatan juga mengecam keras pemasangan spanduk ini. Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Kabuapten Nias Selatan, Thomas Dachi, kepada NBC mengatakan bahwa pemasangan spanduk ini dilakukan karena diduga memiliki sentimen pribadi dengan mantan Ketua KPU Nias Selatan Sumangeli Mendröfa.

Menurut dia, pemasangan Spanduk ini merupakan upaya mop politik yang mengklaim Ketua KPU Alfian Zenius Dachi berpihak kepada kelompok mereka sehingga bakal calon Bupati dan Wakil Bupati takut menghadapi kompetisi pilkada.

“Saya melihat bahwa pemasangan spanduk ini karena unsur sentimentil dengan Sumangeli. Sangat disayangkan pemasangan spanduk seperti ini yang seharusnya tidak dipasang. Ini merupakan mop politik yang mengklaim Ketua KPU baru berada pada kelompoknya. Ini upaya melemahkan calon bupati dan wakil bupati lain yang mau maju pada pilkada. Saya menertawakan spanduk ini. Ini ungkapan kepuasan diri saja,” kata Thomas

Beberapa hari setelah Ketua KPU berganti, di sejumlah tempat terpasang spanduk dengan tulisan “Selamat dan sukses atas pencopotan Sumangeli Mendröfa dari jabatan Ketua KPU Nias Selatan dan selamat sukses atas terpilihnya Alfian Zeni Dachi sebagai Ketua KPU Nias Selatan”. Pada spanduk terpampang foto dan nama Yaso Wanolo Laia. Penulusuran NBC, Yaso Wanolo Laia adalah warga Desa Hilinifaoso Kecamatan Ulu Susua—Pemekaran dari Kecamatan Amandraya. Hingga berita ini ditayangkan, alumni  Universitas Medan Area di Kota Medan Sumatera Utara tersebut belum bisa dikonfirmasi oleh NBC terkait pemasangan spanduk itu.

Di beberapa media sosial seperti Facebook dan BlackBerry Mesenger, pemasangan spanduk ini menjadi perbincangan hangat banyak pihak selama dua pekan terakhir. Hampir semua netizen Facebook menyayangkan pemasangan spanduk yang dinilai tidak etis ini. Hingga Rabu, spanduk tersebut masih terpampang di Bundaran Simpang Lima dan di Kilometer 1—tepat di depan SPBU milik Idealisman Dachi, Telukdalam—serta di wilayah Kecamatan Amandraya.

Sejumlah pihak menyampaikan bahwa pemasangan spanduk itu justru jadi bumerang bagi ketua baru KPU, Alfian Zenius Dachi. Padahal, harapan utama masyarakat Nias Selatan ada di pundak ketua baru ini sehingga pelaksanaan Pilkada 2015 di Nias Selatan benar-benar berlangsung jujur dan tidak diwarnai kecurangan lagi.  [SEI]

Related posts