PENYANDANG DISABILITAS

Orangtua Berperan Penting dalam Melindungi Anak Perempuan Difabel

Suasana talkshow bertajuk Pentingnya Peran Semua Pihak dalam Melindungi Anak Perempuan Difabel di RRI Gusit pada Rabu (22/4/2015). Foto NBC | Ano

Suasana talkshow bertajuk “Pentingnya Peran Semua Pihak dalam Melindungi Anak Perempuan Difabel” di RRI Gunungsitoli, Rabu (22/4/2015). |Foto: NBC/Anoverlis Hulu

GUNUNGSITOLI, NBC —  Orangtua memiliki peran sangat penting untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak perempuan difabel. Peran itu antara lain mengajarkan anak mewaspadai tindakan yang mengancam keselamatan mereka dengan cara sederhana. Misalnya dengan berteriak, lari, atau melakukan tindakan lain guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Demikian disampaikan Chairidani Purnamawati, Koordinator Unit Advokasi Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Nias, dalam talkshow bertajuk “Pentingnya Peran Semua Pihak dalam Melindungi Anak Perempuan Difabel”, Rabu (22/4/2015) sore.

Pada talkshow yang disiarkan secara langsung oleh RRI Gunungsitoli tersebut, Dani mengemukakan, meski anak perempuan difabel memiliki keterbatasan, orangtua pasti memiliki cara masing-masing untuk mengajarkan bagaimana melindungi diri. Pemberian pemahaman semacam ini akan sangat bermanfaat dalam mencegah pelaku kekerasan, terutama kekerasan seksual, leluasa melakukan aksinya.

“Untuk itu, orangtua harus menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya. Dengan begitu, orangtua bisa mengetahui saat anak perempuan difabel mengalami masalah. Mungkin dengan sikap mereka yang tiba-tiba menjadi pendiam dan pemurung. Di sini orangtua sangat berperan untuk merangkul anak dan menanyakan permasalahan yang terjadi,” ujar Dani.

Buruknya komunikasi antara orangtua dan anak perempuan difabel, menurut dia, disebabkan rasa malu karena memiliki anak yang berkebutuhan khusus. Selain itu juga karena ketidaktahuan tentang cara memperlakukan anak difabel. Oleh karena itu, Dani mengajak para orangtua agar mulai memperhatikan dan peduli terhadap perkembangan anak perempuannya yang menyandang difabel.

Tidak Ada Kompromi

Perhatian terhadap anak perempuan difabel sangat penting seiring dengan mulai bermunculannya kasus kekerasan seksual yang menimpa mereka, contohnya satu kasus yang saat ini ditangani PKPA Nias. Ada pula kasus yang masih ditangani Persatuan Sada Ahmo (Pesada) dan beberapa kasus lain yang belum sampai pada tindakan hukum.

“Tidak ada kompromi dengan keluarga pelaku. Jika tindakan kekerasan seksual sudah terjadi, orangtua harus melaporkan kepada pihak yang berwajib. Adanya kompromi melalui penyelesaian secara kekeluargaan atau secara adat akan menimbulkan masalah baru. Ketika penyelesaian dilakukan dengan pembayaran sejumlah denda, sementara tidak ada sanksi sosial atau tindakan hukum, ini sangat merugikan karena membuka peluang bertambahnya korban berikutnya,” tegas Dani.

Oleh karena itu, ia kembali mengingatkan, orangtua memiliki peran penting dalam melindungi anak perempuan difabel. Sebab, apabila orangtua dan keluarga sudah menerima keberadaan anak difabel, masyarakat secara otomatis juga akan ikut menerima.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Gunungsitoli melalui Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi tetap berupaya memperhatikan nasib penyandang disabilitas, khususnya perempuan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah memberikan pelatihan berupa keterampilan membuat kerajinan tangan.

“Kami juga saat turun ke lapangan selalu menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak meminggirkan atau menelantarkan anaknya yang difabel karena mereka pada dasarnya sama seperti anak normal lainnya yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Tetapi, memang rasa malu karena menganggap anak difabel sebagai aib masih menjadi kendala sehingga perhatian terhadap kaum difabel masih rendah,” tutur Anwar Harefa, Kepala Bidang Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kota Gunungsitoli, pada talkshow tersebut.

Dana Asistensi Sosial

Selain mengajak keluarga dan masyarakat untuk peduli difabel dan melakukan pelatihan, ia juga mengatakan bahwa pemerintah senantiasa menaruh perhatian terhadap kaum difabel, misalnya dengan adanya dana asistensi sosial senilai Rp 300.000 per bulan. Berdasarkan data, saat ini Dinas Sosial Kota Gunungsitoli menangani 61 penyandang disabilitas yang memperoleh dana tersebut. Untuk memperoleh dana tersebut, calon penerima harus melampirkan, antara lain, surat keterangan difabel dari kepala desa dan fotokopi kartu keluarga.

Acara ini merupakan talkshow kedua yang diselenggarakan dalam program fellowship Citra Daya Nita oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN). Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan jurnalis dalam mengangkat isu-isu tentang perempuan. [ANO]

Related posts