PENANGANAN SAMPAH

Nias Utara Tidak Miliki TPA, Pegawai Buang Sampah Sembarangan

Dua orang siswi SMK N 1 Lotu tengah melintas pada tumpukan sampah di samping Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nias Utara. Rabu (1/4/2015). Walau Nias Utara sudah berumur 6 tahun, hingga kini belum memiliki lokasi tempat pengelolaan sampah. Foto NBC/Onlyhu Ndraha.

Dua siswi SMKN 1 Lotu melintas di dekat tumpukan sampah di samping Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nias Utara, Rabu (1/4/2015). Walau sudah berumur 6 tahun, Nias Utara hingga kini belum memiliki lokasi tempat pengelolaan sampah. | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

LOTU, NBC  — Akibat ketiadaan tempat pengelolaan akhir sampah di Kabupaten Nias Utara, pegawai dan warga terpaksa membuang sampah sembarangan. Sampah dapat mencemari lingkungan. Namun, jika diolah, sampah dapat menjadi pupuk organik sehingga meningkatkan pendapatan warga. Meskipun pemekaran Kabupaten Nias Utara dilakukan pada 2008, berdasarkan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2008, daerah tersebut belum memiliki TPA.

Berdasarkan pengamatan NBC, hampir semua kantor pemerintahan di Nias Utara membuang sampah di sekitar kantor masing-masing tanpa pengelolaan. Misalnya, di Kantor Dinas Pekerjaan Umum yang berdekatan dengan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Lotu, pegawai membuang sampah di samping kantor tanpa tempat pembuangan.

Hal serupa terjadi di Kantor Bupati Nias Utara, sampah kantor dibuang di belakang kantor tersebut. Setelah menumpuk, sampah baru dibakar. Walau Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Nias Utara memiliki tempat sampah, baik sampah organik maupun sampah non-organik, yang terbuat dari semen, tempat sampah itu tidak digunakan.

Beberapa pegawai yang dijumpai NBC, Rabu (1/4/2015), mengatakan, mereka terpaksa membuang sampah sembarangan karena tempat pembuangan belum tersedia.

“Sudah biasa kami buang sampah di sini. Kalau dikumpul di depan, siapa yang mengangkat. Jadi, kalau di belakang kantor tidak ada yang melihat dan baru dibakar kalau sudah banyak,” kata salah seorang pegawai di Kantor Bupati Nias Utara.

Hal itu juga dikatakan pegawai Bappeda Nias Utara. Mereka jarang membuang sampah di lokasi yang sudah tersedia tempat pembuangan. Masalahnya, pengangkutan tidak ada. “Jika ada sampah, seperti plastik dan kertas, ya, dibakar saja.”

Yason Harefa, pedagang di sekitar Kantor Bupati Nias Utara,  mengatakan, sampah pemilik warung biasanya dibuang di sekitar sungai. Jika memiliki waktu luang, sampah yang sudah menumpuk di selokan akan dibakar.

“Pedagang sekitar ini membuang sampah di sungai. Kalau tidak di selokan, kalau sudah menumpuk baru kami bakar,” ujar Yason.

TPA Tidak Tersedia

Pegawai dan warga kesulitan untuk mengumpulkan sampah karena tidak tersedia TPA sampah yang disediakan pemerintah daerah. Hal ini dibenarkan Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Nias Utara Kharisma Zega kepada NBC seusai mengikuti Rapat Paripurna DPRD terkait nota pengantar LKPJ 2014 Bupati Nias Utara, Senin (30/3/2015).

“Jangankan TPA, perda saja belum ada,” kata Kharisma.

Walau demikian, lanjut Kharisma, Pemerintah Kabupaten Nias Utara mulai melirik lokasi TPA yang direncanakan di Kecamatan Lahewa Timur. Sementara peraturan daerah tentang retribusi sampah akan diusulkan tahun depan.

Direktur Yayasan Holi’ana’a Happy Harefa sedih atas tindakan pemerintah setempat yang tidak peduli terhadap  pengelolaan sampah yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Pertengahan tahun 2014, Holi’ana’a mengadakan seminar pengelolaan sampah di Lotu bersama pemerintah daerah. Ada beberapa rencana tindak lanjut, tetapi sampai sekarang belum terlaksana. Sedih jika sampah tidak menjadi isu strategis,” kata Happy kepada NBC di kantornya, Livelihood Training Center (LTC) Holi’ana’a, Desa Simanaere, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi.

Menurut Happy, dampak dari membuang dan membakar sampah sembarangan adalah terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, rusaknya kehumusan tanah, hingga terganggunya kesehatan masyarakat.

“Sampah yang tidak dikelola dengan baik menghasilkan gas rumah kaca yang merusak laposan ozon. Rusaknya lapisan ozon sangat berdampak pada kelangsungan makhluk hidup,” lanjut Happy. (Baca: Ini Solusi Atasi Masalah Sampah di Nias)

Sementara itu, jika sampah rumah tangga dan kantor dapat dikelola dengan baik, hal itu dapat menghasilkan pupuk organik sehingga meningkatkan pendapatan warga. Pupuk organik bersumber dari sampah rumah tangga, seperti sisa makanan. Sementara sampah kantor berupa kertas. Adapun sampah non-organik berupa plastik dan botol. Sampah ini dapat dijual kembali dan menghasilkan uang.

Happy menyarankan agar setiap unit SKPD membuat tempat penampungan sampah organik dan non-organik. Warga agar tidak membuang sampah di sungai. Sebaiknya dibuat sebuah tempat yang suatu waktu dapat dikelola.

Dari penelusuran NBC, berdasarkan situs aircikijing.wordpress.com, agar suatu material dapat terurai di tanah, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Misalnya, kertas terurai selama 2-5 bulan, kardus 5 bulan, sedangkan filter rokok lama terurai, yakni 10-12 tahun. Kantong plastik terurai 10-20 tahun.

Selain itu, benda berbahan kulit terurai 25-43 tahun. Kaus kaki bahan nilon terurai 40 tahun. Botol plastik terurai 50-80 tahun. Jaring ikan selama 30-40 tahun.

Adapun batu baterai bekas terurai 100 tahun, aluminium terurai 80-100 tahun, kaleng timah 200-400 tahun, benda berbahan kaca baru terurai 1 juta tahun, sedangkan styrofoam tidak dapat terurai. [NDH]

Related posts