OBYEK WISATA

Melepas Kejenuhan Akhir Pekan di Air Terjun Baho Ndra

Air terjun BahondraNBC — Pesona air terjun memang selalu menjadi daya tarik bagi siapa pun untuk berkunjung melepas lelah, terutama di akhir pekan. Tidak terkecuali dengan Air Terjun Baho Ndra di Desa Helefanikha, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli. Apakah Anda pernah ke tempat indah ini? Jika belum, tak salah baca dulu tuturan Anoverlis Hulu, reporter NBC, berikut ini.

Berada di tengah hutan, air terjun Baho Ndra menyimpan keindahan tersendiri. Berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Gunungsitoli, air terjun tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.

Kicauan berbagai jenis burung liar di sekitar Air Terjun Baho Ndra sesekali terdengar di tengah gemuruh air yang jatuh di “kolam” Baho Ndra. Siang itu, terlihat anak-anak menjelang remaja yang bertelanjang dada asyik berlompatan, berenang, disertai ocehan penuh canda. Mereka terlihat sangat menikmati kesejukan Air Terjun Baho Ndra.

Ada yang berdiri setengah membungkuk sambil kedua tangan dijepitkan di kedua paha sambil sesekali menggetarkan badannya, menahan dingin. Ia sepertinya sedang memulihkan tenaga sejenak setelah berenang beberapa lama. Ada juga yang badannya di air, sambil berpegang pada batu di tepi lubuk, ia berusaha mencapai tempat jatuhnya air dan berlama-lama di situ untuk tersiram air. Sangat mengasyikkan.

Kehadiran air terjun dirasakan sebagai sebuah anugerah oleh para pengunjung. “Senang banget bisa berenang di sini bersama teman-teman. Saya mau setiap sore berenang di sini,” ujar Budi Gea (11), salah seorang anak desa sekitar.

Sekadar untuk diketahui, nama Baho Ndra kadang disalahartikan karena ditulis Bahondra seolah-olah merujuk pada merek salah satu produsen otomotif, “di Honda”. Namun, usut punya usut, diperoleh informasi dari warga setempat bahwa  nama bahondra berasal dari dua kata, yakni baho yang berarti jurang yang dalam dan ndra yang berarti air. Jadi, baho ndra dapat diartikan sebagai air yang turun jatuh ke jurang yang dalam. Agar tidak menimbulkan kebingungan, nama geografis ini ditulis “Baho Ndra” bukan “Bahondra”.

Tenyata, tempat pemandian ini sudah mulai dikenal masyarakat. Bahkan, wisatawan mancanegara pun ada yang pernah datang.

“Sering dikunjungi, kadang-kadang ada turis juga,” tutur warga sekitar yang ditanyai NBC, Sabtu (11/4/2014).

Sayangnya, seperti tempat wisata pada umumnya daerah ini, tidak ada tanda-tanda khusus yang menunjukkan lokasi ini. Dengan begitu, pengunjung harus rajin bertanya. Jalanan yang sempit, berliku, dan berbukit menjadi awal tantangan menuju ke tempat ini. Kendaraan bisa diparkir di rumah penduduk yang berada di sekitar lokasi.

Namö Doli-doli

Namö Doli-doli

Tantangan perjalanan tidak berhenti sampai di situ. Pengunjung harus berjalan kaki sekitar 500 meter. Siap-siap untuk merasakan keseruan melewati kebun karet milik warga. Harus hati-hati sebab jalan yang dilalui berbukit. Apalagi saat musim hujan, tanah yang dilalui menjadi berlumpur sehingga licin. Oleh karena itu, jika berencana datang ke air terjun ini sebaiknya dilakukan beramai-ramai.

Air Terjun Baho Ndra memiliki satu tingkat saja dengan ketinggian sekitar 10 meter. Pepohonan yang rimbun menghalangi sinar matahari membuat suasana sekitar air terjun tersebut menjadi sedikit gelap dan sejuk. Namun, suasana sejuk dan gemuruh air terjun menjadikan tempat tersebut layak dikunjungi. Airnya memang tidak terlalu jernih, tetapi sejuk untuk mandi.

“Lumayan capek, tetapi tidak apa-apa karena bisa segar kembali setelah mandi di air yang dingin dan sejuk seperti ini,” kata Febriama Harefa, pengunjung yang baru pertama kali datang ke tempat itu.

Terlihat pula beberapa pengunjung yang datang hanya sekadar mengabadikan panorama air terjun ini lewat kamera. Ada pula yang sibuk selfie ria dengan latar belakang pemandangan di sekitar lokasi.

Berhati-hati

Bagi yang ingin berenang disarankan berhati-hati karena kedalaman air bisa mencapai 150 sentimeter. Hal ini tentu riskan bagi pengunjung yang belum mahir berenang. Sebaiknya anak-anak dilengkapi alat bantu pelampung serta senantiasa diawasi oleh orangtua.

Tidak hanya Air Terjun Baho Ndra, sekitar 50 meter di atas air terjun, terdapat lokasi pemandian yang disebut Doli-doli berupa lubuk (namö). Tak mengherankan lokasi ini sering disebut Namö Doli-doli. Lokasi ini satu aliran dengan Baho Ndra tetapi ketinggian curahan yang pendek, sekitar 1 meter, menjadikan tempat tersebut kalah populer ketimbang Baho Ndra meski lebih aman untuk berenang, meskipun tetapi harus waspada.

Potensi Belum Dikelola

Potensi tempat wisata ini tentu sangat menjanjikan untuk dikelola sehingga meningkatkan ekonomi warga di sekitar sungai lokasi Air Terjun Baho Ndra. Warga masyarakat sekitar perlu diedukasi terkait potensi ini. Dengan begitu, warga bisa mendukung setiap upaya untuk mengembangkan daerah ini. Apalagi, di tempat itu ada ada obyek wisata unik lainnya, yakni batu besar berbentuk kepalan tangan yang megacungkan jari jempol.

Yang perlu dipikirkan adalah jalan untuk mencapai lokasi ini perlu dibuat sedemikian rupa sehingga bisa aman bagi pengunjung. Disarankan tetap dipertahankan seperti sekarang, tanpa dicapai oleh kendaraan. Namun, perlu dibuat jalan dengan beton sehingga nyaman bagi pengunjung.

Papan petunjuk lokasi perlu dibuat dari jalan provinsi Jalan Pelud Binaka dengan begitu, siapa pun dapat mengetahui arah ke lokasi meskipun tanpa penunjuk jalan.

Hal yang tak kalah penting adalah menjaga kebersihan sumber air. Perlu dibuat peraturan desa bahkan jika memungkinkan dibuat peraturan daerah agar kebersihan tempat wisata ini bisa tetap terjaga.

Dinas Pariwisata setempat ada baiknya melakukan penelusuran di tempat ini. Dengan begitu bisa merencanakan hal-hal apa saja yang bisa dilakukan sehingga keindahan alam anugerah ilahi ini bisa membawa kesejahteraan bagi warga sekitar.

Kegiatan susur sungai oleh para kelompok pencinta alam atau para siswa perlu digalakkan. Dengan demikian, para pencinta alam itu bisa memberikan masukan yang baik kepada pemerintah daerah hasil dari susur sungai itu.

Warga setempat sebenarnya bisa memanfaatkan kunjungan para wisatawan lokal ini dengan menyediakan camilan tradisional seperti pisang rebus, ubi rebus, serta kopi panas. Sebab, para pengunjung tentu memerlukan asupan makanan setelah capai berenang.

Namun, jika itu terjadi, harap diingat, semua sampah, terutama plastik, harus dikumpulkan dan tidak dibuang sembarangan. Para pedagang diwajibkan mengumpulkan sampah yang dihasilkan dan dibawa pulang untuk dibakar atau didaur ulang. Ingat, jika tempat tetap terjaga bersih, nyaman bagi pengunjung, warga setempat akan bisa mendapatkan manfaat yang besar.  [ANOVERLIS HULU/APS]

Related posts