KINERJA PEMERINTAHAN

Gunungsitoli Kota (Bukan) Samaeri — Bagian I

Kadis Kota Gunungsitoli Sadieli Telaumbanua. | Foto: NBC/Apolonius Lase

Sadieli Telaumbanua. | Foto: NBC/Apolonius Lase

Oleh Dr. Sadieli Telaumbanua, M.Pd., M.A.

NBC — Sejak Kota Gunungsitoli menjadi sebuah daerah otonom baru (2008) di Pulau Nias, pemimpin pemerintahan mengintrodusir sebuah kata yang indah didengar, yaitu “Samaeri”. Terlebih lagi pada pelaksanaan pilkada pertama, Drs. Martinus Lase, MSP dan Drs. Aroni Zendratö (pasangan Madani) mengusung visi, “Terwujudnya Gunungsitoli Kota Samaeri”. Kata sakti ini membawa keduanya menjadi BB1T dan BB2T periode 2011-2016. Kurang lebih satu tahun lagi, pasangan ini akan mengakhiri masa jabatan, tepatnya bulan April 2016.

Seiring dengan pelaksanaan Pilkada Kota Gunungsitoli pada 2015 ini, pasangan ini tampaknya memilih jalan sendiri-sendiri. Namun, sebelum berpisah perlu refleksi berkaitan dengan visi yang pernah dijanjikan kepada masyarakat di Kota Gunungsitoli.

Tulisan ini berusaha menganalisis secara sederhana tentang mimpi menjadikan Gunungsitoli sebagai Kota Samaeri. Data kuantitatif yang selalu dijadikan indikator ketercapaian program dan kegiatan oleh semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) untuk sementara disimpan. Data kualitatif-fenomenologi  yang diperoleh pada latar alami menjadi referensi artikel ini. Pertanyaan yang mesti dijawab adalah “Apakah Gunungsitoli telah menjadi Kota Samaeri?”.

Esensi “Samaeri”

Samaeri memiliki substansi dengan kata asih, asah, asuh. Kata ini bertemali erat dengan kata empowering (pemberdayaan; menjadikan seseorang berdaya). Jadi, seseorang yang bermimpi menjadi samaeri, maka yang dimaksud adalah pemberdaya (empower) bukan pemerdaya (deceiver, lier). Frasa “Gunungsitoli Kota Samaeri” mesti dimaknai sebagai masyarakat pengasih, pengasah, dan pengasuh. Esensinya adalah pemberdaya.

Pada 2015,  Gunungsitoli Kota Samaeri berusia 6 tahun. Sebagai anggota masyarakat perlu diketahui apakah telah terwujud masyarakat yang saling asih, asah, dan asuh? Data statistik yang setiap tahun disajikan oleh pemimpin Kota Gunungsitoli tampaknya tidak dapat menjawab esensi kota Samaeri ini. Di kalangan masyarakat berkembang istilah bahwa yang diwujudkan oleh pemimpin saat ini adalah Gunungsitoli “Kota Sanõrini” (penyingkir, penendang). Sebuah pemerintahan yang menyingkirkan sumber daya yang mumpuni dan kritis. Esensi pemberdaya tereduksi dengan reorientasi visi.

Kita tidak perlu menutup mata dan telinga bahwa hingga sekarang ini gagasan mewujudkan Gunungsitoli sebagai Kota Samaeri  masih jauh dari harapan. Beberapa realitas yang memang jauh panggang dari api! Dalam tulisan kali ini cukup dua saja yang akan dijadikan data terseleksi.

Pertama, kehadiran top manager  di tengah-tengah warganya. Pemimpin yang mengklaim diri sebagai samaeri sejatinya selalu berada di tengah-tengah pengikutnya (masyarakat). Hal ini sangat urgen karena setiap saat dapat mendengar langsung keluhan dan kebutuhan rakyat yang dipimpinnya. Dengan kehadiran pemimpin, “ono mbanua”  merasakan kenyamanan. Realitas di Kota Gunungsitoli, pemimpin utamanya lebih banyak berada di luar  wilayah kerjanya. Alasan yang sering kita dengar adalah rapat dengan menteri A-Z, koordinasi ke kementerian/BUMN/pengusaha, urusan partai dan sejumlah kepentingan lain.

Alasan ini sah-sah saja.  Tentu  yang diharapkan adalah output dan outcome (hasil) termasuk dampaknya dalam pemberdayaan masyarakat. Hingga sekarang ini (belum) ada hasil yang signifikan.

Teman saya dari salah satu SKPD pernah menghitung bahwa kehadiran wali kota di Gunungsitoli sekitar  5–10 hari setiap bulan. Dapat dibayangkan hal-hal yang dapat dilakukan dengan frekuensi kehadiran seperti itu. Salah seorang mantan pimpinan DPRD Kota Gunungsitoli pernah berujar  bahwa kehadiran wali kota di Gunungsitoli hanya dinas luar.

Seorang tokoh pernah mengatakan dalam bahasa Nias, “Ha irongo li gõfa sihombo no ifazaumba ia yawa”. Saat-saat hari-hari besar keagamaan, misalnya, warga sangat mengharapkan kehadiran pemimpin mereka. Kenyataannya, Samaeri masyarakat justru mudik ke luar daerah. Becermin pada fenomena ini, masih dapatkah dikatakan bahwa Gunungsitoli Kota Samaeri? Entahlah, kita tanya kepada rumput yang bergoyang.

Kedua, pemimpin yang berani menamakan diri sebagai Samaeri mesti membimbing, mencerahkan, menguatkan, menyemangati, serta memotivasi. Hal ini dibutuhkan oleh setiap orang terlebih-lebih personel yang sedang bertugas sebagai pelayan masyarakat. Apakah karakter Samaeri ini telah terpatri dalam diri pemimpin kita di Gunungsitoli sehingga seseorang yang diberhentikan dari sebuah jabatan diawali dengan memberi  wejangan,  mene-mene? Apakah juga semua putra kelahiran Gunungsitoli (tidak dimaksud Gunungsitoli sentris) telah diberdayakan untuk menjadi pelayan masyarakat pada jajaran pemerintahan?  

Seingat saya, selama memimpin Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli tidak pernah dapat pencerahan dari wali kota. Pada saat menghadap beliau, yang dibicarakan hal-hal yang bertemali dengan kepentingan tertentu. Setali tiga uang dengan pengalaman pimpinan SKPD lain. Profil Samaeri tampaknya baru sebatas kata, belum menjadi laku.

Bertemali dengan pemberdayaan potensi putra-putri Nias juga terkesan diremehkan dan lebih diutamakan barang monza (di Nias terkenal dengan sebutan rombenga). Salah seorang saudara dekat pemimpin kota Gunungsitoli ini pernah berujar dalam bahasa Nias, “lõ fa’omusõ dõdõ khõ dalifusõma da’a”. Tak ada hal yang menggembirakan dari kinerja saudara kita ini.

Dengan realitas seperti ini, masihkah kita tetap bertahan bahwa Gunungsitoli adalah kota Samaeri? Jangan-jangan lebih tepat Kota Sanõrini? Saya sendiri pun tidak tahu. Baiknya kita tanya lagi pada rumput yang bergoyang.

Berdasarkan kedua bukti fenomenologis tersebut di atas, izinkan saya menyimpulkan (sementara) bahwa Gunungsitoli kota (bukan) Samaeri. Saya akan menyempurnakan hipotesis ini jika data alami semakin bertambah. [Sadieli Telaumbanua, Dosen Program Pascasarjana STT BNKP Sundermann; Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli]

Related posts