PROFESI KEDOKTERAN

Ucapan Kadis Kesehatan Nisel Tendensius Hina Profesi Dokter, IDI Ambil Sikap

dr.Julius Hutabarat saat membeberkan apa yang mereka alami di Nias Selatan kepada IDI, Jumat (27/3/2015) Foto : Irwanto Hulu

dr.Julius Hutabarat saat membeberkan apa yang mereka alami di Nias Selatan kepada IDI, Jumat (27/3/2015). |  Foto : Irwanto Hulu

GUNUNGSITOLI, NBC — Menanggapi penghinaan profesi dokter yang dilakukan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan Murniati Dachi terhadap sejumlah dokter yang bertugas di Kabupaten Nias Selatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Nias memberikan pernyataan sikap. Apabila pernyataan sikap yang telah mereka sampaikan tidak dihiraukan oleh Pemerintah Kabupaten Nias Selatan dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan, IDI akan menempuh jalur hukum.

Dalam pernyataan sikapnya, IDI meminta Murniati Dachi meminta maaf kepada para dokter atas semua ucapan yang disampaikannya saat rapat dengar pendapat di DPR Nias Selatan, Senin (23/3/2015). Kemudian IDI mendesak Pemkab Nias Selatan untuk segera membayarkan tunggakan insentif daerah yang menjadi hak-hak mereka. (Baca: Ini Delapan Butir Pernyataan Sikap IDI Cabang Nias)

Pernyataan sikap IDI dibacakan oleh perwakilan IDI wilayah Sumatera Utara, dr Rizky Adriansyah, SpA(K), pada rapat IDI Cabang Nias yang digelar di Sekretariat IDI Cabang Nias, Jalan Mohammad Yamin No 3 Afilaza, Kelurahan Pasar, Kota Gunungsitoli, Jumat (27/3/2015). Acara konfrensi pers itu dihadiri oleh semua dokter yang bertugas di Nias Selatan, perwakilan dokter dari Nias Utara, Nias, Kota Gunungsitoli, dan Nias Barat.

Dr Rizky Adriansyah, SpA(K) mengatakan, setelah mengikuti perkembangan kejadian serta wawancara langsung dengan dokter dan dokter spesialis yang bertugas di Nias Selatan, IDI berkesimpulan mengambil sikap.

“Belum dibayarnya sebagian jasa pelayanan BPJS 2014 dan insentif dokter umum dan dokter spesialis di Nias Selatan, serta ucapan Kadis Kesehatan Nias Selatan yang tendensius menghina profesi dokter, dokter spesialis, organisasi IDI cabang Nias, serta ketidaktransparanan pengelolaan keuangan yang akhirnya merugikan tenaga kesehatan di Nias Selatan, IDI memberikan pernyataan sikap,” ujarnya.

Kepada NBC, Sabtu sore, lewat telepon seluler Fatolosa membeberkan, ucapan Kadis Murniati yang tendensius menghina IDI antara lain bahwa ‘tak ada gunanya IDI itu di Nias Selatan ini’. “Waktu saya masuk di ruang RDP yang awalnya dinyatakan terbuka itu, Kadis Kesehatannya yang menyuruh keluar saya, sambil berteriak ‘IDI juga keluar itu, tak ada peranannya itu di Nias Selatan’. Kemudian, pada kesempatan yang sama, dr Julius dikata-katain ‘bodoh’, ‘membalikkan fakta’, ‘hanya menuntut hak’. Saat itu sampai dr Julius meminta di depan semua anggota DPRD untuk berhenti menghina mereka para dokter. Kemudian kepada dr Fanny Hondö, ada kata-kata yang tidak pantas, seperti ‘taik kucing’, ‘Anda itu sudah disekolahkan mengapa nagih-nagih hak. Jika Anda disekolahkan itu harusnya tidak dibayar pun Anda harus siap’. Itulah yang membuat dr Fanny menangis,” ujarnya.

IDI Siap Bantu Dokter di Nisel

Sebelumnya, Ketua IDI Cabang Nias dr Fatolosa Pardomuan Panjaitan, SpOG, memberi tahu, seminggu yang lalu dia menerima audensi sejumlah dokter yang bertugas di Nias Selatan. “Para dokter yang bertugas di Nias Selatan mengungkapkan problem yang mereka alami sehingga IDI, yang menjadi wadah para dokter sesuai undang undang, akan membantu para dokter di Nias Selatan,” ujarnya.

IDI cabang Nias memandang ada tata kelola yang buruk terhadap pelayanan kepada para dokter yang bertugas di Nias Selatan, di mana dana kapitasi/klaim BPJS 2014 dan insentif daerah dokter yang bertugas di Nias Selatan belum dibayar.

Sementara itu, di tempat yang sama, Julius membeberkan bahwa selama bertugas di Pulau Tello, Kabupaten Nias Selatan, tidak ada sama sekali perhatian Kepala Dinas Kesehatan kepada para dokter. Ia mengatakan seharusnya, permasalahan yang terjadi dapat diselesaikan di tingkat Dinas Kesehatan.

Dia membeberkan bahwa  insentif yang selama ini digembar-gemborkan diberikan sebesar Rp 6 juta-Rp 7 juta tidaklah benar. Dia selama dua tahun hanya menerima insentif sebesar Rp 4 juta, bahkan dana tersebut dipotong pajak.

Ironisnya, menurut dr Julius Hutabarat, selama mengikuti RDP di DPRD Kabupaten Nias Selatan, Senin (23/3/2015) yang lalu, mereka terus dihina dan profesi dokter dilecehkan oleh Kadis Kesehatan Nias Selatan.

Redaksi NBC juga menerima banyak keluhan dari para pegawai, terutama pegawai Dinas Kesehatan, yang mendapat tekanan dari Kepala Dinas Kesehatan Nias Selatan, bahkan ada yang mengaku mendapat hukuman dimutasi karena berani mempertanyakan hak-hak mereka.

Hingga berita ini ditayangkan, Murniati Dachi belum bisa dimintai konfirmasi terkait pernyataan sikap yang disampaikan IDI, Jumat sore. [WAN]

Related posts