Medieti Lahagu Meninggal akibat Kanker Nasofaring

Medieti Lahagu | Foto: NBC/Firman Daeli

Medieti Lahagu | Foto: NBC/Firman Daeli

GUNUNGSITOLI, NBC – Medieti Lahagu alias Ama Ica (31), warga Desa Tarahösö, Mandrehe Utara, Nias Barat, meninggal di RSU Gunungsitoli akibat kanker nasofaring. Medieti telah mengidap penyakit tersebut selama 5 tahun dan sebelumnya belum pernah berobat karena ketiadaan biaya. (Baca: Tak Punya Biaya, Mediati Lahagu Tak Bisa Berobat)

Dr Kanserina Dachi, yang dikonfirmasi NBC, Jumat (27/3/2015), menyampaikan bahwa Medieti Lahagu telah meninggal kemarin malam akibat kanker nasofaring stadium 4.

“Pasien masuk dua hari yang lalu di RSU Gunungsitoli dalam keadaan kurang gizi, pembengkakan di bagian leher, kaki sudah kurus akibat kelamaan di rumah, dan mata sudah melotot. Setelah dilakukan penanganan, diketahui Madieti mengidap penyakit kanker nasofaring stadium 4,” ujar Kanserina.

Kanker nasofaring atau lebih dikenal sebagai kanker hidung terjadi saat sel kanker yang berkembang berasal dari nasofaring, yang terletak di area belakang rongga hidung dan di atas bagian belakang tenggorokan. Karena keunikannya, nasopharyngeal carcinoma (NPC) lebih sering dibahas terpisah dari kanker yang menyerang leher dan kepala.

“Kami sebagai dokter ahli penyakit bagian dalam hanya dapat memperbaiki keadaan umum pasien. Pertama, tekanan darahnya yang rendah, pasien menjadi dehidrasi, dan pada pemeriksaan darah diketahui HB-nya kurang, sekitar delapan. Setelah itu, pemberian infus kepada pasien dan pemberian energi melalui infus karena pasien tidak bisa makan,” ujarnya.

Kemarin sore, kata Kanserina, tiba-tiba kadar gula pasien turun sehingga dilakukan penanganan dengan melakukan pemberian dekstrosa dan tidak lama kemudian gula darahnya kembali normal. Selain itu telah diusulkan transfusi darah dan telah dilakukan sebanyak 1 kantong darah.

“Telah dilakukan berbagai penangan kepada pasien bahkan telah dilakukan tranfusi darah. Namun, tiba-tiba, kemarin sore, tubuhnya membiru dan diperkirakan juga ada penekanan di saluran napasnya yang pada akhirnya pasien meninggal,” kata Kanserina.

Kanserina Dachi saat memeriksa Medieti Lahagu di ruang perawatan RSU Gunungsitoli. | Foto: Dokumentasi Kanserina Dachi

Kanserina Dachi saat memeriksa Medieti Lahagu di ruang perawatan RSU Gunungsitoli. | Foto: Dokumentasi Kanserina Dachi

Selain itu, Kanserina mengatakan bahwa kanker nasofaring yang diderita pasien sudah merambat ke seluruh tubuh seperti ke mata, paru-paru, serta seluruh sel-sel tubuhnya telah dipenuhi oleh kanker itu.

Penyebab Kanker Nasofaring

Menurut teori, faktor risiko yang terkait dengan penyebab NPC di antaranya adalah konsumsi ikan yang diasinkan secara berlebihan pada usia dini, konsumsi tinggi makanan yang diawetkan atau difermentasikan, serta akibat merokok.

“Apabila ada keluarga, dengan garis keturunan pertama yang terkena NPC, mereka juga memiliki risiko tinggi terkena kanker hidung ini, dibandingkan dengan mereka yang keluarganya tidak memiliki riwayat NPC,” kata Kanserina.

Kanserina berharap agar masyarakat Nias lebih mengutamakan makan makanan segar dan tidak diawetkan, seperti telur dan ikan asin. Apabila mengonsumsi ikan asin secara berlebihan mulai dari kecil hingga dewasa, risiko mengidap penyakit kanker nasofaring besar.

Medieti dibawa ke RS setelah Bupati Nias Barat Aroziduhu Gulö mendengar dari NBC dan segera meminta Dinas Kesehatan Rahmati Daeli untuk menjemput untuk dibawa ke Puskesmas. Atas koordinasi yang dilakukan oleh reporter NBC di Nias Barat, Firman Daeli dan Aminudin Hia, dengan Dinas Kesehatan Nias Barat, Medieti akhirnya dibawa ke RSU Gunungsitoli setelah Puskesmas Mandrehe Utara mengaku tidak bisa menangani penyakit itu.

Sejumlah pihak mendoakan kesembuhan Medieti. Bahkan, bantuan berupa uang pun disalurkan lewat rekening milik istri Medieti, Erwina Waruwu di Bank BRI 0176-01-017708-53-3 atas nama Erwina Waruwu. Menurut sahabat Medieti, Sozanolo Baginötö Zega, para sahabat yang telah mengirimkan bantuan di rekening tersebut agar bisa menginformasikan kepada Erwina di nomor 0823-61700506.

“Hari Minggu, saya dan beberapa teman-teman alumni SMA Negeri 3 Gunungsitoli akan menghadiri pemakaman Medieti Lahagu,” ujar Sozanolo. Untuk diketahui, Medieti meninggalkan tiga anak, yang masih kecil-kecil, yaitu Ica Pricila Lahagu (6), Ivan Kharis Lahagu (5), Ines Tri Jelita Lahagu (2).

Pelajaran Bersama

Dr Ria Novida Telaumbanua, Direktur RSU dr Djasamen Saragih, Pematang Siantar, Sumatera Utara, yang juga menaruh perhatian dalam proses perawatan Medieti, kepada NBC, mengatakan, apa yang dialami Medieti Lahagu hendaknya menjadi pelajaran bagi semua warga Nias di mana pun.

“Sekarang ini, ada dana pemerintah untuk bantuan bagi warga yang sakit. Apa pun penyakitnya, tolong janganlah ditunda-tunda untuk berobat di rumah sakit. Operasi jantung pun sekarang ditanggung full oleh pemerintah,” ujarnya.

Kejadian ini, kata Ria, juga harus menjadi perhatian aparat desa. “Tolonglah setiap kepala desa itu mengecek warganya yang sakit apa pun, lalu difasilitasi untuk datang ke puskesmas. Harus diakui, bahwa masih ada masyarakat kita, apalagi di desa-desa, masih takut untuk datang berobat karena tak memiliki uang. Ini tugas kita bersama,” ujar dr Ria, Jumat sore.  [MAN]

Related posts