PERINGATAN 10 TAHUN GEMPA

Masyarakat Siap dan Tangguh Menghadapi Bencana

Siswa SMP yang menyelamatkan diri masih sempat membantu korban terluka siswa SD. Foto Irwanto Hulu

Pemerintah Kota Gunungsitoli menggelar simulasi gempa, untuk mengenang tragedi gempa yang menimpa Pulau Nias 10 tahun silam, di kompleks Sekolah Dharma Caraka, Desa Ononamolo I Lot, Kota Gunungsitoli, beberapa hari lalu. Tampak siswa SMP yang menyelamatkan diri berusaha membantu korban terluka siswa SD. | Foto-foto: NBC/Irwanto Hulu

GUNUNGSITOLI, NBC — Kita belum lupa, gempa berkekuatan 8,7 skala Richter yang meluluhlantakkan Pulau Nias 10 tahun lalu, tepatnya 28 Maret 2005, memakan banyak korban, sebagian kecil korban adalah anak-anak.

Kurangnya pemahaman masyarakat dalam menghadapi gempa kala itu menjadi salah satu penyebab jumlah korban begitu banyak. Berdasarkan data dinas sosial saat terjadi gempa, korban meninggal mencapai 300 orang dan warga yang mengungsi karena kehilangan tempat tinggal 2.000 orang.

Mengenang tragedi bencana alam gempa yang menimpa Pulau Nias 10 tahun silam, Pemerintah Kota Gunungsitoli menggelar simulasi gempa. Pemkot Gunungsitoli bekerja sama dengan sejumlah organisasi non-pemerintah, organisasi masyarakat, Badan SAR Nasional, dan koalisi Siaga Bencana (Sigana) yang tergabung dalam panitia peringatan 10 tahun terjadinya gempa di Kota Gunungsitoli.

Simulasi Libatkan Pelajar

Simulasi digelar di kompleks Sekolah Dharma Caraka, Desa Ononamolo I Lot, Kota Gunungsitoli, beberapa hari lalu, dengan melibatkan sejumlah siswa Perguruan Dharma Caraka Kota Gunungsitoli mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMK. Simulasi yang diselenggarakan panitia peringatan 10 tahun terjadinya gempa ini dipimpin Sekda Kota Gunungsitoli Edison Ziliwu, yang juga ketua umum acara.

Simulasi dihadiri oleh Wali Kota Gunungsitoli Martinus Lase, Kepala Kejaksaan Negeri Gunungsitoli Parningotan Bakkara, Komandan Kodim 0213/Nias, serta sejumlah tokoh agama dan masyarakat di Kota Gunungsitoli. Acara ini mempertontonkan sebuah tragedi gempa yang melanda Pulau Nias dan berpotensi tsunami.

Sekolah Dharma Caraka yang menjadi obyek simulasi memperlihatkan bagaimana seluruh pelajar Dharma Caraka yang sedang belajar di sekolah melakukan penyelamatan diri saat terjadi gempa yang diumumkan melalui radio bahwa gempa berpotensi tsunami.

Siswa SD Ononamolo I Lot yang berusaha menyelamatkan diri dari gempa. Foto : Irwanto Hulu

Siswa SD berusaha menyelamatkan diri saat terjadi gempa pada acara simulasi.

Semua siswa keluar dari ruangan kelas menuju lapangan terbuka untuk menghindari bangunan sekolah roboh serta menjauhi bangunan-bangunan yang berpotensi roboh akibat gempa.

Juga terlihat sejumlah siswa yang terluka akibat tertimpa pohon dan pingsan saat berusaha menyelamatkan diri dari beberapa bangunan yang terbakar.

Para pelajar yang tertimpa pohon dan terluka saat menyelamatkan diri dibantu oleh petugas medis dan penyelamat dari Basarnas, pelajar, organisasi non-pemerintah, dinas sosial, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Mereka dievakuasi ke tempat aman untuk mendapatkan perawatan.

Tim medis bersama NGO melakukan penanganan terhadap korban bencana. Foto : Irwanto Hulu

Tim medis bersama organisasi non-pemerintah sedang menangani korban gempa.

Adapun bangunan yang terbakar ditangani oleh petugas pemadam kebakaran dari BPBD Kota Gunungsitoli dengan melakukan pemadaman api menggunakan mobil pemadam kebakaran serta menyelamatkan pelajar yang terjebak di dalam bangunan.

Kesiapsiagaan Masyarakat

Sekda Kota Gunungsitoli Edison Ziliwu mengatakan, simulasi dilakukan untuk melihat bagaimana kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempa serta untuk mengingat kembali bencana gempa yang memorakporandakan Pulau Nias 10 tahun lalu.

Dengan adanya simulasi ini, diharapkan masyarakat tahu tentang bahaya yang terjadi akibat gempa bumi sehingga ada kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempa yang dapat terjadi setiap saat.

Sementara itu, perwakilan koalisi Sigana memberikan apresiasi dan penghargaan kepada SD Ononamolo I Lot yang terlibat langsung pada pelaksanaan simulasi serta memberikan waktu dan tempat untuk pelaksanaan simulasi.

Pemkot Gunungsitoli diminta untuk membuat peraturan daerah tentang penanggulangan bencana serta berharap setiap saat SKPD yang ada di Pemkot Gunungsitoli melakukan kegiatan penanggulangan bencana.

“Kita juga berharap Pemkot Gunungsitoli pada tahun 2016 sudah memiliki tempat khusus seperti tugu peringatan gempa. Dengan demikian, kegiatan simulasi dan peringatan gempa yang dilaksanakan setiap tahun di Kota Gunungsitoli bisa difokuskan di lokasi tersebut dan membuat acara peringatan lebih sakral dan tidak hanya sebagai sebuah kegiatan seremonial biasa,” paparnya.

Indonesia Peringkat Ke-3

Wali Kota Gunungsitoli menyambut baik harapan masyarakat dan koalisi Sigana, serta berjanji akan merealisasikan usul itu. Wali Kota menyebutkan, pada peringatan 10 tahun terjadinya gempa di Kota Gunungsitoli, akan ada acara peletakan batu pertama tugu gempa di lokasi eks TPI Gunungsitoli.

Wali Kota Gunungsitoli pada acara pembukaan peringatan 10 Tahun Gempa di Kota Gunungsitoli, Foto : Irwanto Hulu

Wali Kota Gunungsitoli pada acara pembukaan peringatan 10 tahun gempa di Kota Gunungsitoli.

Dia juga menyampaikan, Indonesia merupakan negara peringkat ke-3 di dunia yang rentan terhadap bencana alam gempa. Indonesia setiap saat dapat dilanda gempa karena berada tepat di atas lempengan yang retak.

Pemerintah Indonesia sangat menyadari hal tersebut dan telah mengambil langkah antisipatif untuk meminimalkan efek yang terjadi akibat bencana gempa.

“Dahulu Pulau Nias tidak terkenal, tetapi setelah dilanda gempa berkekuatan 8,7 skala Richter tahun 2005, kini Pulau Nias menjadi terkenal hingga ke luar negeri. Kita tahu dampak bencana yang kita alami 10 tahun lalu cukup luas, yang meluluhlantakkan harta, jiwa, dan membuat kita terpuruk,” kenang Martinus Lase.

Namun, dengan berjalannya waktu, dibantu oleh pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan negara-negara yang memberikan bantuan, kini hasilnya bisa dilihat.

Bahkan, selama 2-3 tahun, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi melakukan rehabilitasi infrastruktur, gereja, dan rumah sakit di Pulau Nias. Hal ini menjadi bukti bahwa bantuan yang diberikan pemerintah pusat, organisasi non-pemerintah, dan negara-negara lain di Pulau Nias menjadi berkah.

Seluruh masyarakat Kota Gunungsitoli diajak untuk mencintai berkah yang diberikan Tuhan lewat bencana yang telah dihadapi. Ia mengakui, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi hal yang sama pada tahun-tahun mendatang.

“Kita harus mencintai berkah yang diberikan Tuhan, dan jangan kita jadikan kota kita ini sebagai korban bencana akibat kesalahan kita. Jangan kita biarkan tanah sebagai sumber hidup kita ini gersang akibat pembabatan hutan. Mari kita mengantisipasinya dengan penanaman 1 miliar pohon,” ajak Wali Kota Gunungsitoli.

Tidak lupa dia mengimbau masyarakat serta pemangku kepentingan agar selalu siap menghadapi bencana dengan pelestarian lingkungan serta membangun bangunan sesuai persyaratan yang diakui instansi tahan gempa.

BPBD Kota Gunungsitoli diminta setiap saat selalu siaga menghadapi bencana karena tema peringatan 10 tahun terjadinya gempa di Kota Gunungsitoli adalah “Masyarakat Siap dan Tangguh Menghadapi Bencana “. Diharapkan pelatihan atau simulasi gempa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program BPBD Kota Gunungsitoli dalam kesiapsiagaan bencana. [IRWANTO HULU]

Related posts