KELISTRIKAN

Kapan Arus Listrik Mengalir ke Mandrehe Barat?

Camat Mandrehe Barat Fatolosa Zai I Foto NBC/Firman Daeli

Camat Mandrehe Barat Fatolosa Zai | Foto: NBC/Firman Daeli

NBC – Sungguh miris, ketika telinga mendengar sebuah wilayah kecamatan belum dialiri listrik. Empat tahun terakhir, perjuangan demi perjuangan yang dilakukan warga dan pemerintah setempat pun tak kunjung ada hasil. Capek, lelah. Itulah yang terlontar dari mulut setiap warga Kecamatan Mandrehe Barat. Tak ketinggalan sang camat. Ia tak sungkan mengutarakan kelelahanya memperjuangkan listrik untuk daerah yang dipimpinnya. Kecamatan Mandrehe Barat yang terdiri dari 14 desa dengan penduduk  1.001 keluarga. Hanya sebagian kecil yang bisa menikmati listrik, itu pun karena bermukim di pesisir atau jalan provinsi.

Camat Mandrehe Barat Fatolosa Zai mengatakan pihaknya telah berupaya dengan berbagai cara agar PLN bisa masuk ke wilayah Mandrehe Barat, tetapi tak kunjung terjawab. Fatolosa tidak mengetahui alasan mengapa perjuangan mereka tak kunjung berhasil.

“Saya capek dan lelah memperjuangkan agar PLN dapat masuk ke wilayah Mandrehe Barat. Sepertinya, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat tak serius mendukung program kami di Mandrehe Barat ini, khususnya program untuk pengadaan listrik. Ini bukan tudingan, tetapi benar-benar fakta karena sampai sekarang PLN tak kunjung kami nikmati. Bayangkan, kantor camat dan semua instansi pemerintah di Mandrehe Barat ini belum dialiri listrik,” ujar Fatolosa.

Menurut penelusuran NBC, kekurangan daya sejauh ini menjadi alasan pihak PLN Cabang Telukdalam sehingga tidak kunjung mengalirkan arus ke Mandrehe Barat. Kebutuhan listrik untuk wilayah Nias Barat memang disuplai dari PLN Cabang Telukdalam.

Bisa jadi, Kecamatan Mandrehe Barat ini bukanlah satu-satunya di negeri ini yang belum dialiri listrik. Akan tetapi, harusnya upaya-upaya yang telah diperbuat warga dan pemerintah setempat dapat menjadi pertimbangan. Menurut Fatolosa, setiap musrenbang desa, kecamatan, program pengadaan listrik ini selalu diusulkan di urutan teratas. Namun, pemerintah Kabupaten Nias saat itu seakan tidak menggubris kepentingan masyarakat ini. Kini, setelah menjadi wilayah Kabupaten Nias Barat, tak ada juga perubahan, pemerintah kabupaten tak peduli. Buktinya, Mandrehe Barat tetap saja gelap gulita.

“Saya mewakili lebih kurang 9.000 warga di Kecamatan Mandrehe Barat, dari 14 desa, memohon kepada pemerintah pusat, terutama kepada Bupati Nias Barat, untuk segera mengalirkan arus listrik ke Mandrehe Barat,” pinta Fatolosa.

Ketika hal ini disampaikan kepada Bupati Nias Barat Adrianus Aroziduhu Gulö, ia tidak menampik bahwa warga Mandrehe di Nias Barat sangat membutuhkan listrik. “Sudah lama itu disampaikan, tetapi setiap pembahasan anggaran, pengadaan listrik selalu saja tidak disetujui,” ujarnya.

Meskipun begitu, Adrianus akan memanfaatkan waktu tersisa untuk memperjuangkan PLN masuk Mandrehe Barat. “Termasuk berdialog dengan pihak PLN,” ujarnya.

***

Seorang warga yang ditemui NBC, Asanudi Zai, yang juga mantan Kepala Desa Sisobandrao, Kecamatan Mandrehe Barat, mengaku tak ambil pusing lagi soal PLN karena sudah terlalu banyak yang memberikan harapan kepada mereka sebelumnya. “Kami sudah capek menunggu janji-janji yang diberikan kepada kami. Banyak calon pejabat hingga menjadi pejabat hanya bisa memberikan harapan palsu kepada kami di Mandrehe Barat ini, tak pernah menjadi kenyataan,” ujarnya sambil tersenyum getir.

Asanudi menyebutkan, masyarakat di Mandrehe Barat tidak bisa menikmati kemajuan teknologi karena tidak mendapatkan aliran listrik. Peternak babi, misalnya, terpaksa memarut kelapa dengan cara manual. Sementara di tempat lain, yang sudah dialiri listrik sudah memanfaatkan parutan elektrik sehingga waktunya relatif cepat.

Pantauan NBC, sebagian warga yang memiliki kemampuan finansial membeli mesin genset dengan bahan bakar premium. Namun, tentu beban BBM terus ditanggung dan lama-kelamaan memberatkan. Warga yang tidak mampu seakan terpaksa berdamai dengan gelap kala malam tiba.

Kantor Camat Mandrehe Barat I Foto NBC/Firman Daeli

Kantor Camat Mandrehe Barat ini dan sejumlah kantor lainnya serta rumah-rumah penduduk hingga kini belum dialiri arus listrik. | Foto: NBC/Firman Daeli

Dari 8 kecamatan di Kabupaten Nias Barat, Kecamatan Mandrehe Barat satu-satunya kecamatan yang belum dialiri listrik. Bahkan, di Desa Lasarafaga, yang menjadi ibu kota kecamatan, belum juga dialiri listrik. “Kantor camat dan instansi pemerintah lain di wilayah ini mesti menyediakan genset untuk mendukung aktivitas pelayanan kepada masyarakat, walaupun disadari bahwa tidak sedikit anggaran yang dikeluarkan untuk itu,” ujar Fatolosa.

***

Hingga detik ini, Asanudi beserta ribuan warga lain di Mandrehe Barat hanya bisa menunggu kapan tiba saatnya makhluk bernama listrik dari PLN bisa segera mengalir di rumah, di dusun, di desa, dan di kecamatan mereka. Mereka sebenarnya telah berharap banyak kepada para anggota DPRD dan Bupati Nias Barat Adrianus Aroziduhu Gulö bisa turut berjuang untuk kebutuhan mereka. Namun, sepertinya kehadiran DPRD dan Bupati tak dirasakan di Mandrehe Barat.

Pembangunan dari pinggir yang dicanangkan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla seakan hanya slogan ketika menyaksikan kondisi di Mendrehe Barat.

Sebentar lagi, pilkada digelar. Para calon bupati peserta pilkada pun pasti ngecap lagi dan mendekati warga, dengan menjanjikan akan memprioritaskan pengadaan listrik dari PLN ke Mandrehe Barat. Bagi Asanudi dan warga Mandrehe Barat itu sudah basi. “Retorika semua. Mereka hanya pintar mengumbar janji dengan kata-kata indah supaya dipilih. Kenyataannya nanti jika sudah jadi, mereka lupa dengan omongan mereka sendiri. Mari kita buktikan saja. Semua omong kosong. Saya pesimistis,”  ujar seorang warga, yang tidak ingin disebutkan namanya.

Untuk diketahui, nama-nama desa di Kecamatan Mandrehe Barat yaitu Desa Onolimbu Raya, Desa Ononamölö II, Desa Sisobaoho, Desa Iraonogeba, Desa Lölöhia, Desa Fadoro Sifulubanua, Desa Hilidaura, Desa Sisarahili II, Desa Lasarabagawu, Desa Sisobandrao, Desa Mazingö, Desa Onolimbu Yöu, Desa Lasarafaga, dan Desa Orahilibadalu. [FIRMAN DAELI] 

 

Related posts