SEKOLAH DASAR LUAR BIASA

Jika Pendidikan Anak-anak Berkebutuhan Khusus Diperhatikan

Sudah hampir pukul 10 pagi, tetapi tak sekali pun lonceng tanda pelajaran dimulai berbunyi. Sekolah terlihat sepi. Padahal, kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung di sebuah ruangan. Beberapa guru dan murid tampak berkumpul.

Lima siswa berseragam sekolah dasar sibuk dengan kegiatan masing-masing. Anehnya, mereka bukan belajar. Ada yang bermain, ada yang duduk saja. Herannya lagi, hal itu dilakukan sendiri-sendiri. Para guru juga berbincang satu sama lain dan sesekali berbicara dengan siswa.

Sekolah seperti tak beraktivitas bukan karena kekurangan siswa atau jauh dari permukiman penduduk. Bangunannya bagus. Lokasinya juga terletak di pinggir jalan. Namun, sekolah ini berbeda dengan sekolah umumnya karena diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus.

Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Negeri No 077705 Gunungsitoli ini  beralamat di Jalan Laowõ No 8, Dahana Tabaloho, Kota Gunungsitoli. Sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah formal bagi anak berkebutuhan khusus di Pulau Nias.

“Seperti inilah kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Kami tidak bisa memaksakan untuk sama dengan sekolah pada umumnya. Siswa tidak bisa dipaksakan datang setiap hari. Tergantung dari keinginan anak atau kesanggupan orangtua mengantar,” ujar Dasmawati Tanjung, Kepala SDLB tersebut, kepada NBC, Kamis (26/2/2014).

Siang itu memang sedikit ramai. Namun, Dasma dengan ramah tetap melayani wawancara dengan sabar. Bahkan, ia meminta salah seorang murid perempuan untuk mendekat. Meski sempat menangis karena takut, murid itu kemudian menuruti permintaan kepala sekolahnya itu.

“Kamu cantik, kan? Kalau cantik, coba kenalan dulu dengan ibu ini,” rayu sang kepala sekolah. Si murid mengangsurkan tangannya dan menjabat reporter NBC.

Dasma menuturkan bahwa murid yang dia perkenalkan itu adalah penyandang tunagrahita (keterbelakangan mental). Umur anak itu 14 tahun, usia yang seharusnya sudah duduk di bangku sekolah menegah pertama (SMP).

Namun, sebagai sekolah khusus untuk anak berkebutuhan khusus, usia tidaklah menjadi batasan. Begitu pula dengan pelajaran yang diajarkan. Pengetahuan umum menjadi urutan kesekian. Hal utama yang biasanya diajarkan kepada anak-anak tersebut berupa hal-hal dasar, seperti mengenal lingkungan sekitar, bagaimana mengurus diri sendiri, dan etika (belajar sopan santun). Selebihnya, anak-anak bermain atau mendengarkan musik.

“Kurikulumnya pasti ada, khusus untuk SDLB. Tetapi, anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka sangat sulit menerimanya, makanya ketiga hal itu dulu yang diutamakan,” katanya.

Kesulitan itu tidak semata karena ada masalah dengan daya ingat penyandang tunagrahita ini. Demikian juga yang dialami anak-anak penyandang disabilitas lainnya, seperti tunanetra (buta), tunarungu (bisu), dan tunadaksa (cacat tubuh). Ini karena guru dan fasilitas berupa alat bantu masih sangat minim. Kini tinggal 1 guru untuk penyandang tunagrahita, 2 guru untuk penyandang tunadaksa, dan 1 guru agama.

“Sebelumnya, setiap jurusan (jenis penyandang disabilitas) diasuh oleh satu guru. Tapi mereka sudah dipindahkan ke tempat tugas lain,” ujar Dasma.

Penuh Kesabaran
Berdiri sejak tahun 1983,  tetapi baru beroperasi secara resmi pada 1990-an, menjadikan para guru yang sebagian besar sudah mengabdikan waktu berpuluh-puluh tahun itu harus ekstra sabar. Perjuangan yang mereka hadapi cukup berat, mulai dari turun ke lapangan untuk mencari murid hingga menghadapi tingkah laku yang tentu sangat berbeda dari anak normal.

Jumlah mereka memang tidak banyak. Hingga awal 2015 saja, tercatat ada 22 siswa di SDLB tersebut. Sebagian besar siswa adalah penyandang tunagrahita. Sebagian kecil tunarungu dan tunadaksa. Namun, jangan berharap bisa melihat mereka semua setiap hari. Bisa jadi hanya dua atau lima siswa yang rajin bersekolah.

“Ada-ada saja tingkah laku mereka yang bisa membuat kesal, misalnya mengambil barang teman atau merusak beberapa benda dalam ruangan. Tetapi mereka punya kekurangan, dan itu yang harus dipahami. Mereka tidak bisa diperlakukan kasar, tapi dengan penuh cinta kasih. Saya menekankan itu kepada semua guru. Jika kita melakukan semuanya dengan cinta kasih, apa pun bisa dijalani meski berat,” ungkapnya.

Kesulitan dalam mengajari anak-anak berkebutuhan khusus juga terletak pada pengendalian emosi. Anak-anak tersebut, menurut dia, memiliki ego yang tinggi dan cenderung frontal dalam menunjukkan kekecewaan mereka.
Ia mencontohkan saat seorang murid meminta pulang, tetapi ia menolak karena memang belum waktunya. Akibatnya, si anak langsung keluar dari kelas dan mendorong sepeda motor milik sang kepala sekolah hingga terjatuh.

“Setelah itu, dia tertawa dan bertepuk tangan. Sepertinya mereka melampiaskan kekecewaan dengan cara yang menurut kita tidak masuk akal, tetapi seperti itulah mereka. Kita mau marah, tetapi tidak mungkin karena mereka tidak mengerti bahwa yang mereka lakukan itu salah. Makanya kami harus sangat sabar,” ujarnya.

Begitu pula dalam pelajaran. Meski dengan materi yang sama dan terlihat sangat sederhana, tetap saja tidak mampu mereka tangkap. Belum lagi dengan keterbatasan alat bantu. Oleh karena itu, jangan heran apabila siswa itu bisa bertahun-tahun berada di tingkatan kelas yang sama.

“Untuk itu, diperlukan kerja sama dengan keluarga yang diharapkan bisa mengajarkan anak di rumah, misalnya bagaimana menjaga kebersihan diri. Peran keluarga dalam mengasuh anak-anak seperti mereka sebenarnya menjadi yang utama karena sebenarnya mereka bisa dilatih, hanya butuh kesabaran dan dijadikan sebagai kebiasaan sehari-hari,” tuturnya.

Dasma menambahkan, SDLB juga memiliki ujian nasional (UN). Hanya saja, level soalnya sangat berbeda dengan sekolah umum. Murid yang bisa mengikuti UN juga haruslah murid yang sudah sampai kelas VI. Jika lulus, siswa memperoleh ijazah dan bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Namun, menurut Dasma, sampai saat ini belum ada anak SDLB Gunungsitoli yang sampai pada tahap tersebut. Ini karena keinginan siswa untuk terus bersekolah biasanya terhenti setelah beberapa tahun dengan berbagai alasan, baik dari murid maupun orangtua.

Butuh Perhatian Serius
Terbiasa berhadapan dengan anak-anak seperti itu justru terkadang membuat Dasma dan guru-guru lainnya merasa terhibur sekaligus bersyukur. Sebab, di tengah kekurangannya, anak-anak itu menunjukkan keinginan untuk bersekolah.

Begitu pula dengan orangtua yang tampaknya sudah mulai sadar dengan kebutuhan pendidikan bagi anak-anaknya. Sayang, keinginan itu tidak sebanding dengan kemampuan orangtua dan fasilitas yang tersedia.

“Berkali-kali orangtua meminta agar di sini dibangun asrama. Kalau ada asrama, mereka bisa belajar mandiri dan mendapat pengasuhan yang lebih baik,” ujarnya.

Permintaan pembangunan asrama ini memang terdengar tidak berlebihan. Coba saja hitung waktu yang dimiliki anak di sekolah hanya sekitar dua jam, sedangkan selebihnya dihabiskan di rumah. Belum lagi jika orangtua sibuk dalam pekerjaan, hal itu membuat pendidikan anak semakin terabaikan.

Seharusnya sekolah dimulai pukul 07.30. Untuk kelas I-IV berakhir pukul 11.00, sedangkan kelas V-VI berakhir pukul 13.00. Namun, acuan waktu ini tidak bisa diterapkan bagi anak-anak tersebut karena alasan-alasan yang sudah ditulis sebelumnya. Waktu efektif untuk satu hari itu hanya sekitar 2 jam.

Di sisi lain, dengan adanya asrama akan sangat membantu orangtua yang jauh dari lokasi sekolah, dengan alasan keterbatasan waktu atau tidak memiliki kendaraan. Belum lagi mereka yang secara finansial di bawah garis kemiskinan, tetapi ingin anaknya mendapat pendidikan yang layak. Asrama bisa menjadi solusi bagi mereka.
Namun, membangun asrama tidaklah cukup. Fasilitas pendukungnya harus ditingkatkan pula, misalnya menyediakan para guru, pengasuh, atau fasilitas cek kesehatan bagi anak.

“Baiknya sesekali anak-anak ini dicek kesehatannya karena anak berkebutuhan khusus sulit dalam mengurus dirinya. Pengecekan kesehatan bisa membantu mengetahui seperti apa perkembangan mereka,” ujarnya.

Mengingat siswa SDLB terbatas dari sisi umur, menurut Dasma, sebaiknya dialihkan menjadi sekolah luar biasa (SLB) seperti di daerah lain. Sebab, pada kenyataannya, di SDLB Gunungsitoli ada beberapa siswa yang sudah berumur 14 tahun. Bukan tidak mungkin ada remaja-remaja di luar sana yang juga berkebutuhan khusus dan perlu mendapat pendidikan secara formal. Namun, rencana itu memerlukan pertimbangan dan persiapan yang lebih matang.

Tidak terasa, pertemuan sekitar dua jam pun berakhir. Menutup perbincangan siang itu, Dasma berpesan agar para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus bersabar dalam mengasuh. Sekolah juga tetap membuka kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus lainnya untuk bergabung. Persyaratannya sederhana, yakni mendaftar langsung dan menyerahkan fotokopi kartu keluarga, akta kelahiran, dan pasfoto calon siswa.
[ANOVERLIS HULU]