FIGUR

Fransiskus Forisman Laoli, Penyandang Tunanetra yang Ingin Memajukan Kaumnya

Fransiskus Laoli menunjukkan buku berhuruf Braille

Fransiskus Forisman Laoli menunjukkan buku berhuruf braille. | Foto: NBC/Anoverlis Hulu

NBC — Menjadi penyandang tunanetra bukanlah penghalang bagi Fransiskus Forisman Laoli untuk berkarya. Ia dikenal dengan keahliannya dalam memijat dan membuat keset kaki dari sabut kelapa. Namun, berbincang lebih jauh dengan pria luar biasa kelahiran Namõhalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, 18 Juni 1976, ini ternyata memiliki kelebihan lainnya.

Kamis (12/3/2015) siang, NBC bertandang ke rumah sekaligus tempat kerjanya di Desa Iraonogeba, Gunungsitoli. Di depan rumah kecil bercat putih itu ada tulisan “Pijat Tunanetra Talenta”. Di rumah tersebut, pria yang akrab disapa Frans ini tinggal dengan anak laki-lakinya yang bersekolah di salah satu SMK di Gunungsitoli. Namun, mereka tidak hanya tinggal berdua. Rumah bantuan dari Caritas Keuskupan Sibolga itu juga dihuni beberapa pelajar.

“Saya sudah sering mendengar tentang NBC,” ujarnya saat mengetahui siapa tamu yang datang.

Sebelum memulai wawancara, ia berkeluh kesah tentang minimnya perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap penyandang disabilitas.

Ingin Mandiri
Mengenyam pendidikan formal membuat Frans selangkah lebih maju. Ia pernah menempuh pendidikan di sekolah dasar umum yang ia sebut sebagai “SD Awas”. Ia juga pernah bersekolah di salah satu sekolah luar biasa di Medan selama satu setengah tahun. Di sinilah ia mengenal dan belajar huruf braille, yakni huruf khusus untuk penyandang tunanetra. Seusai menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut, ia kembali ke Nias.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini memang memiliki watak keras. Sadar akan kekurangannya, ia berpikir tentang apa yang harus ia lakukan demi masa depannya. Frans tidak ingin dipandang sebelah mata. Ia bersyukur, keinginannya untuk selalu berdiskusi dengan pihak Gereja membuka kesempatan baginya. Itulah yang kemudian membulatkan tekadnya masuk Panti Karya Hepata yang berlokasi di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, atas rekomendasi seorang pastor pada awal 2000.

Di panti itu, Frans belajar berbagai keterampilan. Ia memilih menekuni dua jurusan, yakni pijat dan prakarya. Dari sekian banyak jenis prakarya yang dilatihkan, ia memilih pembuatan keset kaki dari sabut kelapa.

“Banyak keterampilan yang ditawarkan di panti, tapi saya pilih membuat keset kaki karena bahan membuatnya masih bisa didapatkan,” ujar Frans.

Setelah menyelesaikan pelatihan pada 2002, Frans tidak lantas pulang ke Nias. Ia mempraktikkan keterampilannya itu selama delapan bulan di Kabupaten Karo. Barulah kemudian pada 2003 ia kembali ke kampung halamannya.

Sesampai di Nias, Frans tidak bekerja. Ia malah menganggur selama satu setengah tahun. Lalu, pada 2004, ia memberanikan diri memasang papan nama usahanya. Namun, saat itu ia membuka jasa pijat di rumah yang sulit dijangkau masyarakat. Setelah berpindah lokasi ke rumahnya yang sekarang, usahanya itu mulai dilirik banyak orang.

Untuk jasa pijat, Frans memasang tarif Rp 75.000 untuk pijatan seluruh tubuh. Ia juga membuka layanan pijat panggilan. Karena itu, ia menyediakan nomor telepon yang bisa dihubungi setiap waktu.

Karena jasa pijat tidak setiap saat ia lakukan, keterampilan membuat keset kaki ia kerjakan. Namun, Frans mengungkapkan, cukup sulit mendapatkan bahan sabut kelapa. Padahal, kelapa merupakan sumber daya alam yang cukup banyak di Pulau Nias. Karena itulah, ia baru bisa membuat kesek kaki jika bahan tersedia.

Biasanya, jika sabut kelapa yang tersedia sebanyak satu karung seberat 100 kilogram, ia bisa membuat 20 keset kaki. Satu keset kaki ia jual seharga Rp 50.000. Untuk memasarkannya, Frans terpaksa menawarkan keset dari toko ke toko secara langsung.

“Mungkin orang mengira harga itu terlalu mahal. Tetapi, kalau mereka tahu bagaimana saya mendapatkan bahan, membuatnya, lalu berjalan jauh untuk menawarkannya, sementara kondisi saya seperti ini, seharusnya mereka merasa kasihan. Maunya jangan ditawar lagi sampai di bawah dari setengah harganya,” ungkap Frans.

Keterampilan yang ia miliki itu ternyata menjadi modal bagi Frans untuk memperoleh penghasilan. Meski tidak pasti, setidaknya Frans membuktikan bahwa dirinya tidak perlu meminta-minta atau mengemis di jalanan.

Memajukan Kaum Difabel
Tidak hanya memijat dan membuat keset kaki, lelaki yang kehilangan sang istri pada 1998 ini melebarkan sayap ke bidang lain. Ia menjadi pengisi acara di Radio Dian Mandiri (RDM) yang kini berubah menjadi Radio Mercy Ya’ahowu.

Ada dua program yang ia bawakan, yakni Tunanetra Menyapa dan Kupas Habis. Program Tunanetra Menyapa menjadi ajang diskusi sekaligus menambah wawasan bagi penyandang tunanetra. Dari program ini, Frans menemukan perempuan penyandang tunanetra yang menjadi penerus pembawa program tersebut.

Sementara Kupas Habis merupakan program yang membahas profil tokoh terkenal. Sayangnya, program ini harus dihentikan karena sumber buku profil yang menggunakan huruf braille belum ia dapatkan.

“Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat untuk mengembangkan diri saya, tetapi juga menjadi kesempatan bagi saya untuk mentransfer ilmu yang saya miliki kepada sesama penyandang tunanetra,” kata Frans.

Ia juga membuat sebuah perkumpulan kecil antar-penyandang tunanetra. Melalui persekutuan itu, Frans juga memberdayakan penyandang tunanetra dengan mengajarkan berbagai keterampilan.

Akan tetapi, pria yang gemar menulis di media khusus penyandang tunanetra ini sadar bahwa jika hanya dirinya sendiri yang bergerak, tentu tidak akan maksimal. Karena itu, diperlukan dukungan dari pemerintah guna mendorong upaya tersebut. Salah satunya yang pernah ia perjuangkan adalah pengesahan organisasi Penyandang Tunanetra Indonesia di Nias (Pertuni). Namun, upayanya itu menemui jalan buntu. Ia harus menelan kekecewaan setelah tiga kali ditolak oleh dinas terkait.

Kursus Braille
Satu cita-cita yang ingin dilakukan Frans adalah mengajarkan huruf braille bagi penyandang tunanetra. Jika tidak diperkenankan membuat kursus, paling tidak Frans diperbolehkan punya satu murid saja.

Namun, untuk mewujudkan hal itu, Frans berharap ada sponsor atau orang yang berbaik hati memberikan bantuan. Bantuan tersebut dapat berupa papan tulis braille untuk pemula, papan hitung, dan riglet atau alat menulis braille.

“Saya hanya ingin agar sebelum saya pergi dari dunia ini, ilmu yang saya miliki bisa saya transfer. Pastinya gratis, yang penting alatnya tersedia dan tentunya atas seizin keluarga calon murid,” ungkapnya.

Ia sangat berharap keinginannya tersebut bisa segera terwujud. Karena itu, ia menyediakan nomor telepon yang bisa dihubungi, yakni 0853-5851-8351. Nomor ini juga bisa dihubungi oleh masyarakat yang ingin menggunakan layanan jasa pijatnya. [ANOVERLIS HULU]

Related posts