PILKADA SERENTAK

Bersedia Pulang ke Nias, Keputusan Hilarius dan Fakhili Mengejutkan

Hilarius dan Fakhili | Foto: Dokumen Pribadi

Hilarius Duha dan Fakhili Gulö | Foto: Dokumen Pribadi

Oleh Apolonius Lase

NBC —  Pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak 2015 di Pulau Nias menjadi ajang pencarian pemimpin terbaik bagi ono niha di empat kabupaten dan satu kota. Tentu masyarakat mana pun menginginkan perubahan di daerahnya. Mereka ingin ada pembaruan. Beberapa waktu terakhir ini sejumlah nama bergulir dan beredar di masyarakat yang disebar melalui media sosial yang digadang-gadang menjadi calon kepala daerah.

Dari sejumlah nama yang disebut-sebut, ada dua orang yang paling mendapatkan perhatian besar netizen dan masyarakat di Pulau Nias, yaitu Dr Hilarius Duha, SH, MH, dan Profesor Dr. Fakhili Gulö. Kedua tokoh ini saya kenal baik. Kami sering terlibat dalam forum diskusi, baik melalui media sosial maupun langsung bertemu muka. Keputusan kedua tokoh ini begitu mengejutkan dan tidak terduga.

Tak dimungkiri, kedua nama ini dikenal sebagai masih aktif di bidang yang digeluti masing-masing. Hilarius menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Cyber Crime Kepolisian Daerah Metro Jaya juga menjadi dosen hukum pidana di beberapa universitas di Jakarta. Sementara Fakhili Gulö adalah dosen tetap dan Guru Besar di Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan.

Hilarius. yang lahir pada 21 Oktober 1962, memiliki masa jabatan tujuh tahun lagi, sedangkan Fakhili (lahir 9 Desember 1964) masih menyisakan 20 tahun lagi masa tugas sebagai pegawai negeri. Fakta inilah yang membuat keduanya disorot oleh masyarakat di Pulau Nias. Hilarius tanpa diduga sebelumnya menyatakan siap pulang ke Nias Selatan, sedangkan Fakhili menyatakan siap membangun Nias Barat.

Keputusan mengejutkan dari kedua putra terbaik Pulau Nias ini menjadi sebuah oase baru bagi pencarian pemimpin daerah. Selama ini, yang selalu berkiprah untuk mencalonkan diri adalah mereka yang sudah bergelut lama di politik atau para pengusaha. Jarang sekali ada yang sedang berada di puncak karier sebagai akademisi ingin kembali ke daerahnya dan mau menjadi pelayan masyarakat.

“Saya masih tujuh tahun baru pensiun. Karier saya sudah bagus. Namun, selama 2 tahun terakhir, jujur saya mendapatkan dorongan begitu besar, baik dari keluarga maupun dari teman-teman, untuk kembali ke Nias Selatan dan mengabdi,” begitu ungkapan Hilarius beberapa waktu lalu.

Ia mengaku tidak begitu saja mengiyakan atau menolak permintaan itu. “Namun, saya terus berdialog kepada mereka, saudara dari Pulau-Pulau Batu, dari Lölöwa’u, Gomo, To’ene Asi, Telukdalam, dan wilayah lain, termasuk mereka yang berada di perantauan. Dengan dorongan dan hasil dialog dengan saudara-saudara itu maka akhirnya saya nyatakan bersedia,” ujar Hilarius saat berkomunikasi dengan penulis lewat telepon beberapa waktu lalu.

Hilarius memerlukan waktu lama untuk merenung dan memutuskan untuk pulang ke Nias. Ia memang mengaku bahwa di dalam jiwa dan sanubarinya kerinduan untuk bisa berbuat di daerah kelahirannya sudah terpatri lama. Seperti orang lain juga, pengalaman dan pengetahuan bekerja selama ini jika suatu saat ada kesempatan, ia berharap bisa diterapkan di daerah kelahiran.

Seperti diketahui, Hilarius ahli di bidang hukum pidana. Gelar doktoral yang disandangnya membawanya menjadi dosen di sejumlah universitas. Ia telah berpengalaman menjadi penyidik berbagai kasus. Kemudian, jiwa kepemimpinannya juga bisa dibilang tidak perlu diragukan lagi. Ia beberapa kali menjadi pemimpin di berbagai unit di lembaga kepolisian hingga membawanya sekarang menjadi Kepala Subdit Cyber Crime di Polda Metro Jaya.

Tidak jauh berbeda dengan Hilarius, Fakhili, Guru Besar Kimia Dasar, itu mengaku terpanggil untuk menjadi pemimpin di daerah kelahirannya. “Sebagai dosen, saya memiliki masa kerja sekitar 20 tahun lagi. Namun, jika masyarakat Nias Barat menghendaki, saya bersedia memimpin Nias Barat,” kata Fakhili kepada penulis awal Maret ini. “Saya siap berhenti dari jabatan dan tugas. Ini bentuk pengorbanan saya pada daerah kelahiran saya.”

Menjadi dosen dan sebagai direktur eksekutif sejumlah program di Universitas Sriwijaya, Fakhili juga ditempa menjadi seorang pemimpin. Ia mampu bekerja sama dengan koleganya dari berbagai negara serta dari universitas terkemuka di dunia.

Relakan Jabatan

Jika melihat latar belakang serta alasan mengapa kedua akademisi ini ingin pulang kampung dan rela mengorbankan jabatan, masyarakat di kedua daerah itu, Nias Selatan dan Nias Barat, patut mengapresiasinya. Pengorbanan untuk meninggalkan pekerjaan yang sudah dibina puluhan tahun tentu bukanlah sebuah perkara yang mudah. Akan tetapi, yang perlu digarisbawahi, keduanya telah ambil risiko itu dengan segala konsekuensinya.

Hilarius tentu tidak mulus untuk bisa mendapatkan raihan suara yang banyak. Ia akan bersaing dengan calon-calon lain, seperti petahana Idealisman Dachi, yang konon akan maju untuk kesempatan kedua; Asli Manaö, pensiunan polisi dan mantan Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN); serta sejumlah nama lainnya.

Begitu juga hal sama akan dialami oleh Fakhili. Rivalnya, mantan Pjs Bupati Nias Barat Faduhusi Daeli; anggota DPRD, Khenoki Waruwu; bahkan disebut-sebut juga petahana, Adrianus Aroziduhu Gulö, akan maju lagi; dan ada juga pengusaha Herman Waruwu yang telah mulai ambil ancang-ancang menjadi calon kepala daerah.

Memilih partai politik sebagai kendaraan juga perlu diperhitungkan secara matang oleh kedua tokoh ini. Eskalasi politik secara nasional perlu dipertimbangkan, misalnya adanya beberapa partai politik yang memiliki dualisme kepengurusan. Kita memang berharap sebelum pendaftaran calon di KPU masalah yang dialami oleh parpol seperti Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan segera selesai.

Elektabilitas

Pertanyaan berikutnya, bagaimana peluang keterpilihan kedua tokoh ini? Bicara soal ketenaran, Di tingkat nasional, Hilarius sudah tak asing lagi. Ia hampir setiap hari menjadi narasumber di sejumlah televisi, koran, dan media dalam jaringan nasional. Kita masih ingat sukses Polda Metro Jaya membongkar akun @TrioMacan2000. Salah satu orang di belakang pengungkapan itu adalah Hilarius Duha. Lewat kasus itu dan sejumlah kasus lainnya, nama ayah empat anak ini pun makin tenar.

Begitu juga Fakhili, sebagai ilmuwan, namanya pun sudah cukup mendunia. Sejumlah hasil penelitiannya menjadi rujukan para ilmuwan di belahan dunia mana pun. Tak mengherankan jika namanya dinobatkan oleh Google sebagai salah satu dari 100 ilmuwan Indonesia yang paling sering dirujuk.

Akan tetapi, ketenaran di tingkat nasional dan dunia ini perlu diikuti usaha untuk bisa dikenal di alas rumput, di tingkat warga desa demi desa yang memiliki hak memilih. Tantangan ini tentu menjadi pekerjaan rumah kedua tokoh ini dan tim sukses mereka masing-masing.

Baik Hilarius maupun Fakhili tak bisa hanya puas dengan mengandalkan ketenarannya secara nasional dan dunia lalu akan dipilih oleh masyarakat. Modal tenar ini harus terus didukung dengan interaksi aktif dengan masyarakat supaya kedua nama ini bisa dikenal lebih luas lagi, terlebih oleh calon pemilihnya.

Sebagai pendatang baru di kancah politik, Hilarius dan Fakhili sebaiknya secara aktif memperkenalkan diri kepada masyarakat agar dikenal. Waktu yang tersedia tentu perlu dimanfaatkan untuk berinteraksi untuk menyampaikan pandangan sekaligus bisa dikenal lebih dekat oleh masyarakat.

Jangan Kecewakan Rakyat

Sekali lagi, pilkada serentak, yang jika tidak berubah akan dilaksanakan pada Desember 2015, ini adalah momentum bagi warga di kepulauan Nias memilih pemimpin mereka yang bisa membawa perubahan. Dengan demikian, para pemilih diharapkan tidak sembarangan menggunakan hak pilihnya, apalagi jika memilih berdasarkan siapa yang bayar, seperti praktik yang selama ini terjadi.

Kita mengharapkan ada proses pemilihan yang jujur, fair, dan tidak melanggar aturan di semua daerah di Pulau Nias. Pelanggaran sekecil apa pun tidak boleh ditoleransi. Tanggung jawab ini tentu diemban oleh pelaksana pilkada, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu, serta Panitia Pengawas Pemilu.

Siapa pun yang terpilih, termasuk jika Hilarius dan Fakhili berhasil meraih simpatik dan sukses memenangkan hati rakyat di daerah masing-masing, janganlah pernah kecewakan masyarakat. Pemimpin baru Nias harus berani memberikan perbedaan dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya yang akan digantikannya.

Saya mengusulkan, sudah saatnya para calon peserta pilkada bersaing lewat program yang akan diusung bukan dengan membagi-bagikan uang kepada masyarakat. Jika ada yang akan bagi-bagi uang, berarti calon itu dipastikan kelak tidak jujur dan akan melakukan tindak pidana korupsi untuk mengganti kerugian.

Para calon dan tim sukses harus mulai berpikir sejak sekarang untuk membuat program yang masuk akal, penting, dan dibutuhkan masyarakat. Sajikan program itu sedemikian rupa dalam berbagai platform yang bisa diakses sehingga bisa menarik simpatik masyarakat. [APOLONIUS LASE, Pemerhati Sosial dan Politik; Tinggal di Jakarta]

Related posts