PROFIL DESA

Bawömataluo Mesti Terus Berbenah

Tim fatele (tari perang) bersiap tampil pada pembukaan BE-I. 13 Mei 2011. | Foto: Apolonius Lase

Tim fatele (tari perang) bersiap tampil pada pembukaan BE-I. 13 Mei 2011. | Foto: Apolonius Lase

NBC — Siapa yang tidak kenal dengan Desa Bawömataluo? Wisatawan lokal dan mancanegara pasti akan menjadikan desa ini sebagai salah satu tempat yang akan dikunjungi. Rumah adat nifolasara (omo sebua) atau rumah raja diikuti oleh deretan rumah adat khas Nias Selatan berhadap-hadapan berdiri kokoh menyambut para wisatawan yang datang. Halaman rumah yang luas yang ditutupi dengan batu-batu alam pipih menambah kemegahan desa ini. Tidak itu saja, takhta raja yang diukir dari batu serta keberadaan tugu untuk atraksi hombo batu menyempurnakan keagungan desa dengan luas sekitar 17.000 hektar itu.

Ariston Manaö | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

Ariston Manaö | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

Ya, desa ini telah menjadi ikon pariwisata di Pulau Nias, khususnya di Nias Selatan. Lewat kekompakan pemimpin desa dengan warganya, denyut kehidupan pariwisata di desa berpenduduk 6.218 orang itu terus itu berdetak meskipun belum semasif yang diharapkan. Kita masih ingat pelaksanaan Festival Budaya Bawömataluo atau Bawömataluo Expo I (BE-I) pada 13-15 Mei 2011 telah melambungkan nama desa ini ke tingkat dunia.

Pelaksanaan acara yang dirancang oleh Ariston Manaö, Kepala Desa Bawömataluo,  dan mendiang Hikayat Manaö serta didukung penuh oleh Yayasan Delasiga kala itu disebut-sebut sebagai acara yang fantastik, sesuai temanya “Bawömataluo Fantastic”. Pada hari ketiga acara itu, pengunjung sebanyak lebih dari 20.000 orang membanjiri Desa Bawömataluo. Hingga sekarang, rekor jumlah pengunjung terbesar dalam sehari itu belum terpecahkan. Hampir semua media nasional datang meliput festival budaya tersebut.

“Itu jadi momentum yang bersejarah,” kata Ariston Manaö. “Kami kemudian melanjutkan dengan Bawomataluo Expo II pada 6-16 Juni 2013. Saya menggandeng Organisasi Bravo untuk menghelat acara itu dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Nias Selatan.” Ariston mengakui bahwa BE-II tak sesukses BE-I.

Setelah pelaksanaan BE-I, banyak pihak berharap secara reguler acara serupa digelar dengan agenda dan waktu pelaksanaan yang sudah pasti. Dengan demikian, para wisatawan di seluruh dunia bisa bersiap jauh-jauh hari sebelumnya untuk berlibur ke Nias dan menghadiri acara megah tersebut. Tahun 2012 dan 2014, acara sejenis tidak dilaksanakan. Alasan paling utama dan sangat klasik adalah ketiadaan pihak yang mau mendanai dan mensponsori acara tersebut.

“Pada Juni 2015 ini, BE-III direncanakan digelar. Kami berharap ada dukungan semua pihak yang menghendaki Kepulauan Nias menjadi ikon pariwisata dan tujuan wisata alternatif setelah Bali. Pada awal Maret 2015, kami segera membentuk panitia Bawömataluo Expo III,” ujar Ariston, awal Februari 2015.

Bicara potensi wisata, Desa Bawömataluo memiliki sejumlah keunikan budaya yang laku dijual serta patut terus dilestarikan. Ariston merinci, potensi itu adalah Bawagöli (ladder layered stone courtyard);  Omo Nifolasara (the king house); Bale (the customary convention); hombo batu (jumping stone); Famadaya Harimo (an effigy); Fatele (war dance); Batu Faulu atau Daro daro (a stone monument ancestors); Hoho,Fabölösi (elegy in literature ancient Nias); Omo Hada (arrangement of hundreds of custom home); Somböi Adu (handycraft);     Maena (dance); Goa Galawasa (cave rock); Namö si 12 (waterfall); pemandangan matahari terbenam (sunset); galeri (Gaule Ana’a Gallery); dan wisata kuliner.

Salah satu gerai yang menjual kerajinan tangan penduduk Desa Bawömataluo, 13 Mei 2011, pada pelaksanaan Bawömataluo Expo I. | Foto: Apolonius Lase

Salah satu gerai yang menjual kerajinan tangan penduduk Desa Bawömataluo, 13 Mei 2011, pada pelaksanaan Bawömataluo Expo I. | Foto: Apolonius Lase

Ketika datang berkunjung ke Desa Bawömataluo, pengunjung bisa menikmati suguhan atraksi hombo batu. Untuk satu paket dengan pelompat batu sebanyak 3 orang, pengunjung tinggal merogoh kocek sebesar Rp 500.000. “Dari uang Rp 500.000 itu, Rp 50.000 atau 10 persen dimasukkan ke kas desa. Kas desa itu dipergunakan untuk membayari petugas kebersihan desa. Sementara setiap pelompat dibayar Rp 150.000,” ujar Ariston.

Dukungan Warga

Sang Kepala Desa, Ariston Manaö, kepada penulis bercerita soal kerinduannya agar lewat pariwisata semua warga desa mendapatkan kesejahteraan.

“Ada moto Desa Bawömataluo tentang kepedulian terhadap pembangunan desa, yaitu Na so wahasara dödö, na so wahasara li, ta’olikhe gawöni, ta’olae gulinasi, yang artinya kalau ada kebersamaan, tidak ada alasan untuk tidak mampu kita melakukan sesuatu itu untuk kesejahteran dan kemakmuran bersama,” ujarnya.

Mate zilö banua auri zilö ngambatö, artinya malang bagi orang yang tidak memiliki hidup bermasyarakat, Namun, hidup orang yang tidak memiliki kerabat/keluarga.” Dua kalimat ini terus menjadi pelecut bagi semua warga Bawömataluo untuk menjaga harmoni dan maju bersama.

Komposisi warga Desa Bawömataluo hingga Februari 2015 ini, seperti disampaikan Ariston, jumlah penduduk laki-laki 3.096 jiwa dan perempuan 3.122 jiwa. Jumlah itu tersebar di 1.310 keluarga. Tentu, jumlah penduduk inilah menjadi modal bagi desa untuk menjalankan pembangunan.

Dari warga yang produktif, 50 persen bekerja sebagai petani, 15 persen perajin, 15 persen tukang, 10 persen karyawan/buruh, 4 persen pegawai negeri sipil (honorer), 2 persen sebagai pedagang, 2 persen nelayan, dan 2 persen jasa.

Ariston berharap, seluruh penduduk Bawömataluo mengedapankan kebersamaan ketika nanti BE-III akan digelar pada Juni mendatang.

Warga desa Bawömataluo sadar betul bahwa desa mereka memiliki potensi besar untuk kegiatan pariwisata. Karena itu, warga desa ini pun bersepakat untuk membuat rambu-rambu atau aturan-aturan yang dibuat bersama serta dipatuhi secara bersama. Aturan-aturan desa itu antara lain menjaga ketertiban, keamanan, kebersihan, dan keindahan desa; wajib ambil bagian setiap ada kegiatan gotong royong desa; membersihkan rumput di pekarangan desa; membabat rumput di pinggir jalan di lingkungan desa; menjaga pos siskamling di pos ronda desa; membersihkan drainase atau sanitasi di lingkungan desa.

Salah satu aturan di desa adat ini, sepeda motor tidak boleh dihidupkan. Warga harus menuntun sepeda motor saat melintasi halaman Desa Bawömataluo. | Foto: Apolonius Lase

Salah satu aturan di desa adat ini, sepeda motor tidak boleh dihidupkan. Warga harus menuntun sepeda motor saat melintasi halaman Desa Bawömataluo. | Foto: Apolonius Lase

“Juga ada larangan menaiki kendaraan di halaman desa; larangan mengotori sumber air bersih desa; larangan merusak,menghilangkan, mencuri fasilitas umum/aset desa; larangan keras mengganggu dan berbuat tidak senonoh pada tamu desa/wisatawan; tamu wajib melapor; larangan keras memberikan informasi yang salah kepada tamu; larangan mengotori lingkungan desa atau membuang sampah sembarangan; kewajiban menerima konsekuensi/risiko/denda pada pelanggar aturan adat; dan beberapa peraturan yang termaktub pada peraturan desa,” urai Ariston.

Selain itu, guna melestarikan adat istiadat beberapa hal yang menjadi perhatian seluruh warga di Desa Bawömataluo. Pihak pemangku kepentingan terus-menerus membangun kesadaran masyarakat bahwa mereka bermukim dan tinggal di Desa Bawomataluo yang memiliki budaya dan Adat istiadat Desa Bawomataluo. Hukum adat wajib dilaksanakan untuk ditaati oleh seluruh warga Desa Bawömataluo tanpa terkecuali.

“Setiap warga adalah yang melanjutkan dari apa yang sudah ada yang telah ditetapkan sebagai hukum adat oleh pendahulu dan para leluhur Desa Bawömataluo melalui forum musyawarah desa (orahua/fondakö). Hukum adat Desa Bawomataluo adalah yang terbaik dari adat daerah/suku lainnya sehingga setiap warga wajib menaatinya dan menjadikannya acuan bagi desa/daerah lainnya. Adat istiadat desa/daerah lain patut kita hargai dan tidak bertujuan untuk mengganti. Adat istiadat yang menjadi kehidupan keseharian masyarakat Desa Bawömataluo. Setiap perubahan aturan hukum adat di Desa Bawömataluo itu hanya dapat dilakukan melalui fondakö/orahua para tokoh adat si’ulu, si’ila, dan ere,” kata Ariston.

Fasilitas Pendukung

Menjadi tempat tujuan wisata, Bawömataluo perlu terus membenahi diri agar memberikan pelayanan yang prima kepada setiap pengunjung sehingga mereka betah berlama-lama di desa “Bukit Matahari” itu. Belajar dari pengalaman sejauh ini, Ariston mengakui, kebutuhan akan akomodasi pariwisata berupa homestay menjadi pekerjaan rumah di desa ini, termasuk juga kesediaan WC (toilet), kolam renang, dan restoran.

Sejauh ini di Desa Bawömataluo sudah tersedia 10 unit homestay berupa rumah tradisional Bawömataluo,  5 toko suvenir,  1 Asosiasi Perajin & Sanggar Gaule Ana’a, 18 industri kerajinan rumahan, 1 unit WC (toilet), serta 3 unit area parkir kendaraan daya tampung 100 unit kendaraan roda empat dan 500 unit kendaraan roda dua.

“Selain itu, sekarang jalan akses menuju Desa Bawömataluo sudah dilapisi dengan aspal hotmix. Pokoknya sudah mulus,” kata Ariston.

Pengadaan toko serba ada juga perlu diperhatikan. Jika toserba ada, para pelancong dan wisatawan itu tidak perlu ke kota Telukdalam untuk belanja kebutuhan.

Untuk fasilitas kesehatan, di Desa Bawömataluo sudah tersedia pusat kesehatan masyarakat pembantu (pustu) dan sebuah polindes. Di sarana kesehatan ini, masyarakat desa bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Membekali warga desa dengan pendidikan yang layak juga sudah menjadi perhatian di desa ini. Sarana pendidikan, mulai dari paling rendah hingga SMA telah disediakan bagi warga Desa Bawömataluo. Sarana pendidikan itu adalah PAUD Bawömataluo, TK Mandiri, SDN No 071101 Bawömataluo, SDN No 071102 Bawömataluo, SMPN II Fanayama, SMPN IV Fanayama, SMAN I Fanayama, SMKN I Fanayama.

Untuk bidang pembinaan aklak dan keagamaan di Desa Bawömataluo tersedia 5 gedung gereja dari 5 denominasi, yaitu Gereja Banua Keriso Protestan Nias (BKPN), Gereja Katolik Santo Petrus, Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Bala Keselamatan, dan Gereja Pentakosta Tabernakel Indonesia (GPTI).

Warga Bawömataluo bersiap pergi ibadah. | Foto: Apolonius Lase

Warga Bawömataluo bersiap pergi ibadah. | Foto: Apolonius Lase

Keragaman kepercayaan dan keyakinan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Bawomataluo. “Keberagaman ini justru menumbuhkembangkan khazanah budaya alkuturasi,” kata Ariston.

Mendesak Dilakukan

Ariston mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat sejumlah hal perlu dilakukan untuk membenahi desa wisata Bawömataluo. Hal itu antara lain pembukaan jalan tani dan akses jalan lorong desa. Untuk diketahui Bawömataluo terbagi 11 dusun, yaitu Dusun I (Lorong Hosi, Lorong Hili Sitöra, Lorong Turu-turu); Dusun II (Lorong Gereja, Lorong Lubo Dambu, Lorong Hele Ua); Dusun III (Lorong Löu Selatan, Lorong Halambaa Barat, Lorong Pem. Baru); Dusun IV (Lorong Löu Utara, Lorong Lasara Barat); Dusun V (Lorong Lasara Timur, Lorong Drölö Mbagoa Barat); Dusun VI (Lorong Drölö Mbagoa Timur, Lorong Raya Utara); Dusun VII  (Lorong Raya Selatan, Lorong Halambaa Timur, Lorong Hili Berua); Dusun VIII (Lorong Lumönö); Dusun IX  (Lorong Lala Hele Raya); Dusun X (Lorong Howu-Howu, Lorong Sobatu); Dusun XI (Lorong Löhö, Lorong Perumahan BRR).

Selain itu, perbaikan sanitasi pembuangan dan rehabilitas drainase/parit di lingkungan desa. Juga dibutuhkan mobil pemadam kebakaran pikap/mini bus yang dapat masuk jalan lorong-lorong desa. Pengadaan 2 unit WC khusus tamu; Pembangunan tempat jemuran di setiap rumah warga desa sehingga tidak terlihat semrawut; Penanaman Kabel listrik di bawah tanah atau pemindahan instalasi listrik di belakang rumah; Pemindahan antena, parabola, yang berbau modern yang menghilangkan ciri khas desa tradisional.

“Banyak lagi yang mendesak dibangun, antara lain pasar tradisional, los suvenir, rumah potong, tembok penahan tebing (TPT), akses jalan di beberapa situs dan obyek wisata, renovasi rumah tradisionil dan pemulihan pada bentuk aslinya, lampu penerangan jalan, gedung serba guna, work centre perajin, dan museum,” kata Ariston merinci kebutuhan mendesak di desanya.

Air Bersih

Kebutuhan akan air bersih juga salah satu perhatian di Desa Bawömataluo apalagi desa ini berada di ketinggian 324 meter di atas permukaan laut. Meskipun demikian, kebutuhan air bersih warga desa sejauh ini bisa tercukupi dengan tersedianya 6 pemandian umum, 2 unit pipanisasi, 1 unit pompanisasi.

“Khusus air ini desa telah menerapkan beberapa peraturan bersama yang harus dipatuhi, yakni biaya operasional dikutip iuran setiap keluarga sebesar Rp 10.000 per bulan. Kemudian kami telah membentuk Komite Air Bersih. Komite inilah yang bertanggung jawab mencari solusi ketika ada permasalahan terkait air bersih. Jadi, untuk sementara debit dan volume air yang ada sudah bisa memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat desa, termasuk para tamu,” kata Ariston.

Salah satu sudut Desa Bawömataluo | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

Salah satu sudut Desa Bawömataluo | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

Jika Desa Bawömataluo menjadi pusat perhatian orang, desa-desa tetangga perlu juga kreatif untuk mengambil posisi sebagai desa pendukung sehingga secara ekonomi juga bisa terdongkrak dari sektor pariwisata ini. Desa-desa yang berbatasan dengan Bawömataluo itu adalah sebelah Tenggara berbatasan dengan Talu Lōu, Hao Ana’a arah Desa Hili Zihōnō; sebelah Timur berbatasan dengan Hili Fasōma arah Desa Hili Sondrekha; sebelah Selatan berbatasan dengan Sagu Sihōnō arah Desa Hiliamaeta Niha; sebelah Timur Laut berbatasan dengan Delau Nali arah Desa Hili Mondregeraya; sebelah Utara berbatasan dengan Dou Nibago-bago arah Desa Hili Namōza’ua; sebelah Utara berbatasn dengan Gawu-gawu arah Desa Siwalawa; sebelah Barat Laut berbatasan dengan Batu Nitaruō arah Desa Hili Simaetanō; sebelah Barat Laut berbatasan dengan Lala Baowo arah Desa Hili Maenamōlō; sebelah Barat berbatasan dengan Saga-saga arah Bawagōli Desa Hili Amaeta; sebelah Barat berbatasan dengan Endro’ō arah Desa Lagundri; serta sebelah Barat Daya berbatasan dengan Idanō Soyo arah Naniō.

Desa tua Bawömataluo ini telah dipimpin secara bergantian oleh kepala desa pilihan rakyat. Ariston masih bisa menyebutkan mereka yang pernah menjadi kepala desa di Bawömataluo, yaitu Kepala Desa Ariston Manaö, Kepala Desa Memoris Wau, Kepala Desa Mowa’a Wau, Kepala Kampung Awani Wau, Kepala Kampung Dasiwa Wau, Kepala Kampung Bajanalui Fau, Siu’ulu Fareta Nifareso Wau (PJS), Siu’ulu Fareta Tuhe Nöri Samögö Fau, Siu’ulu Fareta Tema Wau, Siu’ulu Fareta Maoso Wau, Siu’ulu Fareta Fociako Wau, Siu’ulu Fareta Nitou’ö Fau, Siu’ulu Fareta Ruyu Fau, Siu’ulu Fareta Saonigeho Fau, Siu’ulu Fareta Laowö Fau.

Semua kepala desa, kepala kampung, dan si’ulu fareta yang disebutkan ini tentu telah mememberikan sumbangsih masing-masing pada kemajuan dan kondisi Bawömataluo hingga bisa seperti sekarang.

Kini, kita, generasi muda, menikmati ondröita (warisan) para leluhur di Desa Bawömataluo. Potensi yang ada di desa ini patut dijaga dan dilestarikan sehingga bisa menjadi warisan bagi anak cucu kita kelak. Tulisan yang sarat data ini diharapkan bisa berguna untuk segala usaha pelestarian demi kesejahteraan masyarakat di Bawömataluo dan sekitarnya. [APOLONIUS LASE]

Related posts