ANGGARAN DINAS PERTANIAN

Rp 15 Miliar Anggaran Dinas Pertanian Nias Utara

Kepala Dinas Pertanian kabupaten Nias Utar Folo'o Harefa (duduk) bersama Sekretaris Dinas Pertanian Famoni Giawa saat membaca program 2015. Senin (23/2/2015). Foto NBC/Onlyhu Ndraha.

Kepala Dinas Pertanian Nias Utara Folo’ö Harefa (duduk) bersama Sekretaris Dinas Pertanian Famoni Giawa saat membaca program 2015, Senin (23/2/2015). | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

LOTU, NBC —  Anggaran Dinas Pertanian Kehutanan Kabupaten Nias Utara tahun 2015 sebesar Rp 15 miliar, yang berasal dari APBD Nias Utara senilai Rp 540 miliar. Menurut Kepala Dinas Pertanian Folo’ö Harefa, anggaran sebesar itu dialokasikan pada pengadaan bibit karet okulasi, ternak sapi, ternak babi, pembangunan gedung pestisida, dan pembangunan jalan pertanian.

Hal tersebut dikatakan Folo’ö kepada NBC di ruang kerjanya di Lotu, Senin (23/2/2015).

“Anggaran tahun ini sebesar Rp 15 miliar. Itu termasuk biaya ATK (alat tulis kantor) dan perjalanan dinas,” ujar Folo’ö yang didampingi Sekretaris Dinas Pertanian Famoni Giawa.

“Tahun ini pembibitan karet sebanyak 170.000 batang dari angggaran Rp 15 miliar,” lanjutnya.

Kegunaan uang itu, kata Folo’ö, juga untuk pengadaan lima ternak sapi dengan harga Rp 100 juta dan ternak babi yang akan dibagikan kepada masyarakat dengan pagu dana Rp 160 juta. Anggaran itu juga untuk pembangunan pusat kesehatan hewan, gedung pestisida, dan pembibitan tanaman hortikultura Rp 5,7 miliar serta  pengadaan bibit padi.

Selain itu, anggaran itu juga untuk pembangunan jalan pertanian di 25 lokasi, untuk setiap lokasi Rp 200 juta, serta pelatihan vaksinasi rabies dan kegiatan lain.

Rehabilitasi Irigasi

Sementara itu, dana pembangunan rehabilitasi irigasi berasal dari APBD Sumatera Utara sebesar Rp 450 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk rehabilitasi  irigasi di Alasa, Namöhalu Esiwa, Tuhemberua, Sawö, Afulu, dan Lotu. (Baca: Seminggu Kemarau, Petani di Lotu Khawatir Gagal Panen)

Rehabilitasi ini hanya berupa perbaikan pada irigasi yang sudah ada. Areal yang akan dialiri seluas 400 hektar, sedangkan areal sawah di Kabupaten Nias Utara mencapai 9.101 hektar.

“Areal sawah yang masih butuh irigasi lebih dari 8.000 hektar,” kata Folo’ö.

Ia berjanji tahun mendatang akan memprioritaskan pembangunan irigasi sehingga Nias Utara dapat menuju swasembada pangan.

Folo’ö juga menginformasikan bahwa pembangunan irigasi pada 2013 oleh Dinas Pekerjaan Umum Nias Utara di Mediti, Desa Banua Sibohou I, Kecamatan Alasa, tidak dapat berfungsi. Menurut dia, pembangunan itu tidak bermanfaat karena salah perencanaan. Karena itu, dam tersebut tidak dapat direhabilitasi.

Dihubungi terpisah, seorang warga Desa Banua Sibohou I, yang meminta namanya tidak disebutkan, membenarkan bahwa bangunan itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Narasumber itu mengatakan, tahun 2011 pembangunan irigasi di Mediti dimulai dan telah putus kontrak, kemudian dilanjutkan lagi pada 2013. Pengerjaan irigasi itu juga belum sepenuhnya selesai. Akibatnya, bendungan pecah dan saluran air yang menuju sawah terbengkalai sehingga sawah tidak dapat difungsikan lagi dan menjadi tanah kering.

“Irigasi Mediti telah merusak sawah orangtua saya sekitar 2 hektar. Kini menjadi kering. Permukaan sawah telah tertutup pasir dari Sungai Mediti,” ujarnya. [NDH]

Related posts