ASURANSI KEBAKARAN

Rawan Kebakaran, Perlukah Rumah Diasuransikan?

Sudarman Zebua, Anak Nurzanah Zega, yang rumahnya terbakar sedang mencari barang yang bisa dipakai di reruntuhan rumahnya yang terbakar, Selasa (3/2/2015). Foto: Irwanto Hulu

Sudarman Zebua, anak Nurzanah Zega, yang rumahnya terbakar, mencari barang yang bisa dipakai di reruntuhan rumahnya yang terbakar, Selasa (3/2/2015). | Foto: NBC/Irwanto Hulu

GUNUNGSITOLI, NBC — Awal Februari 2015, warga Kota Gunungsitoli kembali dikejutkan atas musibah kebakaran yang melanda enam rumah warga di Gang Saudara, Jalan Diponegoro, Kelurahan Ilir.

Kini, rumah warga yang terbakar dilalap si jago merah itu tinggal onggokan arang yang menunggu dibersihkan dan dibangun kembali oleh si empunya rumah yang hanya bisa pasrah dan menunggu uluran tangan dermawan.

Bantuan ala kadarnya yang diterima korban kebakaran dari Pemerintah Kota Gunungsitoli dan dermawan terus mengalir. Namun, bantuan tersebut tidak dapat mengembalikan kondisi sebelumnya.

Ini disebabkan untuk membangun kembali rumah yang terbakar, para korban, Khadir Zega alias Ama Agus, Nurzanah Zega, Asima Harefa, Asril Harefa, Sitiami Dohare, dan Syafrudin Hia, memerlukan dana yang cukup besar.

Untuk bisa mendapat dana tersebut, solusi terakhir hanya ganti rugi dari asuransi. Namun, keenam rumah yang terbakar itu belum terdaftar sebagai peserta asuransi kebakaran. Akibatnya, biaya ganti rugi atas bencana kebakaran untuk keenam rumah warga yang terbakar di Gang Saudara itu  tidak akan pernah ada.

Tidak Sanggup Bayar Asuransi

Sudarman Zebua, anak dari Nurzanah Zega, yang ditemui NBC sehari setelah musibah, hanya bisa pasrah menerima apa yang terjadi. Menunggu ada biaya untuk membangun kembali rumahnya, Sudarman bersama ibu dan adik-adiknya untuk sementara waktu tinggal di rumah keluarga dekat.

“Sementara waktu, kami tinggal di rumah saudara dulu, menunggu ada tempat yang bisa kami tinggali atau ada biaya untuk membangun rumah kami lagi. Kami hanya bisa pasrah dan mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk bisa membangun kembali,” ujar Sudarman dengan lirih, sambil mengais-ngais reruntuhan rumahnya untuk mencari barang yang bisa digunakan.

Disinggung apakah rumahnya sudah diasuransikan, Sudarman mengatakan belum. Rumah peninggalan ayahnya belum diasuransikan karena dirinya sebagai tulang punggung keluarga hanya bekerja sebagai buruh harian lepas dan tidak mampu membayar asuransi.

“Saya tahu ada asuransi kebakaran, tetapi saya tidak sanggup karena untuk makan sehari-hari saja masih pas-pasan. Kami hanya bisa pasrah dan mengharapkan bantuan pemerintah dan dermawan untuk dapat membangun rumah kami,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Tidak Tahu Ada Asuransi Kebakaran

Berbeda dengan Khadir Zega alias Ama Agus yang ditemui NBC seusai menerima bantuan berupa paku, seng, dan semen dari Wali Kota Gunungsitoli, Rabu (4/2/2015).

Khadir yang mengalami luka bakar di bagian tengkuk dan tangan mengatakan, dirinya tidak pernah mendengar ada asuransi kebakaran. Dia mengklaim menderita kerugian lebih kurang Rp 200 juta akibat kebakaran tersebut.

Rumahnya yang baru selesai dibangun tiga bulan lalu dari hasil jerih payah selama bertahun-tahun kini tinggal onggokan arang yang tidak dapat ditempati lagi.

“Rumah saya baru selesai saya bangun tiga bulan lalu, dan saya belum mengasuransikannya. Bagaimana saya bisa mengasuransikan, saya juga baru tahu kalau ada asuransi kebakaran dari Bapak,” ungkap Khadir Zega.

Masuk Asuransi Kebakaran Butuh Biaya Besar

“Masuk asuransi kebakaran memang sangat menguntungkan, tetapi kita harus mengeluarkan biaya besar dan rela uang yang kita setorkan kepada asuransi hangus atau tidak kembali. Sebab, jika dalam satu tahun rumah yang kita asuransikan tidak terbakar, uang asuransi yang kita setor jadi milik pihak asuransi,” papar Tapak Wong, tokoh agama Kota Gunungsitoli.

Rumah Tapak Wong dan sejumlah warga lainnya yang terbakar pada tahun 2013 yang lalu. Foto : Irwanto Hulu

Rumah Tapak Wong dan sejumlah warga lainnya yang terbakar pada 2013. | Foto: NBC/Irwanto Hulu

Tapak Wong yang rumahnya terbakar tahun 2013 mengatakan, masuk asuransi kebakaran bukan hal mudah dan harus mau rugi. Akibat prosedur tersebut, dia juga tidak mengasuransikan rumahnya.

Ia pernah mengikuti asuransi pinjaman pada salah satu bank di Kota Gunungsitoli. Namun, jika rumahnya terbakar, pinjamannya yang cukup besar dari bank tersebut dianggap hangus atau diputihkan.

“Bagaimana kami sanggup mengasuransikan rumah kami, biaya yang harus kami bayar 0,35 persen dari nilai rumah kepada asuransi. Kalau rumah kami nominalnya Rp 1 miliar, kami harus bayar Rp 35 juta kepada asuransi, dan uang tersebut hangus atau jadi milik asuransi jika rumah kami tidak terbakar dalam satu tahun,” tutur pemilik toko kelontong di Jalan Diponegoro, Kelurahan Ilir, Kota Gunungsitoli, itu.

Asuransi Kebakaran Belum Ada di Kota Gunungsitoli

Dari penelusuran NBC pada sejumlah asuransi yang ada Kota Gunungsitoli belum tersedia asuransi khusus kebakaran. Asuransi Bumiputera dan Prudential, yang ada di Gunungsitoli, tidak menjual produk asuransi kebakaran. Kedua asuransi tersebut cenderung hanya melayani asuransi jiwa yang dipadukan dengan asuransi kesehatan dan investasi.

Kepala Cabang Asuransi Bumiputera Yonas Ndruru yang ditemui NBC di kantornya, beberapa hari lalu. Menurut Yonas, hingga saat ini, asuransi yang dia tangani di Kota Gunungsitoli tidak melayani asuransi kebakaran.

Namun, dia bisa menfasilitasi jika ada warga yang ingin mengasuransikan rumahnya karena asuransi Bumiputera mempunyai anak perusahaan Bumiputera Muda (Bumida) 1967 yang khusus melayani asuransi kebakaran.

Bumida hanya membuka cabang di Siantar dan Medan. Karena itu, dia harus berkoordinasi dahulu dengan Bumida Siantar atau Medan apabila ada warga Kota Gunungsitoli yang ingin mengasuransikan rumahnya.

Dari penuturan Yonas Ndruru, diketahui bahwa untuk masuk asuransi kebakaran, pemohon harus membayar terlebih dahulu tarif 0,39 permil dari biaya rumah yang akan diasuransikan. Jika pemohon mengasuransikan rumahnya dengan nominal Rp 1 miliar, pemohon wajib membayar kepada asuransi sebesar Rp 39 juta.

Asuransi kebakaran hanya berlaku satu dekade atau 10 tahun. Jika rumah yang diasuransikan tidak terbakar dalam satu tahun, uang yang telah disetorkan kepada asuransi akan hangus atau menjadi milik asuransi.

Jika ingin melanjutkan kembali, warga yang mengasuransikan rumahnya harus menyetorkan kembali uang sebesar setoran pertama. Begitu pula untuk tahun-tahun selanjutnya apabila rumah yang diasuransikan tidak terbakar.

Untuk menentukan rumah layak asuransi, pihak asuransi sebelum menyetujui permohonan warga harus melakukan survei rumah yang akan diasuransikan, rumah tetangga, dan lingkungan sekitar rumah yang akan diasuransikan. Pihak asuransi tidak menerima permohonan asuransi untuk rumah papan atau toko, dan hanya menerima permohonan asuransi rumah pribadi yang seluruhnya permanen.

Sesuai hasil penelusuran dan wawancara dengan beberapa korban kebakaran dan pihak asuransi, kini kita mengetahui mengapa banyak rumah di Kota Gunungsitoli tidak diasuransikan. Alasannya, selain persyaratan rumah yang layak asuransi telah ditentukan pihak asuransi, biaya besar yang harus disetorkan kepada pihak asuransi juga menjadi suatu kendala bagi pemilik rumah.

Bahkan, pemilik rumah yang rumahnya diasuransikan harus rela uang asuransi rumahnya hangus atau menjadi milik pihak asuransi jika rumah yang dia asuransikan tidak terbakar dalam satu tahun.

Meskipun demikian, pemerintah daerah dinilai perlu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengikuti asuransi kebakaran, salah satunya dengan memfasilitasi pihak asuransi kebakaran untuk bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait asuransi kebakaran ini. Banyak informasi terkait asuransi rumah tidak sampai kepada masyarakat secara gamblang. Tidak mengherankan jika warga enggan untuk ikut asuransi kebakaran.

Penulusuran NBC, beberapa produk asuransi kebakaran rumah murah ditawarkan kepada masyarakat. Asuransi Wahana Tata, yang berpusat di Jakarta dan memiliki sejumlah cabang di seluruh Indonesia, misalnya, menjual produk asuransi kebakaran.

Asuransi Wahana Tata (http://www.aswata.co.id/) memberikan sejumlah alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan perlindungan pada properti dari kebakaran, bencana alam, dan atau kejatuhan pesawat atau kecelakaan lainnya.

Ketika gempa terjadi pada 28 Maret 2005, sejumlah asuransi rumah membayar klaim. Gedung-gedung milik warga Tionghoa Nias rata-rata telah diikutkan asuransi rumah, salah satunya asuransi kebakaran.
[Irwanto Hulu]

Related posts