PENGAWASAN OBAT

Prihatin, Banyak Obat Kedaluwarsa di Gudang Farmasi Gunungsitoli

Aroni Zendratö

Aroni Zendratö meminta penjelasan dari Kepala Instalasi Farmasi Tri Hernita Zebua (kiri). | Foto: Iman Jaya Lase

GUNUNGSITOLI, NBC – Obat-obatan yang ada di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli banyak yang kedaluwarsa. Dikhawatirkan, obat-obat kedaluwarsa tersebut didistribusikan dan membahayakan kesehatan masyarakat. Untuk itu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diingankan, Pemerintah Kota Gunungsitoli diminta untuk segera turun tangan mengawasi penyimpanan obat-obatan serta melakukan pembenahan menyeluruh di gudang farmasi.

Senin (23/2/2015), Wakil Wali Kota Gunungsitoli Aroni Zendratö melakukan inspeksi mendadak ke Gudang Farmasi di di Desa Olora, Kecamatan Gunungsitoli Utara. Inspeksi ini dilakukan karena banyak pengaduan masyarakat tentang kinerja para pegawai yang kerap tidak masuk kantor dan tidak adanya obat di gudang farmasi.

“Hari ini saya langsung turun ke lokasi. Banyak pengaduan masyarakat yang diberi tahu kepada saya bahwa PNS yang bertugas di sini kerap tidak masuk kantor dan banyak keluhan warga terkait tidak adanya obat di gudang farmasi,” kata Aroni.

Dari hasil inspeksi Wakil Wali Kota Gunungsitoli, hanya tiga pegawai yang aktif di gudang farmasi itu, dua di antaranya sedang tugas belajar. Selain itu, ribuan tablet obat disimpan tidak sesuai dengan standar penyimpanan serta sudah kedaluwarsa.

“Selama ini banyak keluhan tidak adanya obat, tetapi setelah saya lihat, ternyata banyak obat yang sudah kedaluwarsa. Menurut saya, hal ini terjadi akibat belum dilakukannya distribusi obat ke puskesmas ataupun ke poskesdes sehingga terjadi penumpukan yang akhirnya kedaluwarsa,” tuturnya.

Menurut Aroni, dikhawatirkan, obat-obatan kedaluwarsa tersebut didistribusikan ke puskesmas-puskesmas dan jika dikonsumsi oleh pasien bisa membahayakan nyawa.

“Kami akan menanyakan langsung kepada Kepala Dinas Kesehatan, apa alasannya tidak melakukan pemusnahan obat kedaluwarsa yang tersimpan di gudang karena bisa saja terbawa ke puskesmas atau poskesdes dan digunakan kepada pasien yang berobat,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Instalasi  Farmasi  Tri Hernita Zebua membenarkan bahwa sejak terbentuknya Kota Gunungsitoli tidak pernah dilakukan pemusnahan obat-obatan kadaluwarsa. Pada tahun ini telah diajukan untuk dilakukan pemusnahan, tetapi belum ada tindak lanjut.

“Saat ini, kami masih menyimpan sejumlah obat kedaluwarsa mulai 2010 hingga 2014 dan kami tidak bisa memusnahkannya akibat belum adanya  aturan pelaksanaan pemusnahan obat-obat tersebut, meski setiap tahun pasti akan bertambah obat kedaluwarsa,” ujarnya.

Standardisasi Gudang Farmasi

Hingga saat ini NBC belum dapat mengonfirmasi hal ini kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli terkait belum dilakukannya pemusnahan terhadap obat-obatan yang telah kedaluwarsa di Kota Gunungsitoli.

 

Penelusuran NBC, penyimpanan obat di gudang farmasi bertujuan mengelola barang yang ada dalam persediaan dengan maksud selalu dapat menjamin ketersediaan jika sewaktu-waktu dibutuhkan pasien, terjadi kelebihan pasokan.

Penyimpanan obat di gudang farmasi idealnya harus bisa memelihara mutu obat dan menjaga kelangsungan persediaan; aman dari pencurian dan kebakaran, memudahkan pencarian dan pengawasan persediaan barang kedaluwarsa, serta menjamin pelayanan yang cepat dan tepat.

Gudang farmasi juga wajib menyiapkan penyusunan rencana, pencatatan pelaporan mengenai persediaan dan penggunaan perbekalan farmasi. Pegawai gudang juga wajib mengamati mutu dan khasiat obat yang disimpan sehingga tidak keliru dalam mendistribusikannya.

Obat ini kedaluwarsa Juli 2014. | Foto: Iman Jaya Lase

Obat ini kedaluwarsa Juli 2014. | Foto: Iman Jaya Lase

Biasanya, orang yang bertugas di gudang farmasi adalah seorang farmasis, tenaga yang kompeten, terdidik, serta memiliki izin untuk menangani obat. Unit perbekalan harus diawasi oleh farmasis. Adapun kegiatan ideal di gudang farmasi, yakni (1) pemeriksaan obat/alkes/aldok yang baru datang. (2) penerimaan obat (perbekalan farmasi), (3) pengaturan, (4) penyimpanan, (5) pengeluaran (6) transportasi (distribusi) (7) administrasi (8) pelaporan.

Adapun persyaratan ruang penyimpanan perbekalan farmasi (1) ruang penyimpanan harus mudah dan cepat diakses, (2) ruang penyimpanan harus memiliki sumber listrik, air, AC, dan fasilitas lain; (3) ruangan penyimpanan itu harus memiliki alat komunikasi; (4) berada di lingkungan baik dengan sistem pengairan yang baik pula; (5) memiliki ukuran yang cukup untuk menampung barang yang ada; (6) aman dari risiko pencurian dan penyalahgunaan serta hewan pengganggu.

 

Obat Yang Disimpan di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli | Foto: NBC/Iman Jaya Lase

Obat yang disimpan di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli | Foto: NBC/Iman Jaya Lase

Yang harus diperhatikan juga, agar obat tidak rusak, suhu ruang penyimpanan < 25°C (sejuk): disimpan dalam ruangan ber-AC. Untuk penyimpanan dingin disimpan dalam lemari pendingin (2-8°C). Dan penyimpanan 0°C disimpan dalam freezer.

Penyimpanan Sembarangan

Pantauan NBC, pada ruang penyimpanan di gudang farmasi, obat tidak diklasifikasikan menurut jenisnya, seperti obat yang harus disimpan dalam suhu sejuk, lemari pendingin atau obat yang harus disimpan di freezer.

Di Gudang Farmasi Dinkes Gunungsitoli, obat-obat tampak masih berada di dalam dus dan disusun bertumpuk. Suhu ruangan juga tidak terlalu sejuk bahkan cenderung panas.

Wali Kota Aroni kepada NBC menjamin akan terus mengawal keberadaan dan kondisi gudang penyimpanan obat ini. [MAN]

 

Related posts