KRIMINALITAS

Pelaku Pembunuhan di Lölözirugi Terancam Dijerat Pasal Berlapis

Kanit Reskrim Polsek Mandrehe Aiptu Riskon Ginting | Foto: Firman Daeli

Kanit Reskrim Polsek Mandrehe Aiptu Riskon Ginting. | Foto: Firman Daeli

MANDREHE, NBC –  Pelaku pembunuhan Marinus Gulö alias Ama Fendri (39), yang mengakibatkan 1 orang tewas dan 2 orang kritis di Desa Lölözirugi, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat, Minggu (8/2/2015), terancam dijerat pasal berlapis, yakni  Pasal 338 dan Pasal 351 Ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman 12 tahun penjara.

Hal itu dikatakan Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Mandrehe Aiptu Riskon Ginting kepada NBC, Senin (9/2/2015) sekitar pukul 16.00, di ruang kerjanya di Mandrehe. “Peristiwa pembunuhan yang terjadi di Desa Lölözirugi, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat, Minggu, yang dilakukan Marinus Gulö alias Ama Fendri, terancam dijerat pasal berlapis, yakni  Pasal 338 dan Pasal 351 Ayat 1 dan 2 KUHP, dengan ancaman kurungan 12 tahun penjara,” ujarnya.

Riskon mengatakan, “Minggu, salah seorang warga Desa Lölözirugi, Marinus Gulö, yang diantar salah seorang warga, datang ke Polsek Mandrehe dan mengaku telah melakukan pembunuhan, dan untuk itu menyerahkan diri untuk diproses sesuai hukum. Kemudian, kami selaku pihak penegak hukum langsung mengamankan pelaku. Setelah itu, kami berangkat ke Desa Lölözirugi untuk melakukan olah TKP.”

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian yang dilakukan personel Polsek Mandrehe yang dipimpin langsung Kanit Reskrim Polsek Mandrehe, pelaku terbukti telah melakukan pembunuhan. “Pelaku pembunuhan Marinus Gulö terbukti telah melakukan pembunuhan terhadap Börödödö Gulö alias Ama Muru (60), dengan tujuh lubang tusukan di dada, paha, dan perut , yang mengakibatkan korban tewas di tempat kejadian. Sementara 2 anak perempuan korban, yakni Yuriani Gulö (25), menderita luka tusukan sebanyak 2 kali di perut, sedangkan Ferliwati Gulö (17) mengalami 1 luka tusukan di dada. Keduanya dalam keadaan kritis,” tambahnya.

“Sekarang pelaku telah kami amankan dan tengah mendekam di sel tahanan Polsek Mandrehe sampai proses penyelidikan dan penyidikan,” ujar Riskon.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil berita acara pemeriksaan terhadap pelaku, peristiwa tersebut berawal dari penebangan sebatang pohon durian milik korban yang dilakukan pelaku sehari sebelum kejadian. “Menurut pelaku, penebangan pohon durian tersebut sebelumnya telah mendapat izin dari korban. Setelah pelaku melakukan penebangan, tiba-tiba korban protes karena pohon karet miliknya tertimpa pohon durian tersebut. Hal itulah, menurut pelaku, yang menjadi pemicu peristiwa perkelahian yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa,” tuturnya.

“Namun, kami terus melakukan penyelidikan untuk mendapatkan sebab-sebab peristiwa pembunuhan ini, untuk memastikan apakah tergolong pembunuhan berencana. Sebab, keterangan pelaku berbeda dengan keterangan pihak keluarga korban. Untuk itu, kami terus mendalami kasus ini dan berupaya mengambil keterangan dari warga yang menyaksikan peristiwa tersebut,” ujarnya. [FIR/AMI]