BENCANA KEBAKARAN

Ketika Api Itu Melalap Semuanya…

NBC — Ina Leni terduduk lemas di antara puing-puing rumahnya. Sementara sang suami, Safrudin Hia, berdiri di dekat kosen pintu salah satu kamar di rumah yang kini telah hangus menjadi arang. Wajah Safrudin terlihat tanpa ekspresi. Apa mau dikata, rumah beserta isinya lenyap dalam kobaran api yang terjadi hari Senin (2/2/2015) pukul 20.00.

Beberapa saat kemudian, beberapa orang kerabat keluarga itu berdatangan. Satu per satu mereka  memeluk Ina Leni. Tangis pun pecah. Tak berapa jauh dari tempat Ina Leni duduk, terdapat sebuah onggokan kain beludru merah yang nyaris tidak berbentuk. Sisa-sisa warna emas yang menempel pada kain beludru merah itu menandakan bahwa di rumah itu baru saja digelar pesta pernikahan.

Tak pernah terbayang oleh Safrudin Hia, dalam waktu setengah jam api menghanguskan rumah yang telah menjadi tempat tinggal keluarganya lebih dari 10 tahun. Kebakaran besar telah  menghanguskan enam rumah di Lingkungan IV, Tohia, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Senin pukul 22.00.

Begitu rapatnya jarak antar-rumah dan sulitnya akses ke lokasi kebakaran menyebabkan pemadaman menghadapi tantangan yang sulit. Tidak kurang dari dua mobil pemadam kebakaran milik BPBD Kota Gunungsitoli, dibantu truk tangki milik Polres Nias, beserta warga Lingkungan IV dan masyarakat sekitar bahu-membahu menjinakkan si jago merah.

“Saya sedang tidur di lantai 2 saat orang di luar berteriak memberi tahu ada api. Saya merasa capek saat itu. Setelah makan dan shalat, saya langsung tidur. Saat saya belum tidur, istri saya pamit mau mengikuti pengajian di rumah Pak Zulkadir, tak jauh dari rumah saya. Jadi kaget sekali mendengar teriakan orang-orang di luar,” ujar Safrudin kepada NBC.

Dari jendela kamarnya, Safrudin melihat rumah yang berhadapan dengan rumahnya dilalap api. Ia pun bergegas turun dari lantai 2 dan menyelamatkan sepeda motor yang terparkir di depan rumah. Ina Leni yang setiap hari membuka usaha jahit dan bordir pun harus pasrah kehilangan mata pencariannya.

“Alhamdulillah, sepuluh anggota keluarga kami semua selamat dari kebakaran itu. Semua harta benda kami habis terbakar. Saya tidak sempat menyelamatkan satu pun. Yang penting semua selamat, itu sudah cukuplah,” ujarnya mencoba pasrah.

Kisah serupa dialami Zulkadir Zega atau Ama Agus Zega. Rumah ayah lima putra ini juga hangus terbakar dalam musibah kebakaran itu. Tidak seperti Safrudin, Zulkadir tampaknya tidak mampu menyembunyikan kesedihannya. Warga yang sehari-hari melaut untuk menghidupi keluarganya ini merasa terbebani karena sumber api diduga berasal rumahnya. Bagian depan rumahnya telah dipasangi garis polisi.

Zulkadir mengalami luka bakar di bagian tengkuk hingga punggung. Sang istri dengan perlahan mengoleskan salep untuk menyembuhkan luka melepuh di punggung Zulkadir, saat ditemui NBC di rumah adiknya di Jalan Diponegoro, tak begitu jauh dari rumahnya.

“Sekitar pukul 20.00 di rumah saya sedang ada pengajian. Setelah bubar sekitar pukul 21.30, ada 4-5 ibu yang masih tinggal sambil mengobrol sebentar. Sekitar pukul 22.00, ibu-ibu itu bermaksud pulang ke rumah masing-masing. Tiba-tiba mereka berteriak, ‘Ama Agus! Ada asap keluar dari jendela atas’. Ada juga yang berteriak, ‘Kebakaran! Kebakaran!’,”  ujar Zulkadir.

Zulkadir yang mendengar suara dari luar bergegas naik ke loteng rumahnya. Meski diserang rasa panik melihat api yang begitu besar, Zulkadir sempat menyelamatkan selembar tikar dari lantai 2 rumahnya.

“Saya sempat terkurung diantara api itu. Dari tempat saya berdiri, cuma samar-samar saya melihat tangga. Langsung saya terobos saja, turun ke lantai 1. Makanya punggung saya melepuh,” ujarnya. Luka bakarnya yang sebagian terlihat pun berusaha dia tutupi di balik bajunya.

Selamat dari kobaran api di lantai 2 rumahnya, Zulkadir lalu mengambil ember dan air untuk memadamkan api. Namun, setelah beberapa kali mencoba, Zulkadir pun menghentikan usahanya. Rumahnya tidak dapat diselamatkan, bahkan kebakaran menjalar ke rumah tetangga di kanan-kiri.

Menumpang

Safrudin dan Zulkadir tidak sendiri. Masih ada tiga keluarga, yaitu keluarga Nurjanah Zega, Ina Eri Zai, dan keluarga kecil yang mengontrak di rumah Irjan Telaumbanua di sebelah rumah Safrudin, yang mengalami nasib serupa. Keluarga kecil itu baru saja dikaruniai bayi berusia empat hari.

Sebagian besar korban terpaksa mengungsi ke rumah tetangga dan kerabat. Zulkadir sejak kecil telah tinggal di lingkungan padat penduduk di Lingkungan IV, Tohia, Kelurahan Ilir, Kecamatan Gunungsitoli,  yang mayoritas berpenduduk Muslim itu. Kini keluarganya menumpang di rumah adiknya, tidak jauh dari rumahnya yang habis terbakar.

Saat NBC mendatangi lokasi musibah kebakaran, beberapa anggota keluarga di tiga rumah mulai mengumpulkan barang yang masih bisa digunakan. Namun, jika dilihat dari sisa kebakaran, tak banyak lagi yang bisa diselamatkan.

Para korban mengatakan, hanya baju yang melekat di badan yang tersisa. Buku-buku, seragam sekolah anak-anak, serta surat berharga seperti ijazah, surat tanah, buku tabungan, bahkan emas dan uang tunai pun tidak bersisa.

Bantuan Kemanusiaan

Sebagai orangtua, para korban kebakaran itu khawatir terhadap kelangsungan sekolah anak-anak mereka. Safrudin contohnya. Ia masih punya dua anak yang bersekolah. Demikian juga dengan Zulkadir.

Safrudin berharap ada pihak yang mau membantu memberikan seragam dan peralatan sekolah. Apalagi, anak bungsunya yang duduk di kelas VI SD sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir.

Berbagai aksi untuk menggalang bantuan kemanusiaan bagi korban mulai diadakan. Agus Hardiyan Mendröfa, melalui akunnya di jejaring media sosial Facebook, berhasil menggalang dana Rp 5 juta.

Remaja Masjid Al-Falah Tohia juga berinisiatif menggalang bantuan kemanusiaan bagi korban musibah kebakaran Tohia. Dengan memakai pengeras suara, mereka mengumumkan kepada masyarakat yang melintas di Jalan Diponegoro untuk terlibat dalam aksi kemanusiaan tersebut.

Dewi Ratna Hulu, koordinator aksi kegiatan itu, kepada NBC mengatakan, “Musibah terjadi kapan saja, tanpa kita tahu waktunya. Setidaknya, aksi ini dapat meringankan beban keluarga korban musibah kebakaran Tohia dan menumbuhkan harapan baru bahwa banyak yang peduli dengan musibah yang mereka alami.”

Aksi yang baru berjalan hari Selasa (3/2/2015) ini berhasil mengumpulkan dana Rp 4  juta. Menurut rencana, aksi bantuan kemanusiaan ini akan berjalan selama seminggu.

“Kami tidak hanya menerima bantuan dalam bentuk uang, tetapi juga mengharapkan bantuan berupa barang, seperti kebutuhan pokok, juga seragam, buku-buku, sepatu dan pakaian pantas pakai, serta peralatan dapur. Pokoknya, apa pun yang bisa membantu meringankan keluarga korban musibah kebakaran Tohia,” ujar Dewi.

Untuk meringankan para donatur yang ingin terlibat dalam aksi kemanusiaan ini, remaja Masjid Al-Falah Tohia bersedia mengambil sumbangan langsung ke rumah donatur dengan menghubungi nomor HP 081268250773. [Ketjel Parangdjati Zagötö]

Tags

Related posts