PROFIL DESA

Hilifadölö, Desa “Religiositas” Tinggi di Moro’ö

Suasana Dusun Hiliduho, Desa Hilifadölö, Minggu (18/1/2015). | Foto: Apolonius Lase

Suasana Dusun Hiliduho, Desa Hilifadölö, Minggu (18/1/2015). | Foto: Apolonius Lase

Oleh Apolonius Lase

NBC — Kampung kelahiran Bupati Nias Barat Adrianus Aroziduhu Gulö, yakni Hiliduho, berada di Desa Hilifadölö, Kecamatan Moro’ö. Desa ini tergolong desa dengan ”religiositas” yang tinggi. Betapa tidak, dengan jumlah penduduk yang terdiri atas 1.561 jiwa pada 2014, terdapat 8 gereja dari berbagai denominasi di desa ini.

Beberapa waktu lalu NBC berbincang dengan Kepala Desa Hilifadölö Eliasa Zai (48) yang biasa dipanggil dengan Ama Vita dan bersedia berbagi informasi terkait desa yang ia pimpin sejak 2014 itu.

Pemaparan profil desa ini dimasukkan agar pembaca bisa memahami kondisi dan fakta yang ada di setiap desa di Pulau Nias. NBC akan terus mencoba menampilkan wajah setiap desa apa adanya dan diharapkan bisa menjadi bahan pemikiran untuk penentuan arah pembangunan, terutama dalam merespons bantuan desa yang akan dikucurkan oleh pemerintah pusat setelah diterbitkannya Undang-Undang Desa. Para pembaca NBC bisa menyumbang data terkait desanya masing-masing dan bisa mengirimkannya kepada NBC.

Keberadaan delapan gedung gereja di Desa Hilifadölö apakah bisa menunjukkan bahwa religiositas penduduk desa ini tinggi? Jawabannya bisa ‘ya’ dan bisa ‘tidak’. Diperlukan penelitian khusus, apakah jumlah gedung gereja berbanding lurus dengan tingkat religiositas penganut atau warga gereja tersebut. Itu pula alasan kata religiositas pada judul tulisan ini diberi tanda kutip.

“Di desa kami ada 8 gereja dan semua rukun-rukun saja. Tak ada gesekan yang terjadi,” kata Eliasa yang lahir 12 Juli 1967 membuka pembicaraan dengan NBC.

Bagi masyarakat Nias, menjadi bagian dari lembaga gereja adalah sebuah identitas. Setiap warga bebas dan berhak mengekspresikan keyakinannya menurut aturan-aturan yang diyakini setiap denominasi gereja. Lembaga gereja kini, bisa dikatakan, telah mengambil alih fungsi lembaga adat yang dulu sangat kuat di Nias.

Tatanan sosial dimasyarakat kini dikelompokkan menurut tempat setiap orang beribadah, tidak lagi mementingkan fabanuasa. Kondisi ini diakui terus menjadi bahan perbincangan serius di kalangan para tokoh masyarakat Nias akhir-akhir ini. Sebab, ada kekhawatiran, adat-istiadat yang dipegang teguh oleh para leluhur sejak dulu lama-kelamaan tergerus dan terlupakan.

Kehadiran banyak denominasi gereja ini juga sering menjadi sarana paling efektif untuk bisa mengomunikasikan berbagai informasi kepada masyarakat, termasuk informasi-informasi yang datang dari pemerintah yang lebih tinggi, misalnya kecamatan, oleh pengurus desa.

“Selain peran kepala dusun, para pemimpin gereja ini cukup efektif untuk dijadikan sebagai media komunikasi antarwarga serta antara warga dan pemerintah, meskipun belum terlalu dimaksimalkan,” kata Eliasa.

Seperti halnya di desa-desa lain di sekitarnya, penduduk Desa Hilifadölö  ini sebagian besar adalah petani, terutama karet. Beberapa juga menjadi petani di sawah. Selain itu, hampir semua penduduk beternak babi dan ayam.

Air Bersih

Salah satu kebutuhan paling mendesak dari desa ini adalah ketersediaan air bersih. Masyarakat selama ini hanya mengandalkan tampungan air hujan untuk dikonsumsi serta air dari sumur galian di dekat rumah.

Menurut Eliasa, pernah ada rencana untuk pembangunan sarana air bersih dengan membuat tampungan di sebuah sumber mata air, tetapi gagal karena ada warga yang tidak mengizinkan kebunnya dilalui pipa.

“Sikap-sikap kurang kooperatif inilah yang sering terjadi saat bicara kebutuhan bersama. Masih ada sebagian kecil warga yang tidak sepakat. Mungkin ke depan perlu pendekatan-pendekatan yang lebih intens agar pembangunan bisa berjalan dengan lancar,” ujar Eliasa.   

Sebenarnya di desa ini ada sumber mata air yang berpotensi untuk dikelola menjadi sumber pasokan air bersih seluruh Desa Hilifadölö, yakni mata air di Hililawindra dan Hililadara. Akan tetapi, kedua sumber mata air potensial ini hingga sekarang belum dimanfaatkan.

“Kami meminta kepada Bapak Bupati Nias Barat agar bisa mengalokasikan anggaran untuk pembangunan sumber mata air ini,” ujar Eliasa.

Sawah

Di desa Hilifadölö terdapat beberapa areal persawahan seperti  di Lölö’ana’a Daso juga di Lakholi. Akan tetapi, sawah yang dikelola secara tradisional ini belum bisa memasok kebutuhan beras warga setempat. Kebanyakan hasil panen hanya dikonsumsi sendiri oleh petani yang bersangkutan.

Adapun air untuk penggarapan sawah hanya mengandalkan air hujan. Demikian juga dengan benih yang dipakai bukan benih dari bibit unggul, melainkan benih yang disisakan sebagian oleh petani dari hasil panen. Dipastikan, hasil yang diperoleh petani pun sangat minim. Tidak seperti hasil panen dengan menggunakan bibit unggul yang bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan dengan menggunakan bibit biasa.

Eliasa mengatakan, jika saja para petani di desanya diberi penyuluhan serta difasilitasi untuk mendapatkan bibit unggul, bukan tidak mungkin hasil panen bisa memasok untuk kebutuhan seluruh warga desa.

“Selain itu, kebutuhan pengairan untuk areal sawah yang ada di desanya juga sebaiknya menjadi perhatian pemerintah daerah. Apalagi mantan kepala Desa Hilifadölö ini, Haogömanö Gulö, sekarang menjadi anggota DPRD Nias Barat. Harapan kami, ada usaha-usaha untuk mengalokasikan dana membangun pengairan,” ujar Eliasa yang menggantikan Haogömanö pada 2014.

Eliasa tidak bisa menyebutkan secara detail luasan sawah yang ada di desanya. “Ada di beberapa tempat dan luasnya saya tidak tahu secara detail,” kata Eliasa.

Sarana Pendidikan

Untuk bidang pendidikan desa ini juga sudah cukup memadai dengan ketersediaan 2 pendidikan anak usia dini  (PAUD), 2 SD, 1 SMP, dan 1 SMA. Untuk PAUD, tempat kegiatannya berlangsung di dua gedung SD yang ada, yakni di SD Lölö’ana’a dan SD Hiliduho.

Khusus PAUD di Desa Hilifadölö, menurut Eliasa, masih dibutuhkan sarana dan prasarana. Sarana yang dibutuhkan itu adalah ketersediaan buku-buku khusus anak-anak serta alat-alat bermain. Selain itu, ketersediaan guru PAUD juga menjadi hambatan tersendiri.

“Diperlukan guru-guru honorer untuk menjadi guru PAUD guna mendidik anak-anak usia prasekolah di Desa Hilifadölö. Adapun yang juga menjadi masalah adalah honor para guru PAUD. Selama ini hanya mengandalkan sumbangan dari masyarakat, termasuk dari tim penggerak PKK Nias Barat,” kata Eliasa.

Jalan dan PLN

Secara keseluruhan, Desa Hilifadölö telah dialiri arus listrik, kecuali Dusun Lakhöli yang letaknya dekat pantai. Demikian juga dengan sarana jalan, tidak semua dusun yang ada dilalui oleh jalan beraspal.

Rumah orangtua bupati Nias Barat di Hiliduho, Kecamatan Moro'ö, Minggu (18/1/2015). | Foto: Apolonius Lase

Rumah orangtua bupati Nias Barat di Hiliduho, Kecamatan Moro’ö, Minggu (18/1/2015). | Foto: Apolonius Lase

Antara Dusun Hiliduho menuju Gunungbaru melalui Dusun Sisarahili masih belum ada jalan. Di daerah ini terdapat sekitar 10 rumah  penduduk Desa Hilifadölö. Menurut rencana, pada 2015 akan dibangun jalan di daerah ini. Adapun menuju Dusun Lakholi, masih belum tersedia jalan beraspal. Bahan pembangunan jalan desa Hilifadölö, seperti batu dan kerikil, hampir semua dipasok dari Sungai Moro’ö.

Sebentar lagi dana desa akan dikucurkan oleh pemerintah. Untuk itu diperlukan sebuah kearifan dan kebijaksanaan dalam mengelola uang yang konon nilainya Rp 1,4 miliar. Uang yang tidak sedikit. Meskipun begitu, harapannya, uang ini bisa digunakan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat.

Untuk Desa Hilifadölö, Kecamatan Moro’ö, Kabupaten Nias Barat, masyarakatnya bisa menentukan sendiri arah pembangunan yang prioritas. Pembangunan pengairan, sarana air bersih, jalan desa, serta hal-hal lain yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan bisa dijadikan pertimbangan. Berikut data Desa Hilifadölö yang diperoleh dari Kepala Desa Eliasa Zai.

Data Desa

  • Nama Desa: Hilifadölö | Kepala Desa: Eliasa Zai
  • Kecamatan: Moro’ö | Camat: Dalizaro Waruwu
  • Nama Dusun
    • Dusun 1 – Lölö’ana’a
    • Dusun 2 – Fulölö
    • Dusun 3 – Hiliduho (ibu kota kecamatan)
    • Dusun 4 – Sisarahili
    • Dusun 5 – Lakhöli
    • Dusun 6 – Hilisörömi
    • Dusun 7 – Lölö’ana’a Daso
  • Jumlah Penduduk 1.561 jiwa (data 2014)
  • Batas Desa:
    • Utara: Desa Hiliwa’ele dan Desa Lasara Bahili
    • Selatan: Siduahili
    • Timur: Sitölubanua, Fadoro
    • Barat: Gunungbaru
  • Fasilitas Umum yang Tersedia:
  • Pendidikan
    • Pendidikan Anak Usia Dini: PAUD Lölö’ana’a dan PAUD Hiliduho
    • SD Lölö’ana’a dan SD Hiliduh
    • SMPN 1 Moro’ö di Hiliduho
    • SMAN 1 Moro’ö
  • Kesehatan:
    • Puskesmas Lölö’ana’a (4 km dari Hiliduho)
  • Keagamaan
    • Gereja Katolik Hilifadölö
    • Gereja BNKP Lölö’ana’a
    • Gereja ONKP Lölö’ana’a
    • Gereja Kristus
    • Gereja ONKP Fulölö
    • Gereja BNKP Hiliduho
    • Gereja Katolik Hiliduho-Hili’ana’a
    • Gereja ONKP Sisarahili-Hili’ana’a.

*Anda ingin desa Anda ditayangkan di sini, kirimkan data kepada kami melalui e-mail di redaksi@nias-bangkit.com dengan subjek: Profil Desa

 

Related posts