KOMODITAS

Harga Buah Pinang Rp 9.000 Per Kilogram, Warga Senang

Yuniwati Gea tengah menjemur buah pinang di halaman rumahnya. Sejak 2015, harga buah pinang naik menjadi Rp 9.000 setiap kilogram. Foto NBC/Onlyhu Ndraha.

Yuniwati Gea tengah menjemur buah pinang di halaman rumahnya. Sejak 2015, harga buah pinang naik menjadi Rp 9.000 per kilogram. | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

NAMÖHALU ESIWA, NBC – Harga buah pinang sejak Januari 2015 di Kecamatan Namöhalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, meningkat menjadi Rp 9.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 3.000 per kilogram. Dengan naiknya harga ini, petani merasa terbantu, terutama saat harga karet yang bertahan pada Rp 5.000 per kilogram. Sayang, komoditas ekspor ini belum dibudidayakan.

Kenaikan harga ini dialami Yunimawati Gea (31), warga Desa Berua, Kecamatan Namöhalu Esiwa. Seperti disampaikan kepada NBC di kediamannya, Rabu (4/2/2015). “Januari ini harga pinang naik Rp 9.000 per kilogram. Kalau tahun lalu hanya Rp 3.000 per kilogram,” ujarnya.

Menurut ibu dua anak itu, dalam sebulan keluarganya bisa menghasilkan buah pinang setidaknya 20 kilogram. Adapun penghasilan suaminya, Terima Kasih Gea, hanya 5 kilogram karet dalam seminggu.

“Saya mengurus anak ke sekolah dan mengolah buah pinang setelah dipetik suamiku dari pohonnya. Dia memanjat pohon pinang seusai menderes karet. Untuk menjemur sampai bisa dijual dibutuhkan waktu dua hari. Ini cukup membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Warga lain, Ina Emo Gea, yang dijumpai NBC, mengaku senang dengan kenaikan harga buah pinang pada saat harga getah karet turun. “Jadi, meskipun harga karet turun, tetapi terbantu dengan naiknya harga pinang. Semoga minggu ini mencapai Rp 10.000 per kilogram,” ujar Ina Emo.

Namun, baik Yunimawati maupun Ina Emo, berharap Pemerintah Kabupaten Nias Utara dapat menstabilkan harga yang masih juga belum terun setelah penaikan harga bahan bakar minyak beberapa waktu lalu. Padahal, harga BBM sudah dua kali turun.

Komoditas Ekspor

Komoditas buah pinang beberapa waktu terakhir menjadi salah satu alternatif penghasilan bagi warga. Buah yang oleh masyarakat Nias disebut fino (wino) ini mudah sekali didapatkan di kebun karena hidup secara liar. Sayang sekali, komoditas ekspor ini belum dibudidayakan di Pulau Nias secara serius, seperti dilakukan oleh warga Aceh dan Padang. Di Aceh dan di Padang, warga membudidayakan pinang dengan menanaminya di kebun menjadi perkebunan pinang.

Tidak mengherankan, banyak warga yang memanfaatkan jalan raya sebagai tempat menjemur buah pinang yang sudah dibelah dua atau hanya bijinya saja.

Penelusuran NBC, buah wino yang sudah dikeringkan diekspor ke India, Bangladesh, Nepal, Pakistan, bahkan sampai ke Tiongkok, untuk dijadikan semacam permen atau makanan kecil. Selain Indonesia, negara pengekspor buah pinang termasuk Malaysia, Singapura, dan Thailand.  [NDH]

Related posts