FIGUR

Dali’atulö Laoli, Perajin Batu Akik Nias

Dali'atulö Laoli

Dali’atulö Laoli. | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

NBC Perlu waktu bertahun-tahun untuk mengasah pengalaman. Kesederhanaan dan semangat pantang menyerah tergambar jelas melalui raut wajah Dali’atulö Laoli (63). Empat puluh tujuh tahun menggeluti dunia akik Nias tidak lantas membuatnya merasa menjadi pakar batu akik.

Kerja kerasnya bermula saat Dali’atulö, yang akrab dipanggil Pak Laoli, masih duduk di kelas IV SD pada tahun 1968. Putra ketiga dari tujuh bersaudara ini memutuskan untuk bekerja, membantu kedua orangtuanya memenuhi kebutuhan keluarga.

“Saya ingat, kalau pergi ke sekolah, saya harus pakai celana dua lapis karena celana saya sudah robek-robek di sana-sini. Begitu miskinnya keluarga kami saat itu sehingga saya memutuskan untuk bekerja sebagai pengasah batu di Desa Hilibadalu. Di sanalah sebenarnya perajin batu akik yang pertama di Nias,” ujar Dali’atulö kepada NBC saat ditemui di rumahnya sekaligus tempat usahanya di Jalan Supomo, Kota Gunungsitoli.

Awalnya, Dali’atulö hanya bekerja sepulang sekolah. Namun, setahun kemudian dia memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja penuh demi membantu orangtua memenuhi kebutuhan keluarga.

“Saya ingat, tahun segitu dengan uang lima rupiah saya bisa membeli beras 2 dumba. Sedikit demi sedikit saya menabung, lalu belajar menjahit. Dengan keahlian memotong kain, saya merantau ke Sibolga, lalu ke Hutabalang selama lebih kurang dua tahun. Saya sempat merantau ke Medan, saya pergi ke Pasar Sambu. Di sana banyak sekali jam bekas. Saya terpikir untuk membeli dan menjualnya di Nias.”

Jual Jam Bekas

Mengenang masa perjuangannya di tanah rantau membuat bapak lima anak ini serasa kembali ke masa lalunya. Pahit getirnya kehidupan sudah dia alami. Didampingi sang istri, Lisaniati Harefa (57), sesekali keduanya bertatapan mata.

Dali’atulö bekerja menjual jam bekas sambil menyediakan jasa reparasi jam di kaki lima Jalan Sirao. Pada 1972, masih sedikit masyarakat, khususnya pejabat, yang menggunakan jam tangan. Bisa jadi pada saat itu jam tangan termasuk barang mewah. Dali’atulö menjual jam bekas dalam kondisi baik dengan harga yang relatif terjangkau, membuat dagangannya laris dan memiliki pelanggan tetap.

Pekerjaan itu dia tekuni hingga tahun 1990, saat Dali’atulö divonis menderita katarak dan tidak lagi dapat mengandalkan matanya untuk meneruskan pekerjaan mereparasi jam tangan.

“Akhirnya saya kembali mengasah batu sampai sekarang. Hanya ini pekerjaan saya,” kata Dali’atulö.

Menjadi perajin batu akik rupanya memberi banyak kesempatan bagi Dali’atulö untuk memperkenalkan batu akik asli Nias di luar daerah. Sudah banyak pameran yang dia ikuti tahun 1995-1998. Mulai dari pameran di Jakarta, Lubuk Pakam, hingga Danau Toba.

Salah satu kejadian naas yang tidak bisa dia lupakan adalah peristiwa gempa yang melanda Nias tahun 2005. Gempa tidak hanya membuat usahanya tutup, Dali’atulö pun harus menderita kelumpuhan pada tangan kirinya karena tertimpa pagar beton.

Namun, Dali’atulö tidak berkecil hati. Meski hanya dengan menggunakan tangan kanan, dia mampu mengasah batu hingga menjadi batu akik yang berkualitas. “Sekarang kondisi saya sudah tidak bisa seperti dulu. Tangan kiri saya sudah lumpuh. Jadi, dalam sehari, saya hanya bisa membuat tiga batu akik.”

Antara Mitos dan Masa Depan

Tahun 1970-an, seseorang yang memakai cincin batu akik dianggap sebagai orang yang memiliki ilmu hitam. Seiring dengan perkembangan zaman, hal seperti itu sudah tidak ada lagi. Namun, Dali’atulö meyakini, setiap batu akik yang diasahnya di dalamnya memiliki energi karena berasal dari alam. Energi yang dimaksud Dali’atulö bukan kekuatan ilmu hitam atau sejenisnya, melainkan lebih kepada energi untuk meningkatkan karisma, kepercayaan diri, si pemakai.

“Pohon, air, tanah yang ada di hutan-hutan itu memiliki energi. Sama seperti kita manusia,” ujar Dali’atulö. “Apalagi, jika alamnya begitu bersih dan belum tercemar. Di dalam batu akik juga seperti itu.  Saya rasa, energi itu baik untuk manusia.”

Dali'atulö Laoli | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

Dali’atulö Laoli. | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

Sebagai perajin batu akik, Dali’atulö merasa senang dengan menjamurnya perajin batu akik akhir-akhir ini. Ia tidak punya kekuatan lebih untuk memperkenalkan batu akik Nias ke luar daerah.

“Sudah saatnya ada generasi baru yang memperkenalkan batu akik Nias ke luar daerah. Batu akik Nias bisa terkenal jika diikutkan ke kontes lomba batu akik tingkat nasional. Itu harus terus didorong oleh masyarakat pencinta batu akik dan juga pemerintah daerah,” ujar Dali’atulö.

Selain itu, seorang perajin batu akik juga harus konsisten dan harus terus belajar. “Menjadi perajin batu akik kuncinya bukan sekadar mengasah dan menggerinda, melainkan bagaimana menemukan motifnya. Itu proses belajar dari pengalaman, butuh waktu bertahun-tahun.”

Melalui tangan dinginnya, Dali’atulö Laoli menghasilkan karya batu akik yang indah. [Ketjel Parangdjati Zagoto]

Related posts