SELUK-BELUK BATU AKIK

Batu Akik Nias yang Kaya Motif

Batu Pepaya, bila siberi cahaya dari belakang keindahannya akan semakin lengkap

Batu pepaya jika diberi cahaya dari belakang keindahannya akan semakin lengkap. | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

NBC— Sebagai salah satu negara yang masuk dalam wilayah cincin api (ring of fire), Indonesia kaya minyak bumi dan hasil tambang. Salah satu hasil tambang itu berupa mineral silika, yang sering kita sebut batu mulia. Namun, hingga kini belum ada data secara pasti mengenai wilayah-wilayah yang kaya mineral silika.

Pulau Nias memang tidak memiliki gunung berapi. Akan tetapi,  diyakini akibat seringnya terjadi pergeseran lempeng sejak beberapa ribu tahun lalu, banyak sekali batu mulia beserta turunannya yang muncul melalui sumber-sumber mata air dari dalam perut bumi yang kemudian hanyut ke sungai. Selain itu, pembentukan batu mulia terjadi karena proses metamorfosis atau sedimentasi. Itulah yang sering kita sebut sebagai batu akik.

Dua sungai yang kini menjadi sumber utama batu akik atau batu cincin terletak di Sungai Muzὃi, Kecamatan Botomuzὃi dan Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias, serta di Sungai Mida Elea, Kecamatan Alasa Talu Muzὃi, Kabupaten Nias Utara. Selain itu, sumber juga ditemukan di beberapa sungai lain, seperti Sungai Mo’i di Kabupaten Nias Barat, juga sungai-sungai di Kabupaten Nias Selatan.

Melalui tulisan ini, NBC mendapat kesempatan untuk mengupas tentang batu akik asli Nias bersama salah seorang perajin batu akik di Jalan Supomo, Kota Gunungsitoli, Dali’atulö Laoli (63). Ia sudah menjadi perajin batu akik asli Nias sejak tahun 1968.

Akik Nias Kaya Motif

Sesungguhnya, aneka jenis batu akik yang ada di daerah lain di Indonesia juga ada di Nias. Salah satu ciri khas akik Nias yang tidak dimiliki daerah lain adalah kaya motif. Salah satu yang paling dicari adalah batu akik pancawarna, yakni batu yang memiliki hingga lima warna, biduri bulan, limau manis, badar bunga, pirus nias, bidari embun, cempaka madu, atau bunga teratai.

Menurut Dali’atulö, batu akik Nias dibagi menjadi dua jenis. Batu yang tidak tembus, biasanya disebut badar, dan batu yang tembus jika diterangi cahaya dari bagian tapak batu atau dasar batu yang mendatar yang disebut biduri.

Dali’atulö mulai mengasah batu akik sejak kelas IV SD. Jika dibandingkan dengan mengasah batu akik yang berasal dari luar Nias, terutama dari tanah Jawa, batu akik Nias ternyata jauh lebih keras. Dalam ukuran skala Mohs 1-10 (skala kekerasan mineral jika material mineral alami digoreskan ke materi lain), batu akik berada pada skala 4-8 Mohs. Skala tertinggi 9-10 Mohs diduduki oleh batu mulia, yaitu korundum dan intan. Adapun skala 1-3 Mohs diduduki talik, gipsum, dan kalsit.

Rata-rata semua batu akik asli Nias memiliki motif yang cukup unik. Meskipun begitu, semua tergantung dari kejelian dan cita rasa seni perajin terhadap akik yang diasahnya. Sebab, sebuah bongkahan batu sepintas mungkin saja terlihat seperti batu biasa, tetapi jika sudah dibelah dan digerinda, motifnya akan terlihat. Dalam sebuah bongkahan bisa muncul motif yang berbeda-beda, bergantung pada tangan dingin sang perajin.

Proses pengasahan batu

Proses pengasahan batu. | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

“Sebelum ada mesin, batu akik diasah dengan memakai batu marmer. Cara mengasahnya berbeda, tidak seperti sekarang. Dulu belum ada pemotong batu. Jadi, batu dipecah dengan memakai martil. Dari situ dibentuk jadi batu,” ujar Dali’atulö kepada NBC.

Selama menjadi perajin, Dali’atulö sudah tiga kali berganti alat. Mulai dari menggunakan batu marmer, memodifikasi jari-jari sepeda, dan yang terakhir sudah lebih maju, yakni menggunakan mesin gerinda dan mesin amplas. Untuk membelah batu, perajin tidak menggunakan martil lagi, tetapi menggunakan mesin potong khusus batu. Dengan mesin gerinda dan mesin ampelas, pengerjaan batu akik menjadi lebih mudah. Satu butir batu dikerjakan dalam butuh waktu lebih kurang 2 jam.

Cara Pengasahan dan Perawatan

Ada dua tahapan pengasahan yang digunakan Dali’atulö untuk membuat sebutir batu akik terlihat indah dan memesona, tahap dasar dan tahap penyelesaian (finishing). Tahap dasar dimulai dengan membelah batu menggunakan mesin pembelah batu. Ini berlaku untuk bongkahan batu besar, sedangkan bongkahan batu berukuran kecil bisa langsung digerinda.

Pengerjaan tahap dasar dimulai dari tapak atau dasar batu. Tapak adalah bagian bawah batu akik, yang diratakan menggunakan gerinda, sebagai tempat dudukan cincin. Dilanjutkan dengan menggerinda bagian atas dan keliling batu akik. Ada tiga bentuk yang disukai kolektor batu akik: bulat, oval, dan persegi.

“Tahap dasar ini penting, harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Saya harus jeli menemukan motifnya dan berhati-hati agar penempatan motif benar-benar sesuai,” ujar Dali’atulö.

Kadang batu yang diasah kurang keras sehingga muncul retakan, bahkan pecah, pada saat proses dasar dilakukan. Jika hal itu terjadi, Dali’atulö biasanya tidak meneruskan pembuatannya. Namun, ada perajin yang tetap mengasahnya dan menjual batu itu dengan harga murah.

“Kolektor batu akik selalu menginginkan batu akik yang sempurna. Oleh karena itu, sudah jadi kewajiban perajin untuk memberikan pelayanan terbaik. Seperti membagi ilmu dan memberikan saran,” lanjutnya.

Setelah diasah dengan gerinda untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan, batu akik diasah menggunakan batu asah untuk menghilangkan bekas-bekas gerinda. Tahapan ini juga dimaksudkan untuk menutup pori-pori batu dan mengeluarkan kilauannya.

“Mengasah dengan batu asah termasuk kunci agar kilau batu akik yang alami bisa keluar. Makanya proses mengasah dengan batu asah harus dinikmati,” ujar Dali’atulö sambil mengasah batu akik berwarna hitam dengan sangat hati-hati.

Setelah tahap dasar selesai, dilanjutkan dengan tahap finishing. Untuk tahap ini, Ama Andika Laoli, putra Dali’atulö yang meneruskan usaha ayahnya menjadi perajin batu akik, mengatakan, “Batu akik diampelas menggunakan kertas pasir atau kertas ampelas khusus untuk batu akik. Bisa dengan mesin, bisa juga dengan cara manual. Kalau saya, karena pelanggan banyak, bahkan mengantre, saya memakai mesin.”

Saat diasah dengan batu asah, batu akik mengeluarkan kilauan atau kilatan. Dengan pengampelasan menggunakan kertas pasir, batu akik semakin berkilau dan tahan lama kilauannya. Sebagai sentuhan akhir, batu digosok pada sebilah bambu lemang untuk mempertahankan kilauannya.

Cara merawat batu akik ternyata juga terbilang sederhana. Batu akik cukup direndam di dalam air sekitar 15 menit, kemudian dikeringkan dengan kain. Jika memiliki bambu lemang, batu akik dapat digosokkan sehingga kilaunya terjaga.

Jika Perajin dan Kolektor Berkumpul

Salah seorang kolektor batu akik, Yata Laoli atau sering dipanggil Ama Nomon, mengatakan sudah puluhan tahun mengoleksi batu akik, sejak remaja.

“Saya suka sekali batu akik. Sayang saya orangnya  pelupa, menaruh sembarangan, jadi beberapa cincin sering ketinggalan atau hilang,” ucapnya.

Bongkahan batu Pancawarna dengan motif pemandangan terjual seharga 200 ribu rupiah

Bongkahan batu pancawarna dengan motif pemandangan terjual seharga Rp 200.000. Batu akik koleksi Yata Laoli kebanyakan dijadikan mata cincin dan liontin. | Foto: Ketjel Parangdjati Zagötö

 

Lain halnya dengan Paskalis Zebua (38), PNS Pemerintah Koa Gunungsitoli. Ia mengatakan memiliki ratusan koleksi bongkahan dan batu akik. Karena sering bertemu di tempat perajin batu akik, ia dan Andi Harefa (38), pengumpul kakao, jadi bersahabat.

“Saat jam istirahat siang begini, kami biasa ngumpul dan saling bercerita tentang koleksi masing-masing. Rasanya ada sedikit kebanggaan jika memiliki koleksi yang belum dimiliki teman lain. Namun, penasaran juga jika ada koleksi teman yang bagus-bagus,” ujar Paskalis.

Banyaknya kolektor dan perajin batu akik Nias membuat mereka membentuk wadah yang disebut Komunitas Pecinta Batu Akik Nias. Selain sebagai tempat berkumpul dan untuk meningkatkan komunikasi, komunitas ini mempunyai tujuan mulia, yaitu memperkenalkan akik Nias ke kancah nasional dan internasional.

Eksploitasi Mineral dan Peran Pemerintah Daerah

Banyak aktivis lingkungan mulai mempertanyakan eksploitasi mineral bongkahan batu yang digunakan untuk batu akik. Di Aceh dan beberapa wilayah lain di Indonesia, penambangan batu, baik secara legal maupun ilegal, marak dan menjadi persoalan.

Untuk hal ini, Dali’atulö menjelaskan, “Bongkahan batu bahan batu akik yang ada di Nias asalnya dari sungai, bukan dari hasil tambang seperti di Aceh. Jadi, jika dikatakan akan merusak lingkungan, saya rasa tidak seperti itu,” ujar Dali’atulö.

Melihat potensi batu akik Nias yang mulai digandrungi kolektor dari Nias dan luar Nias, sudah saatnya pemerintah daerah berperan untuk menjaga sumber-sumber bongkahan batu, seperti Sungai Muzὃi dan Sungai Mida, melalui peraturan daerah atau kearifan lokal masyarakat sekitar. Selain itu, pemerintah juga harus terlibat untuk mengembangkan potensi batu akik Nias agar mendapat tempat di hati kolektor dunia.

Membahas tentang batu akik memang tidak ada habisnya. Bagi pencinta batu akik yang mayoritas laki-laki, batu akik memiliki makna khusus yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bisa saja mereka mengaku sebagai hobi belaka. Namun, menggunakan cincin atau liontin dari batu akik Nias setidaknya menimbulkan kebanggaan sebagi putra daerah selain menunjang karisma yang muncul dari pancaran kemilau batu akik Nias.

Sebagai penutup, Dali’atulö Laoli berpesan kepada NBC agar membaca Keluaran Pasal 28. Dalam pasal itu diceritakan bahwa Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat pakaian kudus bagi Harun karena dia telah ditujuk sebagai imam. Pakaian kudus yang dimaksud berupa tutup dada, baju efod atau jubah, gamis, kemeja yang ada raginya, serban, dan ikat pinggang.

Salah satu yang disebut dalam pasal tersebut berupa hiasan pada penutup dada yang bertujuan sebagai tanda pernyataan putusan. Penutup dada itu memiliki empat jajar. Pada jajar kedua, disebutkan permata batu darah, lazurit, yaspis hijau. Sementara pada jajar ketiga disebutkan permata ambar, akik, dan kecubung. [Ketjel Parangdjati Zagötö]

Related posts