Tuo Nifarö, Tuak Suling Nias

Ama Andi Lömbu saat menjelaskan proses pembuatan tuo nifaö | Foto: NBC/Onoverlis Hulu

Ama Andi Lömbu menunjukkan tuo nifarö yang sudah dikemas dalam botol | Foto: NBC/Onoverlis Hulu

NBC — Tuak merupakan minuman tradisional beralkohol khas Indonesia. Di tengah gempuran minuman keras bermerek, tuak tetap diminati oleh masyarakat khususnya di Sumatera Utara. Tuak berasal dari bunga pohon kelapa atau pohon aren. Cairan yang dihasilkan menyerupai susu atau dikenal dengan air nira. Akan tetapi tidak semua pohon kelapa maupun pohon aren dapat menghasilkan nira. Jika bunganya mengeluarkan busa saat dipotong maka itu pertanda nira akan diperoleh dari pohon tersebut.

Air nira yang rasanya manis sangat segar bila langsung diminum. Namun, bagi yang ingin menambahkan sedikit rasa pahit dan membuat warnanya lebih menarik bisa ditambahkan bahan lain. Biasanya, ditambahkan kulit durian atau kulit kayu tertentu yang dalam bahasa Nias disebut laru.

Perbedaannya, jika dicampur kulit durian maka warna tuak menjadi merah muda sedangkan jika dicampur dengan laru akan berwarna kecoklatan. Jika sudah dicampur, masyarakat Nias menyebutnya sebagai tuo mbanua yang kadar alkoholnya sedikit lebih banyak.

Berbeda dengan tuak kebanyakan, Nias memiliki tuak yang sangat khas. Warnanya nyaris sejernih air dengan bau alkohol yang cukup menyengat. Tuak tersebut dihasilkan dari penyulingan air nira selama berjam-jam. Tuak ini dalam bahasa Nias disebut tuo nifarö.

Mengonsumsinya pun tidak boleh berlebihan. Dosis standar tuo nifarö dalam sehari hanya satu sloki. Bila dikonsumsi sesuai takarannya, tuo nifarõ baik untuk kesehatan, terutama mengatasi diatebes. Namun bila lebih dari itu, selain memabukkan tentu tidak baik untuk kesehatan karena kadar alkoholnya yang cukup tinggi.

Tuak ini memang masih belum popular secara nasional. Keberadaannya pun hanya diketahui dari mulut ke mulut. Dari beberapa pengakuan peminat minuman beralkohol dari luar daerah Nias, tuo nifarö dinilai cukup panas dikerongkongan dengan rasa yang sedikit aneh dan dingin.

Alat sederhana

Salah satu daerah penghasil tuo nifarö yang cukup terkenal di Kota Gunungsitoli adalah Desa Dahana, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat pasar Kota Gunungsitoli. Rata-rata masyarakat memang menggantungkan hidupnya dengan menjual tuak suling tersebut. Sementara bertani dan beternak justru dijadikan sebagai mata pencaharian sampingan.

Dari salah seorang penjual, Arsenius Lömbu atau akrab dipanggil Ama Andi Lömbu (53), NBC mendapat penjelasan tentang proses pembuatan tuo nifarö. Prosesnya tidaklah serumit yang dibayangkan. Alat-alat yang digunakan juga sangat sederhana. Terdiri dari kaleng berbentuk persegi panjang seukuran 50×30 cm sebagai wadah memasak air nira, bambu yang sudah dibentuk sedemikian rupa sebagai sarana mengalirkan uap air nira yang dimasak, kayu bakar atau kompor sebagai alat pemasak, dan botol kaca bekas minuman berkapasitas 750 ml.

Kaleng dilubangi seukuran diameter bambu yang digunakan. Bambu sepanjang satu meter dipasang secara vertikal pada lubang tersebut. Bambu ini kemudian dihubungkan lagi dengan bambu berdiameter yang sama sepanjang 5 meter dan dipasang secara horizontal. Di ujung bambu, tempat penampungan uap air nira diletakkan. Jika sudah selesai, tuak suling dikemas dalam botol-botol kaca bekas.

Ama Andi menjelaskan proses pembuatan tuo nifaro | Foto:NBC/Anoverlis Hulu

Ama Andi menjelaskan proses pembuatan tuo nifaro | Foto:NBC/Anoverlis Hulu

Mula-mula, air nira dimasak dengan api sedang. Setelah kira-kira sejam, uap air nira akan mulai mengalir. Di sinilah saatnya penyuling mulai mengumpulkan tetesan uap air nira pada botol kaca. Proses ini dilakukan selama berjam-jam. Namun, biasanya berlangsung antara 5-7 jam.

Setiap satu botol penuh, maka tuak suling yang dihasilkan disebut sebagai nomor 1. Botol kedua disebut botol kedua dan begitu seterusnya. Tapi menurut Ama Andi, kualitas tuak suling yang baik hanya sampai nomor 6. Di atas itu sudah tidak ada rasanya lagi.

“Tuak suling nomor 1 tidak bisa diminum karena kadar alkoholnya masih sangat tinggi. Tapi bisa digunakan sebagai minyak urut karena sifatnya yang panas dan cepat meresap,” ujarnya.

Dengan demikian, yang bisa dikonsumsi adalah nomor dua dan seterusnya. Akan tetapi dalam penjualan, kata Ama Andi, tidak dikenal istilah tuak nomor 1 sampai 6 karena sudah dicampur-campur sesuai kadar alkohol yang diinginkan. Pemberian nomor sesungguhnya hanya untuk membedakan urutan tuak suling yang dikumpulkan sejak botol pertama hingga akhir.

Soal harga, biasanya untuk satu botol dijual antara 13-15 ribu Rupiah. Untuk mendapatkannya, peminat bisa langsung datang ke tempat atau memesan terlebih dahulu.

Sumber Penghasilan Utama

Rata-rata dalam seminggu, Ama Andi bisa menghasilkan antara 25–30 botol. Namun, jumlah yang dihasilkan bisa lebih tergantung banyaknya pesanan. Pemasaran tuo nifarö memang masih sebatas menyalurkan langsung kepada pemesan. Dengan begitu, masing-masing penjual sudah memiliki langganan.

“Tergantung kekuatan fisik juga karena memanjat kelapa dan mengerjakannya memerlukan fisik yang kuat. Seperti saya denganusia seperti ini terkadang pesanan banyak saya tolak kalau tidak sanggup mengerjakan,” tuturnya.

Saat ditanya mengapa tidak menawarkan tuo nifarö hasil sulingan sesama penjual lainnya jika tidak mampu memenuhi pesanan, Ama Andi beralasan kualitas. Menurut dia, setiap penjual memiliki kualitas tuo nifarö yang berbeda. Ia sendiri mengaku lebih baik menolak pesanan ketimbang menjual tuak yang tidak ia produksi karena ingin menjaga kepercayaan para pelanggannya.

Pekerjaan sebagai pedagang tuo nifarö ternyata sangat membantu perekonomian Ama Andi. Pekerjaan yang sudah dilakoninya selama 20 tahun tersebut mampu menghidupi keluarganya.

“Ketiga anak saya juga bisa bersekolah dari uang hasil penjualan tuo nifarö ini. Yang pastinya, menjual tuo nifarõ sangat penting sebagai sumber penghasilan kami,” ungkapnya. Ia memang memiliki pekerjaan sampingan beternak dan berkebun. Namun, pekerjaan ini menurut dia jauh lebih baik karena penghasilannya jelas dan bisa diperoleh setiap hari.

Sedikit berbeda yang dialami Atöni Lömbu atau disapa Ama Seti Lömbu (55). Ia mungkin belum semujur tetangganya itu. Pasalnya, pohon kelapa yang ia manfaatkan sebagian masih disewa. Harga sewa satu pohon kelapa dinilai seharga sebotol tuo nifarö yang ia jual dan dibayar per bulan. Dengan begitu, penghasilannya dari menjual tuo nifarö terkuras sepertiganya.

“Tidak apa-apa. Setidaknya masih bisa menghidupi keluarga walaupun masih pas-pasan,” katanya dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata. Ayah yang sudah 25 tahun berkecimpung dalam usaha ini juga mengandalkan bertani dan beternak sebagai sampingan.

Menjaga Kualitas

Pengembangan usaha tentu saja menjadi keinginan yang wajar dimiliki untuk meningkatkan penghasilan para penjual tuak di daerah tersebut. Akan tetapi, bagi Ama Andi dan rekan-rekannya yang lain tidak terlalu memikirkan hal itu. Bagi mereka, menjaga kualitas dan mampu memenuhi pesanan para pelanggan sudah cukup.

Alasannya kembali pada kemampuan fisik. Jika harus berbagi pekerjaan dengan orang lain, perbedaan keahlian yang dimiliki dikhawatirkan akan menghasilkan tuo nifarö yang berbeda. “Nanti pelanggan saya mengeluh, mengapa tuo nifarö yang saya buat berbeda rasanya dari yang biasa? Saya tidak mau terjadi seperti itu,” katanya.

Jadi bagi anda yang penasaran ingin mengetahui seberapa panasnya minuman alkohol khas Nias ini, silahkan saja berkunjung ke daerah ini. Dijamin, tuak yang dihidangkan masih sangat segar! Jika takut kehabisan, bisa dipesan terlebih dahulu lalu disimpan. Tuak ini bisa tahan sampai berbulan-bulan. [ANOVERLIS HULU]

Related posts