FIGUR

Tema Adiputra Harefa, Nias Mesti Punya Radio Hebat

Tema Adiputra Harefa | Foto: Dokumen pribadi

Tema Adiputra Harefa | Foto: Dokumen pribadi

NBC — Jika Anda pendengar siaran rohani Radio Pelita Kasih (RPK) 96,3 FM, nama Tema Adiputra bukanlah nama yang asing. Dia selalu menyapa pendengar radio rohani tersebut dengan suaranya yang khas dan menyejukkan. Dr Tema Adiputra Harefa, M.A, berbagi cerita kepada NBC beberapa waktu lalu, tentang radio, serta obsesinya agar Nias punya radio.

Ketertarikannya di radio bermula ketika keisengannya mengintip grup musik Iwada Band yang personelnya antara lain abang kandungnya saat tampil mengisi acara secara langsung di Radio Republik Indonesia (RRI) Sibolga, Sumatera Utara, tempat kelahirannya, semasa masih usia anak-anak.

“Saat di Sibolga ada band orang Nias bernama Iwada Band yang didirikan oleh abang-abang saya dan rekan-rekan mereka. Grup itu pengisi tetap acara di RRI Sibolga. Saat mereka bersiaran langsung di RRI, saya sering kali ikut ke sana mengintip dari balik kaca studio siaran,” ujarnya.

Pengalaman masa kecilnya itulah yang membawanya kini menjadi konsultan dan trainer di sejumlah radio serta pernah menjadi Vice President Director di Radio REM-SSK FM, Jakarta Barat. Bahkan, desertasinya berjudul “Pengaruh Radio Siaran Rohani terhadap Pertumbuhan Iman Pendengar” telah membawanya meraih gelar doktor.

Tema Adiputra, yang lahir di Kota Sibolga, Tapanuli Tengah, 54 tahun lalu itu, menghabiskan masa kecilnya di Sibolga hingga kelas II SD.  “Pada kelas III SD, saya merantau ke Jakarta bersama abang tengah saya karena ada kesempatan yang diberikan orangtua saya dan abang tertua saya, Ir. Ja’aro Harefa, yang telah bekerja di Jakarta. Abang tertua dan istrinya—asal Yogyakarta—membiayai pendidikan saya dan abang tengah saya. Sementara saudara-saudara kandung saya yang lain menetap di Sumatera,” kata Tema, anak ke-11 dari 12 bersaudara ini.

Rumah Tema di Sibolga terletak tidak jauh dari Gereja BNKP Sibolga. Ayahnya, Faudurörö alias Ama Ja’aro Harefa, adalah sinenge di gereja BNKP itu merangkap sebagai pelaksana tugas pimpinan Distrik BNKP Tapanuli. Pensiunan Wakil Kepala PN Telekomunikasi Sibolga ini pulang ke Nias beserta keluarga besar dan aktif sebagai Bendahara Umum Sinode BNKP Nias periode 1973-1974.

***

Setiba di Jakarta, hobi mendengarkan siaran radio terus dilanjutkan. “Bahkan, saat di SMP/ SMA/PT, saya sering merekam suara saya bermain gitar dan bernyanyi sembari saya jadi penyiar. Saya rekam ke tape recorder. Sampai pada suatu saat doa saya dikabulkan Tuhan pada 1 April 1984. Saya diterima bekerja paruh waktu di Radio Pelita, Jakarta Pusat (yang kemudian berganti nama menjadi Radio Pelita Kasih/RPK di Jakarta Timur). Mulai saat itu saya bangga dan sangat senang menjadi penyiar di RPK itu. Sebab, sejak datang ke Jakarta, radio itu saya dengar. Abang tertua saya selalu menyetelnya keras-keras di rumah pada pagi hari,” ujarnya.

Tema Adiputra menjadi pengurus pusat PPRI pada 2002 (saf tengah, ketiga dari kanan) | Foto: Dokumen Pribadi.

Tema Adiputra Harefa (barisan tengah, ketiga dari kanan) menjadi pengurus pusat PPRI pada 2002. | Foto: Dokumen Pribadi

Gambar, metafora, serta sejumlah pengalaman masa kanak-kanak tentang radio terekam lekang di alam bawah sadar Tema. Tidak salah, Bapak Psikoanalisis, Sigmund Freud, pernah mengatakan bahwa penentu kualitas hidup seseorang adalah alam bawah sadarnya. Sebab, menurut Freud, aktivitas seseorang ternyata dikontrol oleh alam bawah sadarnya.

Hal itu terjadi pada diri Tema. Radio yang menguasai bawah sadarnya membawanya menjalani pengalaman pertamanya menjadi penyiar radio pada April 1984. Siaran pertama itu yakni pada mata acara “Puisi Pendengar” di RPK. Ia bertugas meresensi puisi-puisi yang masuk ke redaksi.

“Saya senang sekali dengan pengalaman pertama itu. Saya menjadi banyak dikenal orang bak figur publik,” ujar Tema menceritakan kesannya saat dipercaya menyiar untuk kali pertama.

Tema menyatakan bahwa dirinya meniti karier mulai dari bawah. Ia ingat betul, ketika itu, ia harus menginap di studio lalu membuka siaran serta bersiaran pada acara-acara tertentu. Langkah awal itulah yang telah membawanya ke puncak, menjadi konsultan/trainer di beberapa radio rohani di Indonesia dan pernah menjadi Vice President Director di Radio REM-SSK FM, Jakarta Barat.

Etika Bersiaran

Berbincang dengan Tema soal radio bagai aliran air kali yang tak pernah berhenti mengalir. Ia secara bersemangat menceritakan seluk-beluk radio, hingga ke detail-detailnya, termasuk etika dan teknik bersiaran.

Kata Tema, menjadi penyiar radio itu mesti memiliki beberapa kriteria dan syarat-syarat yang harus diperhatikan. Selain harus berwawasan luas, penyiar radio juga harus tahan banting dan jago berkomunikasi.

”Selain itu, penyiar harus rendah hati, menghargai tenggat (deadline), memiliki keahlian khusus di samping memiliki keahlian umum, memiliki jiwa kepemimpinan, paham aturan main, baik dari pemerintah maupun perusahaan,” ujarnya.

Sejumlah hal teknis juga disampaikan oleh Tema saat melakukan siaran, seperti saat siaran langsung (live), penyiar harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Penyiar juga mesti melupakan problema pribadinya, jangan sampai terbawa di ruang studio.

“Sebab saat seseorang sudah mulai berbicara di depan mikrofon, dia sudah menjadi milik publik. Saat siaran live di studio tentu pastikan segala hal yang menyangkut teknis sudah beres. Apa pun materi siaran yang dibawakan kuasailah sepenuhnya,” ujar Tema.

Selain itu, penyiar juga mesti peka terhadap suara pendengar yang berinteraktif di udara. Pendengar harus disambut dengan ramah dan tulus. “Namun, pada saat tertentu jika pembicaraan mulai tidak fokus dan berbahaya, dengan otoritas yang dimiliki sang penyiar, dialog itu dapat di-cut dengan bijaksana,” ujarnya.

Radio dan Nias

Sebagai salah seorang bagian dari diaspora Nias, Tema tidak melupakan akarnya. Ia menyadari betul bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah orang Nias. Budaya dan kearifan-kearifan lokal Nias terus ia gali dan dijadikan bekal untuk berinteraksi dengan sesama orang Nias di perantauan, maupun ketika pulang di kampung halaman.

Meskipun ia tidak lahir dan besar di Nias, ia tetap memiliki cita-cita untuk bisa berbuat sesuatu di Nias sesuai dengan keahlian yang ia miliki. Ia merindukan ada radio khusus Nias yang dikelola dengan baik sehingga bisa memberikan sumbangsih untuk kesejahteraan masyarakat, serta menjaga dan melestarikan budaya Nias.

Tema Adiputra saat berada di Perbukitan Sisobahili, Gunungsitoli | Foto: Dokumen Pribadi

Tema Adiputra saat berada di Perbukitan Sisobahili, Gunungsitoli | Foto: Dokumen Pribadi

Menurut Tema, daerah seperti Pulau Nias memerlukan peran radio (broadcasting) karena sejumlah alasan. ”Kurang banyaknya media elektronik—yang mengutamakan pendengaran karena masyarakat Indonesia masih didominasi budaya dengar bukan budaya baca—yang bermarkas di Nias menjadi salah satu alasan utama. Juga masalah geografis/demografis, daerah berbukit dan keterpisahan pulau-pulau kecil oleh laut di Nias sangat memerlukan jembatan udara, yakni radio siaran,” kata Tema.

Bukan tanpa alasan Tema menyebut radio penting untuk pembangunan di Nias. Menurut dia, radio itu bisa mempermudah pekerjaan pemerintah daerah dalam menjalankan program-programnya. Lewat radio itu, pemerintah daerah akan dengan sangat cepat mendengar keluhan hati rakyatnya.

Seperti diketahui, bahwa radio itu memiliki fungsi menyampaikan informasi, mengedukasi, menghibur, dan juga sebagai kontrol sosial oleh masyarakat. Berita-berita (news) atau informasi-informasi lokal akan segera diketahui oleh masyarakat Nias.

“Demikian pula halnya tentang membangun karakter ono niha melalui siaran-siaran edukasi, baik sekuler maupun kerohanian. Melalui suara penyiar, misi ini akan sampai tanpa dihalangi dimensi waktu dan ruang. Yang di sawah, yang di laut, yang sakit, yang sedang berada di mobil, yang di atas bukit, yang di daerah terpencil sekalipun, akan mudah menyimaknya dan menghayatinya sampai pada taraf melakukannya,” ujar Tema.

Ia juga mengingatkan, bahwa radio tidak boleh melupakan fungsi menghiburnya. Hiburan yang edukatif, yang bernuansa budaya lokal, akan turut mempertahankan budaya tersebut bahkan mengembangkan diri jika mendapat kesempatan disiarkan kepada seluruh ono niha, termasuk juga di seluruh Indonesia dan dunia andaikata siaran tersebut terkoneksi ke internet, audiostreaming.

Kondisi Radio yang Ada

Dalam pembicaraan dengan NBC, Tema juga memberikan pendapatnya terkait kondisi lembaga radio di Pulau Nias. Ia menggunakan istilah ”sedikit gawat” untuk menggambarkan kondisi radio swasta yang ada di Pulau Nias. Kecuali RRI, keberadaan radio swasta belum digarap secara kreatif.

”Sebaiknya, radio-radio itu digarap secara kreatif, kritis, dan memiliki visi serta tujuan yang jelas. Bahkan, kelihatannya, kegiatan off-air-nya sangat jarang. Padahal, zaman sekarang, radio harus lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat pendengarnya, termasuk komunitas-komunitas,” ujarnya.

Tema juga memaklumi kondisi yang ada. Di samping kurangnya dana, sumber daya manusia yang jumlahnya sedikit, apalagi jarang diberi pelatihan, serta program acara yang belum digarap secara baik.

“Perlu ada ‘pertemuan’ hati ke hati dengan awak media radio yang sudah berpengalaman dalam dunia radio dengan mereka yang saya sebutkan terdahulu, termasuk juga para pemangku kepentingan. Perlu ada pencerahan baru. Perlu ada paradigma baru. Sebab, informasi yang disiarkan oleh radio kecepatannya hitungan detik, sampai ke telinga pendengar. Dalam hal liputan lapangan, tanpa harus melalui penggarapan ulang di studio, informasi tersebut langsung tersiarkan,” kata Tema.

Karakteristik cepat menerpa/menyapa pendengar ini menjadi kelebihan radio jika dibandingkan dengan media cetak dan televisi. Apalagi, saat ini, radio sudah bisa berada di genggaman setiap orang dengan hanya bermodalkan pelantang telinga (earphone) dan telepon seluler yang memiliki fasilitas radio.

Radio Mulai Ditinggal

Tidak dimungkiri, dengan kurangnya kreativitas pengelolaan radio di Nias, ada indikasi radio ditinggalkan masyarakat. Tak lagi seperti dulu, setiap rumah memiliki radio transistor. Lewat radio itulah, masyarakat Nias mengikuti perkembangan berita dari luar.

Merespons kondisi itu, mau tak mau, kata Tema, pengelola radio di Nias harus berbenah diri. ”Zaman telah berubah. Adaptasi atas kebutuhan pendengar zaman ini harus dipenuhi. Caranya? Relakan hati untuk pembenahan besar-besaran terhadap radio dan visi-misi, manajeman, serta program siaran, termasuk SDM, sistem-mekanismenya. Ini pun berlaku untuk semua radio di Indonesia. Dan puji Tuhan, selama 10 tahun terakhir ini, Tuhan memberikan kesempatan ini kepada saya untuk menjadi konsultan/trainer di beberapa daerah di Indonesia,” kata Tema.

Ia mendorong pemerintah daerah (Nias) untuk memanfaatkan radio sebagai alat berkomunikasi dengan rakyatnya, baik di lokasi terpencil maupun yang di kota-kota. Meskipun begitu, pemda tetaplah harus menghormati keindependenan stasiun radio tersebut. Rutin berkomunikasi dengan rakyat secara temu darat ataupun udara akan sangat membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Saat siaran pada program "Yesus Jawaban" di RPK FM bersama beberapa hamba Tuhan, 16 Maret 2014. | Foto: Dokumen pribadi

Saat siaran pada program “Yesus Jawaban” di RPK FM bersama beberapa hamba Tuhan, 16 Maret 2014. | Foto: Dokumen pribadi

Saat ditanya persyaratan untuk mendirikan radio, Tema menguraikan, perizinan akan sangat mudah dibereskan jika pemda terlibat mendirikan radio baru karena ini terkait birokrasi. Ruang/lahan untuk mendirikan stasiun radio perlu ada, perangkat dan peralatan teknis pun dilengkapi, dan akhirnya “isi perut” radio itu haruslah dirancang dengan baik dan benar atau secara profesional.

“Tiga pilar ini (perizinan, perangkat teknis, “isi perut” radio, yakni manajemen,visi-misi, SDM, program acara) haruslah berjalan simultan. Tiga konsultan/pelaksana diperlukan untuk hal di atas. Tentu saya juga sangat mendorong pihak swasta membangun radio-radio di Nias dengan back-up penuh oleh pemda, yang menganggap radio swasta itu adalah mitra untuk kemajuan bersama. Usaha agar iklan-iklan dapat masuk ke radio-radio di Nias, perwakilan iklan di Jakarta perlu ada dan dikelola dengan profesional. Kerja sama dengan lembaga-lembaga/perusahaan-perusahan pun dapat mendatangkan penghasilan,” ujarnya.

***

Kini, Tema bisa dibilang telah punya “segalanya” perihal radio. Ilmunya terhadap penyiaran radio tak perlu dipertanyakan lagi. Obsesinya agar Pulau Nias memiliki radio yang hebat terus disuarakannya di berbagai kesempatan. Selain itu, ia juga ingin para kru radio komunitas di setiap lembaga pendidikan SMA/SMK dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia bisa menjadi jurnalis cetak.

Selain berharap agar kariernya di radio terus berkembang, Tema juga berharap dirinya sebagai hamba Tuhan, penginjil, bisa semakin dipakai Tuhan. Dan, yang terakhir, Tema menyimpan keinginan yang kuat untuk bisa merasakan pelayanan siaran di televisi. “Jujur saja, obsesi berikut ini terkadang muncul, rindu juga untuk menyentuh atau hadir dalam pelayanan media TV,” ujarnya.

Semoga mimpi-mimpinya menjadi kenyataan, Bung Tema! [APOLONIUS LASE]

BIODATA SINGKAT

  • Nama: Dr Tema Adiputra Harefa, MA
  • Lahir: Sibolga, 20 November 1960
  • Ayah: Faudurörö Harefa
  • Ibu: Dilina Zebua

Pendidikan: 

  • SD Negeri Halimun 01, Jakarta
  • SMP Negeri 9, Jakarta
  • SMA Negeri 4, Jakarta
  • IKIP Jakarta-FPBS (Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia, 1985)
  • Mengikuti (Program 1 tahun) Pendidikan Teologia Jemaat GKI Kebayoran Baru, Jakarta (1993)
  • Sekolah Theologia Reformed Injili Jakarta-program D-2 (1995, tidak selesai)
  • STT Amanat Agung, Jakarta, program pascasarjana/M.A.(1997, tidak selesai)
  • STT “IKAT” Program Pascasarjana Gelar Profesi (Master of Arts, 2009)
  • STT “IKAT” Program Pascasarjana Gelar Profesi (Doctor of Ministry, 2010)
  • Mengikuti berbagai pelatihan/pendidikan broadcasting  (besertifikat) sejak 1985

Aktivitas saat ini:

  • Konsultan radio/trainerdan pemerhati media
  • Editor dan penulis naskah
  • Penyiar acara-acara rohani khusus di Radio Pelita Kasih, Jakarta
  • Moderator
  • Dosen di 3 kampus di Jakarta
  • Konselor
  • Guru Pembina Radio Sekolah SMA St.Ursula, Jakarta Pusat

Pengalaman Profesi:

  • 1984-2001, Announcer, reporter, Manajer Program Siaran, Manajer Divisi Usaha, Kepala Penelitian dan Pengembangan di Radio Pelita Kasih, Jakarta.
  • 1999-2001, Pemimpin Redaksi Media Pelita Kasih
  • 2001-2007, Konsultan di Radio Sangkakala, Surabaya; Radio Maestro FM, Bandung; Radio Heartline FM, Lippo Karawaci; Radio Suara Gratia FM, Cirebon; Radio Suara Calvary FM, Bali;
  • 2003-2004, Pengajar Broadcasting di SMA Santa Ursula, Jakarta
  • Sejak 2004, Guru Pembina Radio Komunitas Pelajar SMA Santa Ursula, “Sanur FM”
  • 2008-2009, Konsultan Majalah Pendidikan Inside; Majalah Budaya Mutiara Sulut
  • 2009-2010, Vice-President Director Radio REM-SSK-Jakarta
  • Desember 2014, Sebagai salah satu dari “21 Tokoh Kristiani 2014” versi majalah Narwastu

Related posts