Becermin pada Kebudayaan Orang Lain

Keberagaman | Sumber Foto: sinarharapan.co

Keberagaman | Sumber Foto: sinarharapan.co

Oleh Nata’alui Duha

Suatu hari pada 2004, saya bersama mahasiswa lain mengikuti perkuliahan pengantar Antropologi di Universitas Denver, Colorado, Amerika Serikat. Dr. Kristina, sang pengasuh mata kuliah, langsung membuka sesi diskusi sekaligus untuk me-review buku bacaan mahasiswa berdasarkan silabus yang sudah dibagikan.

Kalau orang Amerika Serikat dan umumnya orang Barat makan dengan sendok dan garpu, lalu orang Tiongkok, Jepang, makan dengan sumpit, dan orang Indonesia makan dengan tangan, siapakah yang berbudaya lebih tinggi di antara mereka?

Nata’alui Duha | Foto: Dokumen pribadi

Nata’alui Duha | Foto: Dokumen pribadi

Untuk sementara waktu, tak ada yang menjawab. Saya dari Nias yang saat itu hanya berstatus sebagai mahasiswa tamu pada program studi master, sebenarnya hendak menjawab. Tapi, lagi-lagi saya masih ragu-ragu. Ada pergumulan dalam batin saya. Jikalau saya katakan bahwa makan dengan menggunakan sendok dan garpu merupakan peradaban yang lebih maju dan lebih baik, padahal bagi saya sendiri makan dengan tangan, selain lebih nyaman dan aman, makanan terasa lebih nikmat dan rasanya lebih memuaskan.

Di antara teman-teman waktu itu, teman kami dari Jerman memberikan pendapat. Ia menceritakan pengalamannya bahwa memang bagi dirinya sendiri, makan dengan mnggunakan sendok dan garpu adalah terbaik baginya. Namun, dia menambahkan bahwa mustahil baginya memakan hamburger dengan berbagai lapisan isinya dengan sendok dan garpu. Itu harus dimakan dengan kedua tangan.

“Apakah itu artinya bahwa menggunakan sendok dan garpu merupakan peradaban yang lebih tinggi, lebih baik dan menggambarkan masyarakat yang lebih maju?” Ibu dosen melanjutkan pertanyaanya. Akhirnya kami diberi kesempatan memberikan pendapat secara bergilir dan tentu saja beraneka ragam.

Menurut saya, pertanyaan ini sangat cocok untuk direnungkan agar seseorang tidak salah dalam menilai suatu kebudayaan orang lain atau suku bangsa yang berbeda dengannya dan terlalu puas dengan kebudayaan sendiri sehingga menutup diri dan tidak melihat sesuatu yang baik dari kebudayaan orang lain. Padahal kebudayaan orang lain bisa dijadikan bahan inspirasi bagi pemilik suatu kebudayaan untuk memperbaiki kualitas kebudayaannya melalui proses penyempuraan dinamis.

Kebanggaan setiap orang terhadap kebudayaannya merupakan sikap yang sangat positif dan harus disemai dalam hati setiap pemilik kebudayaan itu agar mereka dapat melestarikannya untuk menunjukkan keunikan, eksistensi diri dan kualitas hidup serta memperkaya warna kebudayaan yang hadir disekitarnya.

Keunikan itu sendiri menjadikan pemilik kebudayaan itu terasa lebih bermartabat dan bernilai sehingga dihargai oleh suku-suku bangsa lain yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Namun, kebanggaan yang cerdas dan matang hanya bisa tumbuh jika seseorang memiliki pemahaman yang benar terhadap nilai-nilai yang baik serta sisi-sisi buruk yang terkandung dalam kebudayaan itu sendiri serta menyadari bahwa dirinya sendiri bukanlah ciptaan satu-satunya yang menghuni globe. Para orangtua yang bijak di pulau Nias, sering menasehati anak-anak-anaknya atau orang lain agar tidak menjadikan diri seperti katak yang berdiam dalam tempurung kelapa (hulö dalaho narö zole). Ketika seekor katak terperangkap dalam tempurung, ia tak pernah melihat betapa indah dan kayanya dunia di luar istananya. Ketika ia menyentuh dinding-dinding samping tempurung itu, lalu ia berpikir bahwa itulah batas jagad raya. Ketika melompat dan kepalanya menyentuh dinding atas dari istana tempurung, lantas berpikir bahwa ia sudah menyentuh dan sampai di angkasa paling tinggi, lalu menyimpulkan dengan angkuh bahwa itulah batas planet bumi ini.

Semua ciptaan dalam hal ini manusia pemilik kebudayaan mutlak menyadari bahwa dunia ini sesungguhya sangat luas dan dipenuhi oleh berbagai macam ciptaan, yang memiliki cara hidup maupun budaya yang berbeda. Namun, dengan kemajuan peradaban manusia yang menghasilkan teknologi, jagad raya menjadi terasa lebih sempit dan menjadi lebih kecil hingga dapat dijangkau sampai ke kawasan yang tak memiliki batas-batas.

Dalam mengekpresikan kebanggaan dan fanatisme kebudayaan seringkali memunculkan masalah. Misalnya secara tidak sadar, seseorang atau sekelompok orang memandang kebudayaan orang lain rendah, buruk, jorok, menjijikkan, kuno, palsu, tak bernilai dan sebagainya. Sebaliknya mengagung-agungkan kebudayaan sendiri sebagai kebudayaan yang terbaik, terindah, paling asli, tertua, terbesar, tersohor dll. Akibatnya, kebudayaan sendiri dipandang sebagai sesuatu yang sempurna sehingga tidak perlu diubah lagi, ia hadir tanpa mengalami dinamika selama-lamanya. Sifatnya permanen dan tidak mengalami pergerakan mengikuti zaman. Puncak dari terlalu puas pada kebudayaan sendiri adalah membekunya hati dan pikiran para pemiliknya sehingga tidak menghasilkan inovasi dan kreativitas secara berkesinambungan bagi para pemiliknya, dan pada akhirnya menghasilkan manusia yang kaku dan tidak memiliki daya tahan pada dalam berbagai kondisi.

Terlalu mengagungkan kebudayaan sendiri mendorong sikap mendominasi kebudayaan yang hadir di sekitarnya. Sikap dominatif ini menimbulkan tekanan pada kebudayaan-kebudayaan lain dan pada akhirnya bisa mengakibatkan kepunahan budaya tertentu sehingga masyarakat kehilangan kebanggaan dan kepercayaan pada dirinya. Selain mendorong kepunahan, bisa juga terjadi perlawanan dari kelompok-kelompok yang kebudayaannya direndahkan dan akhirnya berpotensi memunculkan konflik horizontal yang mengusik kedamaian.

Merendahkan dan memojokkon kebudayaan orang lain berarti melecehkan martabat manusia pemilik kebudayaan itu sendiri, sebab oleh karena kebudayaan itu, manusia menjadi bermartabat dan menjadi ciptaan yang istimewa di antara ciptaan lainnya. Sadar atau tak sadar, ada banyak perilaku buruk akibat kebanggaan dan fanatisme berlebihan terhadap kebudayaan sendiri dengan mengklaim bahwa kebudayaan sendiri adalah yang terbaik, terasli, terhebat, tertua dan lain-lain di atas kebudayaan orang lain.

Suatu contoh, sebagai orang Nias (Ono Niha), saya bangga dan mengeluk-elukan kebudayaan Nias yang terkenal dengan kebudayaan megalitik dan arsitektur tradisional khusunya bangunan kayu. Selain itu, saya juga sangat bangga akan tradisi melompat batu dan melakukan pembicaraan adat ’orahu’ sebagai ciri khas yang memberikan kebanggaan tersendiri bagi warga di beberapa wilayah di Nias Selatan. Menyuguhkan sirih sambil menari bagi para tamu, tari perarakan perang ”maluaya” sungguh saya kagumi. Sikap itu harus saya miliki. Tetapi diperlukan situasi dimana saya harus bisa membandingkan apa yang saya miliki, sehingga bisa melihat dunia yang lebih luas dan terbuka untuk melakukan inovasi dalam kebudayaan sendiri. Sikap apresiatif pada kebudayaan orang lain tidak boleh menenggelamkan budaya sendiri.

Contoh lain, suatu hari, saya mengunjungi Candi Borobudur yang sangat terkenal sebagai candi kedua terbesar di dunia. Melihat besarnya dan arsitektur candi itu, saya hampir tidak percaya kalau itu buatan manusia. Kalau di pulau Nias ada keahlian menyambung kayu dalam bangunan rumah adat, maka Yogyakarta (Jawa) punya keahlian memahat dan menumpuk batu raksasa. Sementara di Siem Reap Kamboja, keahlian memahat, menumpuk dan menyambung batu, bagi saya sendiri merupakan maha karya yang ajaib.

Seandainya saya tidak pernah melihat dan terlalu puas dengan kebudayaan merangkai kayu atau juga kebudayaan megalitik di Nias, saya tidak akan pernah menghargai dan mengagumi kebudayaan yang ada di Jawa dan di Kamboja. Hal sebaliknya juga bisa terjadi bagi orang Kamboja jika melihat arsitektur atau rumah adat Nias. Mereka tidak akan menghargai dan tidak pernah belajar sesuatu yang baik dari kebudayaan Nias jika mereka terlalu puas dengan kebudayaan sendiri. Sikap inklusif perlu dibangun untuk mengasah suatu peradaban menjadi lebih tajam dan berkualitas.

Sikap fanastisme buta terhadap kebudayaan sendiri bisa disebabkan oleh munculnya asumsi originalitas akan budaya sendiri di samping ada pandangan bahwa yang tertua dan terbaik adalah kebudayaan sendiri. Biasanya orang mengklaim keaslian suatu budaya, padahal asli itu masih sangat bisa diperdebatkan.

Misalnya, saya pernah mendengar dari seseorang di kampung, ia mengatakan begini: “Budaya di kampung kita inilah yang paling asli.” Lalu saya tanya, siapakah pendiri desa ini dulu, dan dari mana mereka? Lalu ia menjelaskan bahwa leluhur kami itu berasal dari Gomo. “Lalu, apakah ada budaya jika tidak ada manusia?” saya balik bertanya. Orangtua tadi tidak terlalu mengerti apa yang saya maksudkan.

Namuna, saya bermaksud mengatakan bahwa bisa jadi tradisi masyarakat di desa saya itu sangat dipengaruhi oleh tradisi para leluhur dulu di Gomo. Kalau leluhurnya berasal dari sana, tentu dia juga meneruskan tradisi-tradisi yang telah mereka lakukan dulu di sana, namun telah menyempurnakannya sehingga tidak lagi memperlihatkan wujud kebudayaan persis seperti di Gomo. Jadi boleh dikatakan bahwa akan sulit menemukan kebudayaan yang 100 persen murni dan asli oleh karena sifatnya yang memang dinamis.

Pernah ada usul dari seorang pejabat di Nias dan bahkan dari seorang guru besar dari Jawa kepada saya agar Bawömataluo yang paling terkenal itu dibenahi seperti asli dulu. Lalu saya bilang bagaimana desa Bawömataluo yang asli dulu? “Ada fotonya di museum Tropen di Belanda katanya.” Lalu saya melihat foto lama dari desa itu, dan ternyata dahulu ketika Bawömataluo baru didirikan, tidak dimulai dengan mendirikan batu-batu yang disebut megalit. Batu-batu di halaman desa didirikan atau dipasang secara bertahap, dimulai dari halaman rumah bangsawan dulu, baru menyebar ke seluruh halaman desa. Pembenahan fisik dan struktur desa membutuhkan waktu yang sangat lama. Sehingga desa itu, dari tahun ke tahun memperlihat wajah baru hingga menjadi seperti yang kita saksikan sekarang.

Untuk membangun fanatis yang konstruktif perlu terbuka melihat kebudayaan orang lain secara positif sehingga kebudayaan sendiri menjadi seperti api yang menyala, yang menyemangati pemiliknya dan bukan menjadi abu yang terbuang karena apinya sudah padam. Api yang membakar dan menyepuh kebudayaan itu sendiri menjadi lebih tajam dan bernilai. Api kebudayaan itu dapat mencahayai dalam pengertian bisa menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat lain yang bukan pemilik kebudayaan tersebut.

Fanatisme akan kebudayaan sendiri tanpa melihat kelemahan dan keunggulannya dengan melihat dan membandingkannya dengan kebudayaan orang lain akan menjadikan kebudayaan itu menjadi beku dan kaku. Bahkan lebih jauh dari situ, masyarakat pemiliknya akan menjadi tertinggal dalam segala aspek kehidupan. Makanya orang-orangtua bijak di Nias selalu menganjurkannya “ae fawatö.” Pergilah ke rumah orang lain, dengan demikian kamu bisa belajar sesuatu dari keluarga itu. Jadi rumah orang lain merupakan salah satu tempat untuk belajar hal-hal yang tidak kita temukan dalam keluarga kita sendiri. [Nata’alui Duha, pemerhati masalah-masalah sosial dan budaya]

Related posts