KEARIFAN LOKAL

Pastor Postinus Gulö: Anak Muda Nias Mesti Mampu Yakinkan Orangtua

NBC — Dunia terus berubah. Sekat-sekat pengatur pergerakan atau interaksi antarmanusia sudah mencair oleh perkembangan teknologi serta penemuan-penemuan baru di berbagai sektor kehidupan. Setiap saat warga di sudut-sudut Nias tahu perkembangan di dunia luar.

Penderes karet paham berapa harga komoditasnya.  Tentu mereka tahu bahwa rezekinya bakal naik jika nilai tukar rupiah terhadap AS dollar anjlok. Petani dan pedagang karet yang menguasai informasi dan bakal lebih pintar mengatur strategi dagangnya. Kapan menjual banyak-banyak kapan menahan dagangannya.

Dalam arus besar perubahan itu, anggota dari sebuah sistem budaya seolah dipaksa untuk melepas nilai-nilai yang selama ini telah membesarkannya. Bukan untuk melupakan sama sekali, melainkan itu dilakukan agar bisa memahami orang lain yang tumbuh dalam sistem nilai yang berbeda.

Tak semua orang sanggup menaati logika komunikasi antarbudaya itu.  Sebagian  hanya sampai tingkat tertentu saja. Membuka diri lalu kembali lagi kepada sistem nilai kelompoknya.

Dengan perkembangan itu, orang muda di Nias terhubungkan dengan berbagai sistem budaya.  Meski hanya sebatas lewat jejaring di dunia maya, mereka tahu bahwa banyak hal positif yang mereka butuhkan dari sistem lain. Namun, orang muda Nias tidak punya pilihan hidup melimpah seperti mereka yang ada di kota besar.

Aminudin Hia, wartawan NBC, menemui Romo Postinus Gulö di Paroki Salib Suci, Mandrehe Tengah, Kabupaten Nias Barat, awal Desember 2014. Di ruang tamu kompleks pastoran yang cukup luas itu keduanya berbincang panjang lebar soal kehidupan orang muda dan berbagai aspek soal budaya Nias selama sekitar 1.5 jam.

Redaksi memilih soal jujuran sebagai fokus perbincangan.   Pertimbangannya keluarga adalah organisasi kecil yang menentukan arah perkembangan masyarakat. Jika fondasi keluarga kuat masyarakat pun kuat. Di sisi lain, secara religi, keluarga kerap dipandang sebagai rumah ibadah di mana kasih sayang sesungguhnya dipraktikkan.

Situasi ini membuat mereka tak mudah menentukan pilihan. Pada satu sisi, generasi muda berhadapan pada kewajiban untuk mengenal  jati diri dan budaya aslinya agar tak asing di kampung sendiri. Pada sisi lain, saat mulai membangun keluarga mereka berhadapan dengan kaum tua yang cenderung konservatif.

Kaum muda Nias selalu gelisah saat berpikir soal jujuran, bagaimana Anda memandangnya?  

Generasi muda nias mesti menyadari bahwa orangtua sudah  terlalu jauh mengatur perkawinan anak. Ini membuat  anak kurang mandiri, kurang bebas. Namun, mereka perlu tahu latar belakang  mengapa ini terjadi.

Menurut saya, perkawinan dalam pengertian ini adalah urusan komunitas adat, urusan kluarga besar bukan urusan personal anak. Itu sebabnya perkawinan Nias disebut famakhai sitega bö’ö (menyambung tali kekerabatan) antarkeluarga, antarkampung.   Perkawinan  merupakan kewajiban orangtua dan bukan merupakan hak anak.

Kenapa bisa terus begitu?

Cara pandang masyarakat adat Nias ini semakin kuat karena didukung oleh sistem kampung yang tertutup dari berbagai informasi dunia luar pada zaman dulu. Budaya luar adalah sesuatu yang tidak diketahui.

Kalau dulu jujuran, atau mas  kawin, tidak menjadi masalah kalau besar karena wujudnya adalah hewan  babi  yang pada waktu itu melimpah.  Dahulu tiap rumah tangga hampir pasti beternak babi hingga punya puluhan ekor. Beberapa keluarga bahkan ada yang punya ratusan ekor.  Orang tak kesulitan memberi babi makanan karena hewan itu sudah kenyang  memakan sisa-sisa makanan manusia yang sembarang dibuang. Kadang masih ditambah dengan g berbagai umbi umbian darii hutan.

Tapi, sekarang  dunia sudah berubah.  Generasi muda Nias sudah  terbuka matanya melihat dunia luar. Konsekuensinya mereka harus mampu meyakinkan orangtuanya bahwa mereka mampu  merancang perkawinannya secara bertanggung jawab.

Karena itu, generasi muda Nias tak  boleh hidup berfoya-foya, berjudi, atau malas kerja. Mereka sebenarnya  tak mau dikuasai orangtua dalam perkawinan karena berarti harus mampu “membayar” mas kawin atau jujuran dari hasil keringat sendiri.  Ke depan mereka harus berani memutus jujuran yang besar itu dengan mengurangi nilai materinya bukan nilai adatnya.

Bagaimana sistem adat  adat perkawinan Nias menjadi sebab kemiskinan sudah saya diuraikan  di laman pribadi saya di www.postinus.wordpress.com.

Lantas kaum yang bertanggungjawab artinya bagaimana?

Jadi kaum muda yg bertanggungjawab  adalah kaum yang punya perencanaan secara baik, benar, dan bijaksana tentang perkawinan.

Maksudnya?

Akibat jika membangun rumah tangga tidak berdasarkan cinta?  Akibat umumnya di Nias, yakni keluarga berantakan.  Mengapa terjadi? Ya, karena  mereka dipaksa dan terpaksa bersatu menjadi pasangan suami dan istri  bukan kesadaran mau berjuang bersatu dalam ikatan perkawinan atas dasar saling mencintai. Setelah  hilangnya “bulan madu” perkawinan, yang terjadi adalah perjuangan perkenalan karena kadang-kadang belum saling kenal sebelumnya.

Dari pengalaman pribadinya melalui konseling keluarga yang datang biasanya yang paling menderita jika perkawinan bukan karena cinta adalah istri. Kebutuhan keluarga lebih banyak dipikirkan istri dan yang bekerja keras untuk mencari nafkah keluarga juga istri. Dalam banyak kasus, suami dan istri kurang bekerja bersama sama membangun keluarga.