KEPEMIMPINAN

Revolusi Harga Diri Nias

Ilustrasi: Harga diri pemimpin. | Sumber: manajemen.bisnis.com

Ilustrasi: Harga diri pemimpin. | Sumber: manajemen.bisnis.com

Oleh Manahati Zebua


NBC — Para pemimpin di Nias perlu melakukan revolusi harga diri. Sebagai orang ada di posisi puncak Daerah Otonomi Baru (DOB) mestinya malu jika daerahnya tidak mengalami perubahan.

Bapak Tuhoni Telaumbanua (Eporus BNKP), di media online kebanggaan orang Nias ini, pernah menuturkan bahwa untuk mengesahkan anggaran di sebuah dinas pemerintah daerah, DPRD selalu meminta biaya sebesar Rp 20 juta (Baca: Tuhoni Telaumbanua: Sahkan Anggaran, DPRD Minta Uang ). Wow, aneh serta menggelisahkan, lalu di manakah harga diri berada?

manahati

Manahati Zebua | Foto: Dokumentasi Pribadi

Cerita lain, yang tak kalah heboh karena menyangkut orang yang memiliki jabatan tinggi pada manajemen puncak di sebuah kabupaten. Seorang bupati yang seharusnya melayani masyarakat, melakukan pengaturan kepada masyarakat, melakukan pembangunan, dan memberdayakan masyarakat malah tidak melaksanakan fungsi pemerintah dengan baik.

Anggaran pembangunan (program kerja) sudah tersedia. Anggaran ini bisa digunakan untuk membangun infrastruktur di wilayahnya. Tetapi anehnya, sang bupati tidak begitu bersemangat untuk segera mengeksekusi pembangunan jalan itu. Padahal, jalan yang sudah diperkeras itu sangat ditunggu-tunggu masyarakat supaya segera dibangun (diaspal).

Kalau bupati mendapat pertanyaan soal keterlambatan pembangunan jalan, jawabannya sangat ringan, yaitu sedang dalam proses tender. Padahal, dana sudah tersedia sekitar bulan Januari atau Februari tahun program kerja, tetapi sampai September pun belum kelar-kelar juga. Ada apa sih sebenarnya?

Heboh tidak cerita ini? Sudah tersedia dana, sudah jelas jalan yang akan dibangun, tetapi sampai September tahun program kerja masih saja dalam proses tender. Heboh, iya, tetapi bupati tenang-tenang saja. Masih sabar dan tenang menunggu waktu, untuk merealisasikan pembangunan jalan itu. Sementara pihak lain yaitu masyarakat sudah sangat galau menunggu realisasi pembangunan jalan yang sangat diharapkan itu. Adakah upaya untuk melakukan revolusi diri pada cerita ini?

Revolusi adalah perubahan yang cukup mendasar di suatu bidang (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Mendasar berarti menyiapkan fondasi kuat untuk melaksanakan pembangunan pada tahap berikutnya. Dengan demikian, revolusi harga diri dapat diartikan sebagai upaya untuk melakukan perubahan mendasar di segala lini di daerahnya, sebagai daerah otonomi baru (DOB). Malu dong jika tidak ada tanda-tanda perubahan yang dilakukan. Apalagi yang dilakukan selama ini serba jauh panggang dari api.

***

Meskipun demikian, apa pun yang dikerjakan, bisa saja dijadikan fondasi untuk melakukan perubahan ke depan. Hanya saja fondasi yang dibagun itu, kuat atau kurang kuat jika menerima beban perubahan di masa yang akan datang.

Sebagai DOB, yang bertindak sebagai manajer puncak (pemimpin) seharusnya malu dan sangat malu apabila DOB yang dipimpin tidak banyak melakukan perubahan. Adalah hal yang memalukan jika tidak bisa keluar dari berbagai keterbelakangan.

Harga diri Pemimpin akan tercabik-cabik tatkala di daerahnya masih terdapat: (1) Warga yang belum bisa baca tulis; (2) Anak-anak yang putus sekolah; (3) Banyak warga yang miskin; (4) Warga yang kekurangan gizi; (5) Wilayah yang masih sulit dijangkau; (6) Jalan-jalan setapak; (7) Warga yang sulit menjangkau Puskesmas; (8) Pelayanan yang lama dan berbelit-belit; (9) Program kerja yang tidak segera diselesaikan; (10) Target pemerintah yang tidak tercapai.

Sulit diterima akal sehat apabila masih ada pemimpin yang tidak memiliki rasa malu, pada saat program kerjanya banyak yang terbengkalai. Sangat aneh jika pemimpin bisa duduk di kantor dengan tenang, sementara harapan masyarakat masih menggunung, belum banyak yang dipenuhi oleh pemimpin.

Mengkhawatirkan sekali jika pemimpin tidak mampu mendengar dan merumuskan program kerja yang bisa memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat. Memalukan sekali apabila seorang pemimpin tidak mampu menggunakan anggaran yang sudah ada. Sangat memalukan apabila banyak anggota staf dari pemimpin itu terjerat masalah hukum dan korupsi.

Karena itu, marilah kita berupaya keras menjaga harga diri sebagai pemimpin. Budayakan rasa malu pada diri sendiri, saat ditemukan banyak hal yang tidak bisa diwujudkan oleh pemimpin.

Hargailah diri Anda dan hargailah masyarakat. Jangan berharap ada orang lain yang menghargai Anda, selain berasal dari usaha Anda sendiri.

Jagalah dan pelihara harga diri Anda di antara teman-teman yang memiliki jabatan yang sama, melalui perubahan yang sudah dilakukan. Berilah penghormatan kepada masyarakat melalui pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintah yang berkualitas.

Kalau gajah mati meninggalkan gading, pemimpin meninggalkan nama baik di masyarakat. Kalau harimau mati meninggalkan belang, pemimpinlah yang meninggalkan hasil pekerjaan yang selalu diingat oleh masyarakat.

Jabatan sebagai pemimpin tidaklah kekal. Karena itu selama berada dan duduk dalam jabatan dan lingkungannya berilah banyak manfaat jabatan Anda itu kepada masyarakat yang diwilayahi. Sebagai apa pun jabatannya, dengarkanlah saran-saran yang sampai kepada Anda.

Mumpung Anda masih duduk dalam jabatan itu, segeralah melakukan revolusi harga diri. Kalau Jokowi Presiden RI menghadirkan revolusi mental di Indonesia, Anda jangan sampai kalah juga. Hadirkan revolusi harga diri Anda melalui pekerjaan Anda atau melalui usaha keras Anda untuk mengoptimalisasi kinerja, dari berbagai program kerja yang dilakukan, dan bermanfaat banyak bagi masyarakat. [Manahati Zebua; Penulis Buku: “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”; Tinggal di Yogyakarta]

Related posts