HARI KESEHATAN

Perawat Tiang Penyangga Manajemen Pasien

Keberadaan perawat di rumah sakit sangat menentukan pelayanan kepada pasien. Para perawat di RSU Gunungsitoli ini sedang berkoordinasi sebelum memulai pelayanan kepada pasien. | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

Keberadaan perawat di rumah sakit sangat menentukan pelayanan kepada pasien. Para perawat di RSU Gunungsitoli ini sedang berkoordinasi sebelum memulai pelayanan kepada pasien. | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

Oleh Manahati Zebua

NBC —  Pasien merupakan subyek pelayanan dari sebuah pelayanan kesehatan, yaitu rumah sakit/pusat kesehatan masyarakat (puskesmas)/balai pengobatan. Komplain pasien dan keluarganya pada pelayanan kesehatan banyak bermunculan, bahkan ada pemeo yang mengatakan ‘orang miskin dilarang sakit’.

Nah, sekarang pertanyaannya, kapan seseorang disebut pasien? Pasti Anda cepat-cepat mau menjawab karena sudah tahu, iya kan? Seseorang disebut pasien apabila orang tersebut akan menerima pelayanan kesehatan.

Manahati Zebua

Manahati Zebua | Foto: Koleksi Pribadi

Pelayanan kesehatan bisa saja didapatkan di beberapa pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, balai pengobatan, rumah sakit khusus, dan rumah sakit umum. Artinya, pada waktu Anda mendaftarkan diri dan mendapatkan nomor rekam medis di pelayanan kesehatan tempat Anda mendaftarkan diri, pada saat itulah Anda disebut pasien.

Jika sudah menjadi pasien, baik sebagai pasien rawat jalan maupun sebagai pasien rawat inap, Anda banyak bertemu dan dilayani oleh perawat. Perawat di rumah sakit banyak dan ada dimana-mana, mereka ada di berbagai pos pelayanan yang telah disediakan rumah sakit. Ada perawat di instalasi rawat jalan, instalasi gawat darurat, instalasi kamar bedah, instalasi rawat inap, instalasi perawatan intensif, dan instalasi-instalasi lainnya. Jumlah tenaga perawat di beberapa instalasi tertentu cukup banyak seperti di pelayanan rawat inap dan rawat jalan.

Perawat-perawat inilah yang banyak melakukan tegur-sapa dengan pasien. Mereka menanyakan tentang penyakit yang diderita pasien, melakukan komunikasi tentang dokter yang dipilih, mengukur suhu tubuh dan tekanan darah pasien, dan memanggil pasien sesuai dengan nomor urut pasien, serta memberikan informasi lain menurut kebutuhan pasien.

Perawat memang sangat dekat dengan pasien. Dan juga pasien banyak bertanya dan berkeluhkesah kepada perawat. Sepertinya perawat ini bagaikan seorang malaikat bagi pasien, yang siap menolong dan membantu.

Apalagi jika pasien itu mondok (rawat inap) di rumah sakit, perawat jadi tumpuan harapan pasien bagi kesembuhannya. Pasien berharap banyak tentang sebuah informasi mengenai perkembangan kesembuhan penyakitnya, hal-hal yang diinstruksikan dokter, kapan sembuhnya, dan berapa besar biayanya.

Dengan keadaan ini, seakan-akan perawat itu mahatahu semua, seakan-akan perawat memiliki dimensi pengetahuan yang sangat luas. Pemahaman pasien inilah yang membuat pasien selalu bertanya kepada perawat.

Apa pun keinginan dan kebutuhan pasien, termasuk berbagai keluhannya pada pelayanan rumah sakit, pasti pasien lari untuk bertanya dan meminta informasi kepada perawat. Maka jangan heran jika perawat yang bertugas di instalasi rawat inap banyak mendapatkan komplain tentang pemberian pelayanan di rumah sakit. Bahkan, kebanyakan pasien dan keluarga pasien memberikan penilaian subyektif terhadap para perawat, misalnya‘pelayanan perawat itu kurang baik’, ‘kurang care kepada pasien’, ‘judes’, ‘kurang komunikatif’.

 Janganlah heran jika komplain pasien dan keluarganya banyak didapatkan di instalasi rawat inap dibandingkan dengan pelayanan di instalasi lain di rumah sakit. Kalau di instalasi rawat jalan umpamanya, pasien dan keluarganya hanya bertemu dengan perawat dalam beberapa jam, dan setelah itu pasien pulang, mungkin bisa berobat jalan atau justru harus rawat inap.

Demikian juga pada pelayanan lain di lingkungan rumah sakit, masalah jumlah keluhan atau saran termasuk sedikit. Tetapi pelayanan di instalasi rawat inap atau di instalasi rawat intensif, keluhan dan saran pasien termasuk banyak.

Mengapa hal ini banyak terjadi? Karena pasien dan keluarganya di instalasi rawat inap atau rawat intensif banyak dan sering bertemu dengan perawat. Perawatlah yang banyak menemani pasien secara terus-menerus. Meskipun dalam pelaksanaannya perawat menemani dan melayani pasien itu dilakukan dengan aplusan atau kerja shift. Jadi, perawatlah yang banyak memberikan banyak waktu untuk menemani dan melayani pasien termasuk keluarga pasien.

Karena itu, kalau manajemen rumah sakit sadar dan memahami keadaan di lapangan, mestinya yang namanya perawat perlu dimanajemeni dengan baik. Perawat perlu dikelola dengan mempertajam kompetensi perawat. Kalau perlu, perawat didorong untuk mengambil spesialis pelayanan, paling tidak perawat memiliki spesialisasi pekerjaan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Contoh, ada perawat yang spesialisasinya melayani pasien bedah, melayani pasien penyakit dalam, saraf, anak-anak, obstetrik dan ginekologi.

Sama halnya dengan dokter yang mengambil spesialis, seperti spesialis bedah, saraf, dan yang lainnya, perawat juga punya spesialisasi pelayanannya kepada pasien. Artinya perawat dapat semakin ahli dalam menangani dan melayani pasien sesuai kompetensi yang dimiliki seorang perawat.

Untuk mewujudkan spesialisasi pelayanan perawat kepada pasien rumah sakit, perlu dilakukan perubahan besar pada manajemen keperawatan. Perubahan yang dilakukan, yaitu tidak melakukan mutasi perawat setiap 6 (enam) bulan dari ruang tertentu ke ruang yang lain. Tetapi silakan perawat dimutasi dari ruang tertentu ke ruang yang lain sesuai dengan spesialisasi pelayanan yang dikehendaki perawat.

Kalau model ini bisa dilaksanakan dengan baik, bisa diyakini bahwa pelayanan yang diberikan perawat kepada pasien, akan menjadi baik dan sekaligus berkualitas. Pencapaian pelayanan perawat yang berkualitas itu akan lebih cepat diwujudkan, karena perawat bekerja melayani pasien sesuai kompetensi yang dimiliki serta sesuai dengan pilihannya pada waktu mengambil spesialisasi pelayanan.

Ilmu keperawatan sekarang sudah semakin maju. Sudah ada perawat yang menuntut ilmu keperawatan sampai strata 2 (S-2) dan/atau strata 3 (S-3). Artinya ilmu keperawatan itu memang khusus dan berkembang terus, sama halnya dengan ilmu kedokteran. Dengan kondisi perkembangan ilmu keperawatan yang demikian pesat, mestinya rumah sakit mulai mengubah cara mengelola tenaga perawat.

Model manajemen keperawatan sekarang tentu sangat berbeda pada waktu perawat dianggap sebagai pembantu dokter. Sebagai pembantu dokter pada waktu itu, perawat sepertinya hanya sebagai tenaga yang disuruh-suruh. Ambil obatlah atau ambil hasil pemeriksaan laboratotium, ambil hasil rontgen atau ambil data gizi pasien. Tetapi sekarang sudah berubah, sudah direformasi.

Sekarang ini perawat sudah bisa bertindak sebagai ‘mitra kerja dokter’. Mitra dokter dalam bidang pelayanan keperawatan/asuhan keperawatan. Ada dokter ya ada perawat. Jadi,setiap tenaga kesehatan ini sudah dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Dokter yang memberikan diagnosis dan terapi, sedangkan perawat bisa memberikan diagnosis keperawatan, bahkan bisa melakukan tindakan medis dan pemberian obat jika pasien dalam keadaan darurat.

Karena itu, perawat sebagai penyangga manajemen pasien, perlu didukung dengan adanya perubahan dalam memanajemeni tenaga perawat. Manajemen rumah sakit perlu melihat perawat dalam kacamata sebagai tenaga inti rumah sakit. Sebagai salah satu tenaga inti di rumah sakit, manajemen SDM perawat menjadi sangat penting. Perlakukan tenaga perawat sebagai SDM yang turut memberikan pelayanan keperawatan dan kesembuhan bagi pasien rumah sakit.

Manajemen rumah sakit perlu melakukan pengelolaan SDM perawat dengan terarah. Selain melakukan peningkatan pada masalah kompetensi sebagai perawat, juga perlu memberikan pelatihan yang mendukung pelayanan keperawatan kepada pasien. Seperti pendalaman pada masalah komunikasi, sikap dan perilaku, marketing, keramahan, penanganan keluhan, dan lain-lain.

Kelola dan kembangkan terus kemampuan perawat di dalam melayani pasien. Tingkatkan terus kompetensi perawat melalui kursus singkat (short cource), seminar atau lokakarya keperawatan sesuai spesialisasi yang ditekuni perawat. Bekali terus SDM perawat di dalam melakukan asuhan keperawatan kepada pasien dengan tampilan dari perspektif ilmu psikologi.

Apabila perawat dikelola secara terintegrasi dan karier mereka juga mendapat perhatian yang serius dari manajemen rumah sakit, dipastikan bahwa tenaga perawat rumah sakit bisa menjadi salah satu tiang yang dapat menghadirkan pelayanan yang berkualitas kepada pasien rumah sakit. Dengan demikian, pasien merasa puas, dan rumah sakit akan menjadi rujukan pasien dan calon pasien di masa yang akan datang.

Tulisan ini semoga bisa bermanfaat dalam memperingatai Hari Kesehatan, terlebih-lebih dengan hadirnya RS baru di Kota Gunungsitoli, RS Yakkum Nias. Selamat kepada pengelola RS Yakkum Nias, selamat melayani di Pulau Nias. [Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM.; Pengajar di Unriyo, Yogyakarta; Penulis Buku: “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)]

Related posts