SIDANG RAYA XVI PGI

Eporus BNKP: Terpilihnya Henriette, Berkat untuk Indonesia

Pdt Gomar Gultom dan Pdt. Dr. Henriette T. Lebang | Foto: Media Center SR XVI PGI

Pdt Gomar Gultom dan Pdt. Dr. Henriette T. Lebang | Foto: Media Center SR XVI PGI

GUNUNGSITOLI, NBC – Terpilihnya Pdt. Dr. Henriette T. Lebang sebagai Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) periode 2014-2019 merupakan sejarah baru sebab untuk pertama kalinya PGI dipimpin perempuan. Dengan kemimpinannya, Henriette diharapkan mampu membuat terobosan baru dalam pelayanan gereja, utamanya bagi mereka yang termarjinalkan.

Kesan sebagai pejuang kaum marjinal juga dirasakan Eporus BNKP Pdt Tuhoni Telaumbanua. Pertama kali bertemu dengan perempuan yang disapa ‘Ibu Ery’ ini di Hongkong pada 1998. Tuhoni mengatakan, Ibu Ery sejak menjadi mahasiswa di STT Jakarta sudah menjadi aktivis.

“Yang saya tahu pengalamannya di CCA (Christian Conference of Asia) cukup besar. Solidaritasnya terhadap kaum miskin, kaum tertindas, perempuan, maupun trafficking (perdagangan manusia) cukup tinggi. Itu satu hal yang sangat luar biasa dari ibu ini waktu di Hongkong. Apalagi setelah dia jadi General Secretary of CCA, perhatian CCA terhadap seluruh kegiatan kemanusiaan, masalah HAM dan kemiskinan cukup besar. Ini tentu jadi berkat bagi Indonesia,” tuturnya pada NBC (15/11/2014).

Walau demikian, menurut dia, kepemimpinan seorang perempuan mungkin saja menemui tantangan karena Indonesia masih dikuasai sistem patriarkhi. Akan tetapi, bisa saja ini menjadi reformasi kepemimpinan dimana seorang perempuan yang punya hati melayani. peduli dan memperhatikan kaum miskin dan marjinal. Ia juga memandang Ibu Ery sebagai seseorang yang terbuka.

“Tentu ini tidak terlepas dari dukungan Bapak Andreas Yewangoe sebagai Majelis Pertimbangan. Dan saya melihat komposisi Majelis Pekerja Harian (MPH) juga cukup kuat untuk memberikan dukungan. Pak Gomar juga bagus dan punya pengalaman. Saya melihat ini memberi harapan untuk implementasi dari Program PTPB atau Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama karena itu adalah program lima tahun ke depan.”

Dengan demikian, Tuhoni berharap ketegasan dan pokok-pokok pikiran tentang pembangunan daerah tertinggal seperti Nias dapat diwujudkan. Terutama dukungan PGI terhadap pembentukan Provinsi Nias. Begitu pula perhatian terhadap pengentasan kemiskinan dan ketertinggalan bisa direalisasikan seperti yang dibahas saat persidangan.

“Tentu kita tidak bisa berharap banyak bahwa nanti ada uang, tetapi dukungan berbagai pihak melalui PGI ini sangat diharapkan,” ujarnya.

Saat ditanya tentang kontribusi apa yang bisa dilakukan Gereja-Gereja di Nias, khususnya BNKP terhadap kepengurusan PGI yang baru, Tuhoni menjawab bahwa PGI memang berharap hal tersebut bisa dilaksanakan. Apalagi setelah pelaksanaan Sidang Raya pandangan masyarakat luar terhadap Nias semakin positif. Citra baik ini tentunya diharapkan melahirkan gagasan-gagasan baru dalam mengatasi masalah sosial dan ekonomi yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. [ANO]

Related posts