Berbagi Pisang dengan Hewan Ternak (Bagian 2)

Foto  keluarga warga Dusun Hiligeo, Desa Bawozamaiwo, Kecamatan Lahomi, Nias Barat. Pisang yang bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan mesti lebih dapat penghargaan dari warga. Foto Aminudin Hia

Foto keluarga warga Dusun Hiligeo, Desa Bawozamaiwo, Kecamatan Lahomi, Nias Barat. Pisang yang bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan mesti lebih dapat penghargaan dari warga. Foto Aminudin Hia

Kehidupan di desa-desa terpencil, bahkan terisolir, yang jauh letaknya dari Kota Gunungsitoli amatlah sulit. Untuk mencapai desa di sana perjalanannya amat berat. Jalan-jalan yang ada saat ini amat buruk kondisinya, warga mesti berjalan kaki cukup jauh karena sepeda motor pun tak bisa mencapai tempat tinggal mereka.

Kesulitan hidup tentu amat sering timbul. Bahan pangan sulit didapat bila hujan terus menerus turun. Nias memang wilayah yang punya curah hujan relative lebih tinggi ketimbang wilayah lain di tanah air kita. Kalaupun ada beras, harga pasti mencekik leher warga yang hidupnya menggantungkan diri pada hasil menderes getah karet atau panenan cokelat.

Dalam kondisi seperti itulah pisang berperan. Warga pun menjadikan pisang sebagai pilihan paling gampang untuk bertahan hidup.

Sabtu (1/11/2014), NBC berbincang dengan Faonasokhi Gulo, penduduk Kampung Hiligeo, Desa Bawozamaiwo, Kec. Lahomi Kab. Nias Barat. Pria itu mengeluh panjang lebar sekitar kehidupan warga sekitarnya.

“Akibat dari semakin naiknya harga kebutuhan pokok saat ini sebagaian warga masyarakat yang kurang mampu sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untunglah saya punya kebun pisang yang tidak seberapa luasnya. Buah pisang ini yang kami andalkan sekeluarga sebagai makanan pokok,” tutur dia.

Warga kampung itu ada kalanya menikmati sedikit kelegaan. Ini terjadi misalnya saat harga getah karet sedang tinggi, yakni Rp 25.000 per kilo.

“Saat seperti itu, kami merasa lega karena bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anak kami, sehingga pisang dalam kebun kami berikan untuk makanan ternak babi,” ujar pria usia 45 tahun yang tak pernah mengenyam pendidikan formal itu.

Buah pisang yang penuh gizi dan berkalori tersebut dicampur dengan santan, ampas kelapa dan daun ubi yang sudah dipotong-potong. Saat seperti itu hewan kesayangan pun merasakan ketentraman keluarga manusia yang memeliharanya.

Namun kondisi itu bakal berubah bila hujan turun terus menerus dan uang hasil penjualan getah ludes dan harganya mulai turun. Babi-babi di kandang tak akan mendapat pisang lezat lagi. Empunya kebun membutuhkannya sebagai makanan pokok sehari-hari atau mengolahnya menjadi keripik dan menjualnya ke kota.

Saat harga getah ada di posisi di bawah Rp 5000 setiap kilo seperti sekarang, pisang benar-benar jadi penyelamat ekonomi mereka. Warga kampung pun bergantung pada pisang hingga kondisi pulih kembali.

Cara hidup seperti itu sudah beberapa generasi berlangsung. Warga hanya melirik pisang saat terjepit akibat harga getah dan biji kakao anjlok. Sehari-hari pisang dianggap sesuatu yang tak terlalu penting karena tanaman ini amat mudah ditemui di mana-mana. Belum pernah ada penuturan warga bagaimana mereka memuliakan tanaman pisang.

Padahal pisang adalah sumber gizi yang hampir sempurna. Banyak ahli gizi punya keyakinan itu karena dalam buah pisang ada nutrisi enam yaitu: air, gula, protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Tak heran bila pisang telah menjadi makanan penting (pokok) bagi banyak orang. Pisang kini tumbuh di banyak negara, Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penghasil pisang terbanyak meski tak pernah dapat julukan Republik Pisang.

Orang Nias tak terlalu memperhatikan pisang. Setidaknya mereka tak sadar kenapa banyak pedagang asal Sumatera datang membeli pisang di desa-desa Nias. Pisang selama ini tak punya nilai yang terlalu tinggi bagi mereka. Pasalnya tanaman ini tumbuh di mana-mana dan amat mudah dijumpai.

Orang Nias perlu melirik pada warga di Sumedang Utara, Provinsi Jawa Barat. Di sana industri pisang tumbuh dengan pesat. Di rumah warga sibuk mengolah pisang menjadi sale dalam berbagai macam kreasi.

Meski sempat terhempas krisis ekonomi 1997-an, industri pisang tetap mampu bertahan. Kini kota itu mendapat kontribusi besar dari pisang. Industri pisang rumahan pun mampu bersaing dengan industry tahu yang sudah lebih dahulu tumbuh dan berakar di sana.

Seandainya di masa Sidang Raya PGI XVI ini, warga desa seperti Faonasokhi Gulo sudah punya ketrampilan mengolah pisang pastilah kisah hidup mereka bakal berbeda. (Aminudin Hia/DIS)