HARI TANI 2014

Petaniku Sayang, Petaniku Malang…

Oleh Anoverlis Hulu

Kebun jagung mlik warga di lahan dekat Bandar Udara Binaka, Kota Gunungsitoli. | NBC/Anoverlis Hulu

Kebun jagung mlik warga di lahan dekat Bandar Udara Binaka, Kota Gunungsitoli. | NBC/Anoverlis Hulu

NBC — Mawar kecewa. Panen jagung di kebunnya gagal total. Tiga bulan ia bekerja dan menunggu hanya tungkul tanpa isi yang ia peroleh. Sedih sudah pasti,tetapi ia harus bisa menerima kenyataan. Hasil jagung dari lahan seluas 10 meter bujursangkar yang dia olah, tak mampu memberikan rupiah yang ia harapkan.

Ibu tiga anak ini hanya pasrah. Tungkul tanpa isi pun siap-siap hanya akan menjadi makanan ternak babi miliknya. Sisa lainnya yang masih bisa dijual mungkin tak seberapa. Setidaknya, bisa membeli kebutuhan rumah tangga.

“Kalau bagus, satu buah harganya Rp 500, kalau tidak hanya Rp 200. Sisanya kalau tidak laku dimakan sendiri atau untuk ternak,” ujar Mawar Manik (32), seorang petani jagung dari Desa Binaka, Gunungsitoli, sambil sesekali memegang tungkul jagung yang masih muda itu.

Mawar menuturkan, belasan tahun menjadi petani jagung memang belum membuahkan hasil yang menyenangkan baginya. Sejak dulu sampai sekarang, semuanya sama saja. Malahan biaya untuk bertani saja yang semakin tahun semakin meningkat. Sebagai petani yang bergantung pada hasil panen, Mawar merasa sangat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Bertani itu sama seperti penjual, harus siap dengan modal untuk beli bibit, pupuk dan, pestisida. Kalau seperti ini kadang pergi ke CU (credit union) untuk meminjam. Ada uang, baru dicicil melunasinya. Akhirnya sering kekurangan karena uang ada untuk membayar pinjaman,” ujarnya sambil tersenyum pahit.

Sang suami yang bekerja sebagai buruh lepas pun tidak bisa diharapkan upahnya. Ada kerjaan, ada uang. Tapi bagi perempuan berkulit sawo matang itu keadaan ini harus dihadapi. Keluhan tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab, bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup, Mawar juga harus membiayai sekolah ketiga anaknya.

Pupuk Murah

Pupuk murah, itulah yang mereka inginkan. Pupuk, sebagai sumber nutrisi bagi tumbuhan itu memang sulit mereka dapat. Masalahnya ada dua, karena mahal dan dijual terbatas. Mawar memang sudah menjadi anggota Kelompok tani di desanya. Tapi, tampaknya kegiatan untuk kelompok petani sayur seperti dirinya tidak berjalan. Akibatnya, ia sangat kesulitan memperoleh pupuk yang ia perlukan agar tanamannya menjadi lebih subur.

Harga pupuk melonjak,tetapi hasil pertanian tidak seberapa. Itu pula yang dikeluhkan petani di Desa Binaka lainnya, Warasmina Ndraha (39). Dari hasil pertanian ia hanya bisa menghasilkan Rp 300.000 per bulan. Sementara harga pupuk urea dan NPK per kilogramnya naik satu hingga dua kali lipat dari harga sebelumnya. Belum lagi biaya pestisida atau membeli bibit.

“Makanya pemikiran jadi kacau kalau memikirkan nasib menjadi petani ini. Biaya yang dikeluarkan banyak.  Seperti NPK sebelumnya Rp 7.000 sekarang sudah Rp 11.000, pupuk urea sebelumnya antara Rp 3.000dan Rp 5.000, sekarang Rp 8.000 bahkan ada yang menjual Rp 9.000,” keluhnya.

Untuk mendapatkan pupuk, ia hanya bisa membeli di warung-warung yang berada di sekitar pecan(harimbale). Harga yang mahal membuat ia harus berpikir dua kali untuk membeli. Membeli pupuk langsung di pusat Kota Gunungsitoli, ibu yang akrab disapa Ina Rius ini mengaku berat diongkos. Hasilnya sudah bisa ditebak, tanaman sayur miliknya pun kurang menggembirakan.

“Kadang tidak diambil karena tidak bagus. Seperti sawi biasanya kalau bagus, satu ikat Rp 500, bahkan ada yang hanya membeli seharga Rp 200. Kalau langsung dijual ke pasar juga tidak sanggup karena tidak ada yang menjaga lahan ini. Suami bekerja, anak juga sekolah. Kalau bukan orang sekitar desa yang beli, ada beberapa orang dari Pasar Pagi yang datang untuk membeli,” kata Ina Rius.

Dengan penghasilan tak seberapa, ia harus bekerja lebih keras. Sama seperti Mawar, Warasmina juga beternak dan sang suami juga bekerja serabutan. Banyak beban yang harus ia selesaikan. Mulai dari tanaman, kebutuhan hidup hingga biaya sekolah kedua anaknya. Jatah beras untuk rakyat miskin (raskin) yang ditebus pun masih kurang.

“Saya ingin agar harga pupuk itu bisa sebanding dengan harga beras. Karena seperti petani karet juga mengeluh, harga karet Rp 6.000, tetapi beras dua kali lipat harganya,” ujarnya.

Milik Sendiri

Mawar dan Warasmina bukan satu-satunya petani yang bernasib seperti itu. Ada puluhan petani lainnya di Desa Binaka yang mengolah lahan dengan menanam jagung dan sayuran. Keadaannya tidak jauh berbeda; hasil panen yang tak pasti, melakukan berbagai pekerjaan dan membiayai sekolah anak-anak.

Misalnya yang dialami Atinia Zai atau Ina Jefri (35). Ia semakin pusing dengan biaya tambahan kedua anaknya yang bersekolah di salah satu SMP di daerah tersebut.

“Satu anak diminta biaya tambahan Rp 25.000 per bulan. Saya punya dua anak jadi harus menyiapkan Rp 50.000. Ini semakin memberatkan,” tuturnya.

Iapun selalu harus mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terberat, yakni tidak mendapat penghasilan sedikit pun. Bukan hanya karena gagal panen, misalnya, termasuk juga jika suaminya pulang tanpa upah karena tidak dibayar oleh pimpinan proyek (pemborong). Atau seperti saat kemarau panjang menghantam, membuatnya harus berhenti untuk sementara dari kegiatan bertani.

Malangnya, kerja keras mereka sepertinya tidak akan berakhir dengan manis. Ini karena lahan yang mereka olah bukanlah milik mereka sendiri melainkan tanah pemerintah. Puluhan hektar tanah yang membentang luas di sekeliling bandara Binaka Gunungsitoli tersebut tidak selamanya bisa mereka gunakan.

“Kalau nanti jadi dibangun, mau tidak mau kami tidak bisa bertani lagi. Dulu kami punya lahan,tetapi karena dihibahkan untuk pembangunan bandara, kami diperbolehkan menggunakan tanah ini. Makanya kami meminta tolong kepada pemerintah supaya kami tetap memiliki lahan untuk bertani supaya kami tetap memiliki mata pencarian,” ujar Ina Jefri.

Ia juga menyampaikan harapannya kepada anggota DPRD terpilih periode 2014-2019 Kota Gunungsitoli tentang nasib petani ini. Ibu yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal ini menginginkan agar para wakil rakyat di daerah ini bisa menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah. Ia ingin agar keluhan para petani di dengar sebab sebagai masyarakat kecil ia mengaku masih takut untuk menyampaikan kesukaran yang mereka alami kepada pemerintah.

Membutuhkan Perhatian

Sejak 2003, jumlah rumah tangga petani di Indonesia berkurang secara signifikan dalam satu dasawarsa dari 31,23 juta menjadi 26,14 juta rumah tangga. Artinya setiap tahun rata-rata 509.000 keluarga petani berkurang. Penyebabnya beragam, mulai dari minat terhadap pertanian yang semakin berkurang, lahan yang semakin sempit hingga minimnya perhatian terhadap pengembangan bidang pertanian (sumber: spi.or.id).

“Kami berharap, petugas PPL (petugas penyuluh lapangan) bisa sering-sering datang untuk melihat perkembangan dan kendala apa yang kami hadapi dalam bertani. Kami sangat membutuhkan kehadiran mereka karena kami masih harus banyak belajar tentang bercocok tanam yang lebih baik,” tutur Ernani Laowõ atau Ina Juan Mendrõfa (29).

Ia menuturkan, minimnya pengetahuan tentang cara bertanam padi yang baik dan pemeliharaannya membuat panen padi di lahan seluas setengah hektar miliknya itu terancam gagal. Ia tidak tahu mengapa padi yang ia tanam menguning dan tidak tumbuh subur. Ia juga tak tahu pupuk atau pestisida apa yang tepat untuk mengatasi hal itu. Sementara ia membandingkan dengan lahan padi di kiri-kanannya tidak mengalami hal yang sama seperti yang ia alami.

“Biasanya kalau padinya bagus bisa tiga kali panen dalam setahun. Tapi kalau keadaannya seperti ini, mungkin hasilnya tidak seberapa,” katanya.

Ia memang menyadari bahwa akhir-akhir ini hasil panen padinya berkurang. Dari 10 menjadi 8 karung padi. Benih, menjadi penyebabnya. Ia mengaku benih padi yang ia tanam berasal dari padi hasil panen sebelumnya.

“Kalau beli bibit baru mahal. Selain itu, ada bibit yang bagus tapi cepat sekali dimakan hama. Jadinya bingung. Kalau memang ada solusinya, mungkin kami bisa mencoba supaya hasil padi kami lebih baik,” ujar Ina Juan.

Selain masih memerlukan pendampingan tentang bercocok tanam, ia juga kembali menyampaikan harapannya tentang harga pupuk yang bisa bersahabat dengan kantong para petani. Begitu pula dengan kuota pupuk agar tidak dibatasi. Namun ia sangat berterimakasih kepada pemerintah daerah yang sudah mulai menunjukkan perhatian kepada petani. Salah satunya dengan penyediaan alat pertanian meskipun masih dikelola secara kelompok.

Inilah harapan para petani di Hari Tani 2014. Sudah sewajarnya nasib mereka diperhatikan. Terlebih, tahun ini peringatan Hari Tani mengangkat tema “Melaksanakan Kedaulatan Pangan dan Pembaruan Agraria untuk Kemandirian Bangsa”. Tampaknya ini sejalan dengan visi dan misi presiden terpilih 2014-2019. Visi misi Jokowi-Jusuf Kalla dalam bidang agraria yang juga memperjuangkan bidang pertanian dengan bantuan modal, pemberian lahan, peningkatan infrastruktur dan teknologi pertanian, pendirian koperasi dan pemasaran. Jika ini tercapai, maka tak ada lagi petani seperti Mawar, Warasni, Atinia atau Ernani yang mengeluh.

 

Related posts