Mistifikasi Bersalin dan Dukun Beranak di Pulau Nias

Oleh Fotarisman Zaluchu


Ilustrasi-Tanda-tanda-Melahirkan-Secara-Normal

Ilustrasi: Diolah, Google.com

NBC — Dalam proses persalinan ibu hamil di Pulau Nias, dukun masih berperan signifikan. Berdasarkan data lapangan yang penulis peroleh melalui penelitian langsung, hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyaknya pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun bersalin ini.

Di salah satu desa di Nias Barat, dalam satu tahun terakhir, semua persalinan ditolong oleh dukun. Pada penelitian yang dilakukan di Kecamatan Siduo Öri, Nias Selatan, meski bidan telah ada, dukun bersalin tetap menjadi alternatif utama masyarakat bersalin. Di Gidö, Kabupaten Nias, apalagi karena kebanyakan bidan tidak berdomisili di desa, masyarakat masih memercayakan diri untuk ditolong oleh dukun.

Fotarisman Zalukhu | Foto: Dok. Pribadi

Fotarisman Zalukhu | Foto: Dok. Pribadi

Meski data laporan yang dikirimkan oleh petugas kesehatan menyebutkan bahwa penolong persalinan di Pulau Nias banyak dilakukan oleh petugas kesehatan, itu diragukan meragukan. Pertama, mengingat pertolongan persalinan banyak dilakukan oleh dukun bersalin, data tersebut banyak yang tidak terlaporkan. Kedua, data tersebut tidak mungkin didapatkan oleh para bidan karena mereka umumnya tidak berdomisili di desa tersebut. Ketiga, sebagian besar desa di Pulau Nias masih belum terlayani oleh bidan atau tenaga kesehatan lainnya.

Kesulitan geografis dan alasan-alasan lainnya menyebabkan masyarakat tidak memiliki alternatif kecuali bersalin ke dukun. Apa boleh buat, dukun masih tetap menjadi primadona dan alternatif bersalin, meski kebanyakan dukun tidak memperoleh pelatihan sebagai dukun.

Akan tetapi, menggunakan tenaga dukun untuk bersalin tidak hanya dijelaskan oleh alasan-alasan di atas. Sebab, berdasarkan wawancara dengan tenaga kesehatan dan masyarakat, meski bidan ada, masyarakat tetap beranggapan dukun adalah alternatif utama dan paling penting untuk bersalin. Mengapa?

Mistifikasi Kehamilan dan Persalinan 

Bagi masyarakat Nias di pedesaan, kehamilan merupakan sebuah peristiwa yang bersifat pribadi. Umumnya, umur-umur awal kehamilan masih merupakan periode yang dianggap tabu untuk disampaikan kepada orang lain. Ada semacam anggapan bahwa kehamilan adalah hal yang tidak seharusnya orang lain tahu, termasuk bidan yang dianggap sebagai “orang luar”. Perempuan hamil menyimpan erat-erat keadaannya, hanya memberitahukan kepada suami atau ibu mertuanya bahwa ia sudah tidak lagi mendapatkan haid.

Eufemisme pun disampaikan kepada orang lain sehingga perempuan hamil sering disebut: “mofökhö” atau “so badanö”. Kata-kata “motabina” amat jarang disampaikan ketika seorang perempuan ditanyakan keadaannya.

Bagi masyarakat Nias, kosmologi berpikir masih terpecah dua. Dunia ini masih dianggap memiliki dua sisi: yang jahat dan yang baik. Pihak yang baik selalu akan terancam oleh pihak yang jahat. Karena itu, ada anggapan bahwa kehamilan bisa terganggu atau terancam oleh karena ada orang yang tidak menyukainya (niha si fatiu).

Jika kehamilan seorang perempuan Nias terdengar oleh orang yang jahat, kehamilan bisa terganggu di antaranya seperti gejala masuk angin, kurang enak badan, dan merasa tidak nyaman. Lazimnya disebut sebagai buru. Masyarakat menyatakan hal tersebut sebagai nilau niha.

Inilah yang kita sebut sebagai mistifikasi. Karena mistifikasi itulah, kehamilan sering tidak diketahui oleh banyak orang, termasuk bidan bahkan dukun sekalipun. Mistifikasi itu menyebabkan bidan berpotensi sebagai pihak lain yang darinya “orang jahat” bisa melakukan sesuatu yang tidak dihendaki. Maka tidak mengherankan, jika bidan dan tenaga kesehatan lainnya menjadi kurang dibutuhkan dalam kehamilan. Masyarakat lebih menyukai dukun karena dianggap mampu menangani dan mengatasi masalah-masalah selama kehamilan, termasuk jika terjadi gangguan dari pihak yang jahat tadi.

Dukun biasanya menggunakan ramuan dan melakukan pengurutan, jika diperlukan supaya ibu hamil tersebut tidak mengalami masalah atau terhindar dari masalah. Dukun juga dianggap mampu menangkal perbuatan jahat orang lain dengan doa-doanya. Dukun dianggap bisa memberikan ramuan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan yang katanya berasal dari angin jahat.

Mengapa dukun dianggap mampu melawan kekuatan jahat? Para dukun itu, biasanya mengakui bahwa mereka mendapatkan kemampuan menolong persalinan itu dari semacam roh (eheha), yang kemudian menginspirasi mereka. Salah seorang dukun menceritakan kepada penulis bahwa awalnya menolak untuk menjadi seorang penolong persalinan. Namun, seolah ada suara yang terus-menerus mengingatkannya dalam mimpi sehingga ia tak kuasa untuk menolaknya.

Dukun mengakui bahwa mereka tidak memiliki hal itu dari dirinya sendiri. Mereka menganggap bahwa otoritas dari Tuhan-lah yang memberikan mereka kekuatan seperti itu. Karena itulah mereka sering melafalkan doa-doa sebelum menolong persalinan. Atas alasan itu, masyarakat umumnya percaya kepada dukun. Dukun dianggap sebagai lawan yang sepadan dengan kekuatan jahat tadi karena memiliki kemampuan supranatural yang berasal dari Tuhan.

Pada saat persalinan, mistifikasi ini juga masih terus terjadi. Saat bersalin dianggap menjadi pintu masuk yang paling krusial bagi kekuatan jahat dari orang lain. Maka diusahakanlah proses bersalin menjadi tertutup. Terkadang, ibu hamil melahirkan di tempat lain untuk menghindari dari perbuatan jahat pihak lain. Lagi-lagi karena anggapan demikian, penolong persalinan yang paling tepat bukanlah tenaga kesehatan, melainkan dukun. Karena selama bersalin, ada saja kemungkinan terjadi kekuatan jahat akan dikirimkan untuk menghambat atau menimbulkan gangguan kepada ibu hamil. Karena itu dukunlah yang dianggap paling tahu mengenai hal itu. Dukun memiliki kemampuan menangani masalah-masalah yang dipercaya tidak bisa ditangani oleh dunia medis.

Maka tidak mengherankan, persalinan harus segera diselesaikan. Mistifikasi dalam persalinan itulah yang kemudian menyebabkan banyak ibu hamil ingin lekas bersalin, meski hanya merasa sakit-sakit di perutnya dan mules. Mereka ingin cepat-cepat menyelesaikan proses persalinan itu karena jika terlalu berlama-lama, angin jahat itu akan masuk ke dalam jalan lahir dan bisa mengganggu persalinannya, termasuk akan menyebabkan kematian bagi sang ibu.

Apa yang dianggap angin jahat dan bisa menyebabkan kematian pada ibu sering disebut sebagai makhluk merah panjang yang bisa memakan jantung ibu. Makhluk kecil itu—entah bagaimana bisa masuk ke dalam rahim, menurut mereka hanya karena kekuatan jahat tadi—bergerak dari dalam jalan lahir ibu yang sedang bersalin, menelusuri perut ibu yang sedang bersalin, menuju ke atas, dan kemudian menusuk ulu hati ibu sampai kemudian berdarah dan menyebabkan kematian.

Makhluk kecil ini disebut oleh para dukun sebagai zo’io mbaewa atau zo’io mbawi. Makhluk kecil itu punya mulut, kecil, pipih, berwarna putih dan licin. Makhluk kecil itu harus segera ditangkap jika bayi dan plasenta (ga’a ndraono) telah keluar. Jika terlambat, itu tadi, makhluk itu akan masuk ke dalam dan mematuk (idou) ulu hati ibu.

Mistifikasi lain menyangkut plasenta tadi. Khusus di Kecamatan Sidua Öri, Nias Selatan, banyak dukun yang berpantang memotong tali pusat sebelum plasenta keluar dari jalan lahir seluruhnya. Jika tali pusat dipotong, plasenta bisa lepas dan kemudian masuk kembali ke dalam rahim, lalu memakan jantung ibu yang sedang bersalin dan menyebabkan kematiannya.

***

Sewaktu peneliti melakukan penelitian di Kecamatan Sidua Öri tersebut, para bidan mengeluhkan kepercayaan para dukun bahwa tali pusat bayi jangan dipotong sebelum plasenta keluar seluruhnya. Kepercayaan ini begitu kuat sehingga pernah seorang bidan menyaksikan betapa terkejut dan takutnya seorang dukun ketika datang belakangan, menyaksikan bidan tersebut telah memotong plasenta. Ekspresi dukun tersebut menyiratkan ketakutan pada risiko yang akan terjadi.

Padahal, pemotongan tali pusat tersebut dilakukan oleh bidan karena bayi ibu tersebut telah keluar sekitar sejam lamanya dan telah membiru akibat kedinginan dan dibiarkan saja tanpa dibungkus.

Untuk mempercepat bersalin, sebagaimana telah disampaikan di atas, salah satu penentu adalah ibu yang hendak bersalin itu. Kekuatannya menjadi sangat penting untuk diandalkan untuk segera bersalin. Karena itu, model bersalin di hampir semua tempat yang penulis temui umumnya adalah ibu hamil melakukannya dengan berjongkok, dengan lutut ke tanah. Dengan cara bersalin seperti itu, menurut yang dimengerti oleh mereka, akan lebih mudah mengedan.

Untuk meningkatkan kekuatan perempuan yang akan bersalin itu, terkadang sebuah tali dari kain diikatkan ke langit-langit rumah untuk menjadi pegangan guna menolongnya mengedan lebih kencang dan proses bersalin akan lebih cepat lagi.

Jika cara bersalin seperti itu ditempuh, ibu hamil tersebut dipeluk oleh dukun bersalin dari belakang, kemudian perutnya didorong-dorong ke arah bawah supaya bayi yang dikandungnya cepat keluar. Kadang, karena proses tersebut bisa lama, ada laporan dari salah seorang tenaga kesehatan di Nias Barat bahwa ia pernah menerima seorang pasien bersalin yang lututnya penuh luka karena terlalu lama disuruh berjongkok sementara bayi  tidak kunjung juga keluar-keluar.

Bersalin model terlentang umumnya ditempuh jika ibu yang hendak bersalin telah kelelahan dan lemas. Maka lagi-lagi, untuk membuat proses bersalin bisa segera selesai, dukun kemudian meminta anggota keluarga lain atau dukunnya sendiri yang melakukannya untuk mendorong perut ibu hamil dari atas sampai ke bawah. Tindakan itu, dilakukan untuk menolong bayinya cepat keluar.

***

Apa yang terjadi jika ibu hamil kemudian meninggal di tangan dukun? Lagi-lagi mistifikasi masyarakat Nias memberikan penjelasan. Seorang dukun menceritakan bahwa ia pernah menolong seorang ibu, tetapi kemudian meninggal meski bayinya selamat. Jawabannya singkat, “börö wa’abölö niha gulidanö ba ikaluakö ndro soya”. Dukun tersebut menyatakan bahwa kekuatan orang jahat tersebut ternyata lebih kuat. Masyarakat menjawabnya sebagai: “no ni tehe Nama”. Meski kalah, tetapi usaha keras telah diupayakan.

Jawaban Medis

Memang, banyak praktik dalam kehamilan dan persalinan yang sesungguhnya sarat dengan mitos. Apa yang disebut sebagai makhluk kecil tadi sebenarnya adalah sisa plasenta yang tertinggal (dalam dunia medis disebut retensio placenta) yang jika dibiarkan memang akan menyebabkan infeksi dan berujung pada kematian ibu yang selesai bersalin.

Anggapan bahwa persalinan harus segera diselesaikan juga kemungkinan karena masyarakat tidak memahami apa yang dalam dunia medis dikenal sebagai “bukaan”. Masyarakat tidak tahu bahwa jika masih belum saatnya, seharusnya ibu hamil belum saatnya diminta untuk mengedan.

Melakukan persalinan sebelum waktunya akan berisiko pada kematian ibu karena telah telanjur kelelahan. Karena itulah kemudian, karena kematian-kematian yang terjadi akibat persalinan yang belum waktunya tersebut, masyarakat merasa takut akan saat bersalin sehingga menempuh apa pun untuk mempercepatnya. Di beberapa lokasi, ketika merasa perutnya seperti berkontraksi (mohulu-hulu), sebelum ke dukun, ibu hamil meminta disuntik “obat panas” kepada para perawat praktik swasta. Obat itu sesungguhnya adalah oxytocin, yang seharusnya hanya diberikan kepada ibu bersalin dengan pemantauan ketat dari bidan atau dokter.

***

Mengenai ketakutan akan tersedotnya kembali plasenta ke dalam rahim, hal itu dimungkinkan karena pada masa lalu tidak ada klem untuk menahan tali pusat sehingga tidak terlepas. Tetapi kini setiap pemotongan tali pusat, bidan hanya tinggal memasang klem tersebut, menunggu plasenta keluar dengan sendirinya. Pengetahuan dukun yang kurang menyebabkan dukun merasa plasenta itu masih bisa kembali ke dalam rahim ibu.

Perdarahan yang banyak terjadi di Pulau Nias pada ibu hamil, sebagaimana disampaikan oleh dukun-dukun bersalin, terjadi bukan karena nilau niha, melainkan komplikasi medis yang terjadi pada ibu hamil yang hendak bersalin. Model bersalinan  yang mengandalkan kekuatan ibu dan atau tekanan pada perut ibu hamil sebagaimana diceritakan di atas berisiko pada robekan jalan lahir atau bahkan berpotensi menyebabkan infeksi akibat persalinan yang tidak steril.

Banyaknya anak, kondisi ibu yang anemia, serta riwayat medis lain turut memengaruhi keadaan ini sehingga kasus-kasus perdarahan selama persalinan yang berujung kepada kematian ibu, banyak dijumpai dan diceritakan oleh para dukun bersalin.

Jantung Kepercayaan

Itulah sekelumit pengalaman mendalami peran dukun dalam kehamilan dan persalinan di Pulau Nias. Masih banyak hal yang akan diungkapkan di dalam tulisan lain, di dalam upaya penulis memperbaiki keadaan yang ada.

Tetapi harus diakui, meski banyak pemahaman para dukun yang tidak sesuai, apa boleh buat, untuk saat ini, mereka merupakan jantungannya kepercayaan masyarakat secara khusus dalam periode kehamilan dan persalinan. Bukan hanya soal ada tidaknya tenaga kesehatan, tetapi bahwa kosmologi dan mistifikasi telah menyebabkan dukun bukan hanya sekadar penolong persalinan, tetapi bagian dari “sisi baik” yang sangat diharapkan oleh masyarakat untuk menangkal hal-hal yang tidak baik.

Apa pun adanya mereka, para dukun itu telah bekerja sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang, sepanjang alam pikir masyarakat yang sangat percaya pada  keberadaan mereka. [FOTARISMAN ZALUCHU, Kolumnis, Kandidat PhD dari University of Amsterdam, Netherlands]

Related posts