HARI PENGURANGAN RISIKO BENCANA (2)

Mencari Jalan Perubahan Paradigma Risiko Bencana

Pendidikan adalah salah satu cara mengubah paradigma pada bencana. Foto Dok NBC

Pendidikan adalah salah satu cara mengubah paradigma pada bencana. Foto Dok NBC

NBC — Pada kenyataannya bencana bisa datang setiap saat. Di tengah ketidakpedulian banyak orang serta sulitnya membangun kesadaran bukan berarti tak ada peluang dalam upaya meminimalisir resiko.

Dalam hal ini, Elisati Zandroto dari Jaringan Rakyat Bersiaga Indonesia (JARI) Ya’ahowu menekankan pentingnya perubahan paradigma PRB dari tindakan responsif menjadi tindakan prefentif. Untuk itu semua harus mengambil peran masing-masing serta melibatkan multisektoral karena fokus PRB menyangkut seluruh aspek, baik sosial, ekonomi, lingkungan, dan lain-lain.

“Kemudian bagaimana selama ini inisiatif datangnya dari pemerintah, sekarang ubah menjadi tanggungjawab bersama seluruh elemen masyarakat. Termasuk bagaimana agar adanya kerjasama dengan NGO atau lembaga swasta untuk mensinergikan kegiatan yang dilakukan dengan rencana strategis yang telah ada di setiap daerah,” ujarnya.

Ia juga menyarankan agar dilakukan pendekatan baru kepada masyarakat terkait PRB agar kegiatan yang dilaksanakan bisa berkelanjutan.

Namun tentu tidak gampang bagi para pegiat dan relawan menyadarkan masyarakat. Lantas bagaimana caranya?
Aktivtas Sarumaha dari Caritas, yang tampil sebagai pembicara terakhir dalam diskusi hari itu, mengemukakan bahwa untuk membangun ketangguhan masyarakat dilakukan dengan memfasilitasi proses analisa partisipatif tentang ancaman, kerentanan dan kapasitas masyarakat.

Caritas sendiri telah melaksanakan hal tersebut dan mendapat hasil yang cukup menggembirakan. Diantaranya masyarakat menjadi pelaku utama dalam membangun ketangguhannya, perempuan aktif berpartisipasi, pelembagaan kesiapsiagaan tanggap darurat di level desa/komunitas terbentuk, dan kapasitas respon bencana menjadi lebih baik.

“Namun ada tantangan yang dihadapi misalnya proses dan pelibatan masyarakat membutuhkan waktu yang lama, sementara waktu dan dana terbatas. Tantangan berikutnya keterbatasan masyarakat dalam memahami apa yang disampaikan karena kemampuan baca tulis yang masih rendah,” kata Aktivitas.

Akan tetapi, dengan adanya UU No 6 tahun 2014 tentang Desa, ia berharap ini akan menjadi peluang untuk meningkatkan pembangunan desa termasuk soal kesiapsiagaan bencana. Untuk itu, peluang ini harus dimanfaatkan sekaligus dikawal sebaik-baiknya agar mewujudkan hasil yang diinginkan bersama.

Rekomendasi

Pada akhir diskusi tersebut, ada beberapa rekomendasi yang dihasilkan sebagai bahan kepada pemerintah, lembaga ataupun masyarakat agar semakin peduli terhadap PRB ini. Rekomendasi tersebut diantaranya sosialisasi resiko bencana kepada semua lapisan masyarakat melalui media-media publik secara berkesinambungan, memasukkan kearifan lokal (local wisdom) dalam menyusun program kesiapsiagaan bencana, membentuk gugus tugas perumusan Peraturan Daerah (Perda) kesiapsiagaan bencana, dan membentuk tim untuk melakukan pendampingan terhadap masyarakat terkait kesiapsiagaan bencana.

Adapula rekomendasi terkait penanggulangan sampah antara lain adanya manajemen pengelolaan sampah dengan memisahkan sampah organik dan non organik, mengatur jadwal pengangkutan sampah mulai dari pemilahan sampah rumah tangga hingga ke tempat pembuangan akhir, memberikan pelatihan tentang tata cara pengolahan sampah, serta membuat kebijakan mengenai sampah dari tingkat desa hingga kota.

Sementara dari sisi pembangunan, para peserta merekomendasikan agar dilakukan analisis pembangunan yang berbasis kelestarian lingkungan dan pembangunan sanitasi maupun drainase yang tepat sasaran. [ANOVERLIS HULU]

Related posts