PARIWISATA KOTA GUNUNGSITOLI

Jalan-jalan ke Kampung Wisata Desa Tumöri

Oleh Anoverlis Hulu

NBC — Rumah tradisional selalu menjadi daya tarik utama wisata bagi daerah yang terkenal kaya dengan adat istiadatnya. Sama halnya seperti Nias, yang memiliki rumah tradisional yang disebut omo hada sebagai salah satu daya tarik selain seni tari, peninggalan megalitikum dan keindahan alamnya.

Omo hada menjadi sangat menarik tidak hanya karena ornamen dan ukiran ataupun arsitekturnya. Cerita di balik sebuah omo hada juga memesona. Di setiap wilayah, omo hada memiliki bentuk, ukuran, maupun ukiran yang berbeda. Namun, dari berbagai perbedaan itu, satu yang pasti bahwa omo hada menjadi bukti besarnya semangat gotong royong orang Nias pada masa lalu.

Sebab, untuk membangun sebuah omo hada yang paling sederhana sekalipun memerlukan bahan bangunan yang banyak dan berat serta diperoleh dari lokasi yang cukup jauh sehingga memerlukan tenaga manusia yang banyak pula. Belum lagi pengorbanan materi yang dikeluarkan oleh pemiliknya menjadi satu dari sekian rangkaian cerita di balik sebuah rumah adat.

***

Bercerita tentang omo hada, Nias Selatan menempati urutan pertama bagi para wisatawan luar yang penasaran ingin menyaksikannya. Akan tetapi, jika merasa jarak yang ditempuh untuk menuju ke sana cukup jauh sementara waktu yang tersedia sangat singkat, ada alternatif lainnya. Wisatawan bisa menikmatinya di Kota Gunungsitoli.

Adalah Desa Tumõri, sebuah desa tua di Kota Gunungsitoli yang menyimpan pesona rumah tradisional khas Nias. Desa Tumõri merupakan satu dari beberapa desa di Kota Gunungsitoli yang masih memiliki rumah adat. Akan tetapi, jumlahnya yang jauh lebih banyak menjadikan desa ini direkomendasikan sebagai desa wisata. Ini pula yang kemudian membuat pemerintah Kota Gunungsitoli menetapkan Desa Tumöri sebagai lokasi wisata unggulan di kota ini.

Desa Tumöri terletak di kecamatan Gunungsitoli Barat kota Gunungsitoli yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota. Jalan sempit, berliku, mendaki dan berlubang, seolah menjadi tantangan tersendiri untuk menuju ke tempat ini. Letaknya yang berada di ketinggian, membuat desa ini terasa sejuk dan bersih. Desa ini menjadi ikon rumah adat Laraga yang menjadi ciri rumah adat di daerah Nias bagian utara.

Untuk menuju ke desa ini bisa menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Ada dua jalur yang bisa dilewati, Desa Sihare’ö Siwahili atau Desa Dahana Tabaloho. Bagi yang baru pertama kali ke tempat ini tentu bingung karena ada beberapa simpang yang akan ditemui sebelum menuju lokasi ini. Apalagi tidak ada tanda penunjuk khusus.

Karena itu, jika tidak didampingi oleh pemandu wisata atau orang yang tahu lokasi tersebut, sebaiknya rajin-rajin bertanya kepada penduduk sekitar.

Masih Bertahan 

Arsitektur omo hada di Desa Tumöri memiliki perbedaan signifikan dengan rumah tradisional di Nias Selatan. Bentuknya oval, minim ornamen dan ukiran, memiliki teras kecil, pintu sebagian besar dari samping, rumah ataupun atap yang lebih melengkung dan tidak terlalu tinggi. Terdapat pula satu ornamen khas berbentuk bulat panjang yang disebut ni’obõgi-bõgi. Ornamen ini menggantung di tiang vertikal rumah, dengan beberapa cantolan. Ni’obõgi-bõgi berfungsi sebagai tempat gantungan.

Tidak seperti di Nias Selatan, rumah tradisional di daerah ini tidak berjajar dan berdekatan satu sama lain, tetapi sebaliknya tersebar dan terpisah-pisah. Biasanya satu rumah ditempati oleh dua atau tiga keluarga.

Di desa ini masih tersisa 10 omo hada. Dalam tulisan Yafaowolo’õ Gea yang dimuat di Kompasiana.com menuliskan awalnya terdapat 21 rumah adat, tetapi 9 telah dirobohkan oleh ahli warisnya dan 2 lainnya roboh akibat gempa 2005 lalu.

Usia rumah yang sudah mencapai ratusan tahun ini pun sudah mengalami beberapa perubahan. Perawatan rumah tradisional yang membutuhkan biaya sangat besar ini menjadi faktor utama para pemilik mencoba cara terbaik untuk mempertahankannya. Ada yang dicat, adapula yang direhabilitasi.

Rumah tradisional yang mendapat rehabilitasi adalah milik Fangali Duha, salah seorang tuhenõri pada masa lampau. Rehabilitasi rumah yang kini ditempati oleh Mawar Zebua tersebut dilakukan atas bantuan Pastor Yohannes Hammerle. Ia menuturkan, kala keluarganya menyerah akan pemeliharaan rumah tersebut, Pastor Yohannes dengan kepeduliannya menyatakan siap membantu keluarga Mawar dalam merehabilitasi rumah yang usianya hampir dua kali lipat lebih tua dari dirinya tersebut.

“Saya sangat berterima kasih atas kepedulian Pastor Yohannes untuk merehabilitasi rumah ini karena sejujurnya saya dan keluarga tidak sanggup untuk merawat,” ujar Mawar Zebua yang juga menantu dari pemilik rumah.

Rumah ini paling menonjol di antara semuanya karena di depan halamannya terdapat beberapa batu pipih dan lonjong berdiri tegak, yang disebut gowe. Gowe merupakan simbol status si pemilik rumah. Semakin banyak gowe yang berdiri, semakin terpandang pula keluarga tersebut sebab untuk mendirikan satu gowe saja diperlukan pengorbanan materi untuk menyembelih babi dan mengadakan pesta.

Menurut Mawar, pastor sering menyarankan para tamu untuk singgah atau menginap di rumah tradisional tersebut. Pastor juga senantiasa mengingatkan agar tetap menjaga keaslian rumah itu. Misalnya tetap menggunakan atap dari daun sagu atau bulu zaku meskipun hampir sebagian besar rumah adat saat ini beratap seng. Demikian pula tali pengikat pada anyaman atap diupayakan menggunakan kulit bambu ketimbang tali plastik.

“Pastor bilang, yang namanya rumah adat apalagi ini desa adat harus tetap menggunakan bahan alami. Memang sangat sulit melaksanakannya terutama karena bahan seperti bulu zaku itu susah didapat,” tuturnya.

Hal yang sama juga dituturkan Hiburan Zendratõ atau Ina Klarinta Zebua, salah seorang anggota keluarga ahli waris rumah adat tuhenõri lainnya. Rumah yang juga sudah berusia ratusan tahun tersebut bahkan hanya mendapat sedikit perbaikan. Akibatnya, beberapa bagian dari rumah terlihat membusuk dan dimakan rayap. Padahal, rumah ini juga termasuk langganan para tamu karena memiliki ciri khas ukiran di dinding luar jendela.

“Untuk mengganti atap saja membutuhkan puluhan juta rupiah. Penghitungannya, untuk satu rumah minimal memerlukan 7.000 helai bulu zaku dikali Rp 2.500 per lembar, berarti Rp 17,5 juta. Belum lagi dengan kayu-kayu yang diperlukan, susah ditemukan dan harganya sangat mahal. Pemeliharaan yang dilakukan pun jadi seadanya,” ujarnya.

Biaya pemeliharaan yang mahal, kata Ina Klarinta, menjadikan rumah adat tersebut tidak lagi ditempati. Rumah ini baru digunakan saat pertemuan keluarga atau saat tamu dari luar daerah berkunjung. Biasanya, sang kepala desa akan mengumumkan kepada mereka (pemilik rumah adat) untuk mempersiapkan rumahnya masing-masing ketika tamu datang.

Rumah tradisional menarik berikutnya adalah yang dihuni Markus Zebua. Rumah keluarga Markus yang juga menjabat sebagai sekretaris desa setempat ini terbilang sangat sederhana. Rumah tersebut terkesan lebih kecil daripada rumah tradisional kebanyakan. Ukuran pintunya yang cukup kecil dengan kemiringan sekitar 30 derajat menjadikan tamu harus berhati-hati saat memasukinya.

Berada di dalam rumah, kesederhanaan semakin tampak manakala ukiran ataupun ornamen apa pun tidak ditemukan. Semuanya polos, ibarat rumah panggung biasa. Akan tetapi, dengan bentuk yang terbuka dan lebih rendah justru membuat angin bebas masuk ke dalam rumah sehingga ruangan terasa sejuk.

***

Selain rumah tradisional, masih ada beberapa hal menarik lainnya yang bisa ditemukan di Desa Tumõri. Misalnya, kuburan (peti) yang terbuat dari semen. Jumlahnya tinggal beberapa dan kondisinya tidak terawat. Walau usianya masih puluhan tahun, tetapi desain kuburan ini berbeda dari yang umumnya. Kuburan tersebut seolah-olah memiliki cetakan khusus karena permukaannya cukup halus dan semua kuburan yang ditemui memiliki pola serta ukuran yang sama. Pada bagian atas terdapat gambar salib dan di ujung (bagian kepala) tersedia bidang yang ditulis dengan beberapa kalimat. Tidak jelas apakah kalimat tersebut merupakan ayat Alkitab karena kondisinya yang tidak terawat lagi.

Saat ini, masyarakat juga tengah mengembangkan kerajinan bola nafo atau tepak sirih, sebagai suvenir. Sebelumnya, adapula warga yang membuat miniatur rumah adat, tetapi karena kurang diminati kegiatan tersebut akhirnya tidak dilakukan lagi. Kegiatan ini sesungguhnya bisa mengundang wisatawan yang penasaran dengan pembuatan tepak sirih jika meniru daerah lainnya, seperti Flores, Bali, atau Jawa yang membuka kesempatan bagi pengunjung untuk melihat bahkan mencoba menenun atau membatik.

Untuk diketahui, bola nafo bersama omo hada sudah tercatat sebagai ditetapkan sebagai Warisan Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 18 Oktober 2014.

Perlu Perhatian dan Pengelolaan

Sayangnya, peluang seperti ini tampaknya belum dimanfaatkan. Seluruh potensi wisata yang ada tidak dikelola dengan baik. Contohnya saja dari minimnya pemeliharaan terhadap rumah adat. Dana yang diharapkan dari pemerintah belum mereka rasakan. Biaya pemeliharaan yang diterima tahun 2013 lalu juga sangat terbatas dan berasal dari kegiatan Program Nasional Pengembangan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan. Selain karena jumlahnya tidak sebanding dengan keperluan, kabarnya berbagai potongan tidak jelas semakin memangkas dana terbatas ini.

Begitu pula dengan upaya menarik kunjungan wisata. Di desa yang notabene desa wisata ini justru tak memiliki program rutin seperti sanggar yang menampilkan pertunjukan budaya Nias. Jika serius dikelola, desa ini bisa menyelenggarakan pertunjukan budaya secara teratur. Dengan begitu, kunjungan wisatawan tidak sekadar ‘numpang lewat’ semata.

“Kecuali ada tamu penting, baru warga yang bisa menari tradisional Nias dikumpulkan, dilatih lalu melakukan pertunjukan. Sementara kalau hari-hari biasa paling kalau wisatawan datang, foto-foto sebentar, lalu pergi,” ujar Ina Klarinta Zebua.

Tidak adanya pengelolaan yang baik terhadap wisata di kampung ini mengakibatkan pariwisata tidak berdampak apa-apa kepada masyarakat. Masyarakat di desa seluas 2,45 kilometer persegi ini tetaplah masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada karet dan pekerjaan serabutannya. Kunjungan wisatawan lokal, nasional, maupun internasional hanya memunculkan rasa kebanggaan. Desa berpenduduk 1.113 jiwa ini belum bisa mengecap manisnya hasil dari sektor pariwisata.

***

Hal ini semakin diperparah dengan tidak tersedianya air sebagai kebutuhan dasar sehari-hari. Masyarakat terpaksa harus menempuh jarak sekitar 2 kilometer agar bisa memperoleh air bersih. Sungai juga jauh dari kediaman masyarakat. Berikutnya, aliran listrik yang belum seluruhnya sampai ke rumah-rumah. Bagaimana mungkin desa ini dipromosikan jika keadaan ini tidak segera ditangani? Dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang rata-rata hanya tamatan sekolah dasar, diperlukan perhatian dan pengelolaan yang lebih berkualitas dari pihak yang berkompeten.

“Sejujurnya memang untuk tahun ini, Dinas Pariwisata Kota Gunungsitoli tidak memiliki program khusus terkait pengembangan wisata Desa Tumõri. Akan tetapi, di 2015 kami sudah mengusulkan beberapa hal untuk pembenahan desa tersebut. Namun, semuanya itu bergantung pada pengesahan anggaran di DPRD. Hasilnya baru bisa diketahui apa bisa dilaksanakan atau tidak pada awal tahun depan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Gunungsitoli, Pintar Zebua.

Usulan yang diajukan, menurut Pintar Zebua, adalah pembangunan infrastruktur seperti tembok penahan dan bantuan khusus kepariwisataan. Sementara program pengembangan hasil kerajinan tangan ataupun sanggar belum dapat dilakukan karena memerlukan kerja sama dan komitmen yang kuat dari masyarakat itu sendiri.

Untuk bisa membangun Desa Tumöri menjadi desa wisata yang diharapkan, kata Pintar Zebua, sebenarnya banyak program yang bisa dilakukan. Di antaranya pembangunan fasilitas air bersih dan pembangunan fasilitas wisata tambahan lainnya agar wisatawan semakin tertarik untuk berkunjung. Namun, keterbatasan anggaran menjadikan pembenahan di lokasi wisata ini belum bisa sepenuhnya bergantung pada pemerintah.

“Kami juga sudah menyampaikan kepada Menteri Pariwisata agar anggaran pembangunan untuk Desa Tumöri ditambah. Namun, katanya sampai saat ini masih dalam proses,” ujarnya.

Harapan besar kepada pemerintah dan pihak yang peduli akan kemajuan Desa Tumöri disampaikan. Adanya pembangunan infrastruktur yang lebih baik, pengelolaan potensi wisata, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi kesimpulan umum apa yang diinginkan oleh masyarakat di desa tersebut.

Terlebih, momen pelaksanaan Sidang Raya XVI Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) seharusnya dimanfaatkan untuk serius memperhatikan obyek wisata unggulan di kota Gunungsitoli.

Agar harapan ini bisa terwujud, pemerintah hendaknya merangkul pihak lainnya seperti para pelaku industri wisata. Dengan demikian, berbagai pekerjaan bisa dilakukan serentak karena dikerjakan bersama-sama. Namun, patut dicatat, bahwa kemajuan yang ingin dicapai tersebut juga tentunya berpulang pada masyarakat yang harus mampu mengelola dan memelihara fasilitas yang ada.

Related posts