SERI ALAT MUSIK

Infografik: Fondrahi

Infografik - Fondrahi (1)

“Nias Dalam Infografik” ini dipersembahkan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) dan NBC. Didukung oleh Yayasan Pusaka Nias.

Oleh Apolonius Lase

NBC — Banyak benda bernilai sejarah yang tak lagi kita jumpai sekarang ini. Ada yang hanya tinggal nama. Fondrahi ini salah satunya. Alat musik ini dipakai sebagai wahana religi untuk berkomunikasi dengan dewa-dewa yang dipercayai oleh masyarakat Nias sebelum misionaris membawa agama datang di Pulau Nias.

Sebelum para misionaris datang, para leluhur orang Nias yang masih menganut kepercayaan politeisme, yakni percaya pada banyak allah atau dewa berbentuk roh-roh yang mereka sebut dalam berbagai istilah seperti Lowalangi, Zihi, Nadaoya, Laturadanö, Luluö. Mereka juga percaya pada Bela, yang berkuasa pada para binatang di hutan. Para dewa yang dipercaya oleh leluhur orang Nias dianggap bisa memberikan pertolongan kepada mereka serta sebaliknya juga bisa mencelakakan mereka.

Sebagai wujud kepercayaan ini, leluhur orang Nias selalu melakukan ritual-ritual atau upacara-upacara yang biasa dipimpin oleh pemimpin yang disebut ere. Pemimpin kepercayaan ini dianggap memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan dunia mistis dan bisa berkomunikasi dengan para dewa. Ere melakukan pemujaan kepada dewa-dewa yang mereka percayai dengan melantunkan syair-syair yang kita kenal sebagai hoho diiringi dengan fondrahi ini dengan harapan dewa mereka memberikan pertolongan.

Seperti ditulis Ensiklopedia Nias, menurut keahlian dan kemampuannya, ada banyak jenis ere, antara lain ere mbanua, ere niha föna, ere hoho, ere nadu, ere nomo, ere hili. Hampir semua aktivitas kehidupan Nias kuno memiliki ere-nya sendiri-sendiri. Saat seseorang yang ingin sembuh dari penyakitnya, wajib memanggil ere wamökhö yang diyakini bisa menyembuhkan penyakit.

Namun, begitu misionaris datang ke Nias pada September 1865, yang ditandai dengan kedatangan Ernst Ludwig Denninger, evangelis dari RMG (Rheinische Missions Gesselschaft), perlahan agama lokal yang disebut animisme-politeisme itu dihapus. Fondrahi dilarang penggunaannya. Pembuatan-pembuatan patung untuk menghormati leluhur (adu zatua), ayah (adu nama), ibu (adu nina), paman (adu zibaya) dibumihanguskan. Orang Nias dilarang memberhalakan roh-roh serta patung-patung karena bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dibawa oleh misionaris yakni Kristen.

***

Pengalaman penulis, kepercayaan kepada Bela bahkan hingga 1980-an masih bisa dijumpai dalam kehidupan masyarakat Nias. Hal ini bisa dibuktikan terutama pada saat tradisi malu (berburu binatang di hutan) diadakan. Sebelum berburu, sihalu (para pemburu) meminta izin kepada dewa pemilik hutan bernama Bela itu dengan mempersembahkan sesajen berupa sirih (afo).

Salah seorang tetua desa melakukan ritual itu sebelum para pemburu berangkat mencari ahulua (hasil berburu) sambil menyampaikan narasi-narasi berupa doa dengan cara berbicara kepada bela. Selain meminta izin, para pemburu juga memohon keselamatan diri mereka dan juga anjing-anjing yang mereka bawa. Akan tetapi, sayangnya ritual ini sudah tidak lagi diiringi oleh fondrahi atau tamburu (tambur).

Namun, seiring “tekanan” dan kuatnya nilai-nilai kekristenan mendesak tradisi-tradisi lokal itu ke pinggir dan lambat laun serta pasti menghilang sampai sekarang. Beruntung berbagai catatan-catatan para peneliti kita bisa mengetahui kembali kondisi Nias pada masa lampau.

***

Diperlukan sebuah kearifan dan kebijaksanaan bagi semua pamangku kepentingan di Pulau Nias untuk bisa menggali kembali tradisi-tradisi lokal yang ada di Nias, termasuk alat-alat musik tradisional seperti fondrahi. Kearifan di sini adalah kebesaran hati bahwa tujuan penggalian kembali tradisi ini bukan menghidupkan kembali agama animisme-politeisme serta menentang agama yang sudah ada, melainkan menggalinya untuk jati diri serta bisa digunakan untuk pengayaan kebudayaan.

Adalah baik dipikirkan untuk misalnya menggali kembali tradisi fo’ere ini dengan membuatnya dalam bentuk teatrikal yang bisa dipertunjukkan kepada para wisatawan. Tak beda dengan tari perang (faluaya) yang sering kita saksikan yang tentu bukan dimaksudkan untuk melakukan perang sebenarnya.

Dengan menghidupkan kembali fo’ere, otomatis alat musik fondrahi ini bisa dikenal kembali dalam keseharian orang Nias. Generasi muda Nias bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan pengembangan kebudayaan yang sudah ada sekarang, misalnya maena dan lagu-lagu tradisional Nias bisa diiringi dengan alat musik pukul ini.

Pihak pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pariwisata, di Pulau Nias serta semua pemangku kepentingan di bidang pariwisata dituntut lebih kreatif guna menggali tradisi-tradisi kuno agar kembali hidup demi jati diri yang bisa menambah kebanggan sebagai Ono Niha. [APOLONIUS, Pemerhati Sosial; Penyusun Kamus Li Niha]

Related posts