PARIWISATA KOTA GUNUNGSITOLI

Pantai Hoya Andalan Pariwisata Kota Gunungsitoli

Tepi Pantai Hoya 1

Indahnya Pantai Hoya. | Foto: NBC/Anoverlis Hulu

NBC — Deburan ombak dan embusan angin yang sejuk memanjakan setiap pengunjung yang bersantai di Pantai Hoya, sebuah pantai indah memesona yang dimiliki Kota Gunungsitoli. Tak hanya karena keindahan pantai, tetapi kebersihan daerah pariwisata ini menjadikan pantai Hoya ini ditunjuk sebagai salah satu tujuan wisata utama favorit di Kota Gunungsitoli, selain Museum Pusaka Nias, dan kluster rumah adat.

Tidak kurang, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Sapta Nirwandar yang berkunjung ke tempat ini pada pertengahan Juni lalu memuji dan memberikan apresiasi terhadap kebersihan pantai ini. “Pantai ini indah dan bersih,” ujar Sapta.

Berlokasi sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Gunungsitoli, Pantai Hoya yang berada di Desa Telukbelukar, Kecamatan Gunungsitoli Utara, ini sangat popular di kalangan masyarakat Nias. Bagi yang belum mengetahui, semoga catatan kecil ini bisa menjadi informasi awal untuk segera bergegas berwisata di tempat ini.

Menuju ke lokasi Pantai Hoya tidaklah sulit. Jalan yang sudah beraspal membuat pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Kota Gunungsitoli untuk sampai.

Lokasi wisata yang dibuka sejak tahun 2007 ini diberi nama Pantai Hoya karena di lokasi tersebut banyak sekali tumbuh pohon hoya. Pohon dengan nama latin Oncosperma tigillarium ini atau dikenal dengan pohon nibung, oleh masyarakat Nias dinamai hoya.

Pohon Hoya

Rumpun pohon nibung atau hoya yang tumbuh di Pantai Hoya. | Foto: NBC/Anoverlis Hulu

Pohon yang unik ini sekilas merupakan perpaduan antara pinang dan kelapa. Batang pohonnya mirip seperti batang pohon pinang sedangkan daunnya mirip seperti nyiur. Namun, pohon hoya dikenal sebagai jenis pohon yang keras dan kuat. Keunikan ini pula yang mungkin ditangkap oleh sang pemilik sebagai sinyal bahwa Pantai Hoya berpotensi menjadi wisata favorit yang mampu bertahan.

Hal ini pun terbukti. Dengan mengandalkan keindahan garis pantai, suasana yang alami dengan jajaran pohon naru’u (pohon cemara atau yang dikenal dengan mana latin Casuarinaceae), dan kebersihan di sepanjang pantai menjadikan Pantai Hoya selalu didatangi pengunjung pada akhir pekan. Di sepanjang pantai inilah pengunjung bisa beristirahat sejenak atau mungkin dapat melakukan aktivitas santai lainnya, seperti berkemah, atau sekadar menggelar tikar dan bercengkerama dengan keluarga.

***

Ada hal penting yang harus diperhatikan pengunjung saat berkunjung ke tempat ini. Setelah tiba di pintu gerbang, pengunjung akan menjumpai dua jalur yang berbeda, ke kiri dan ke kanan. Bagi yang ingin ke Pantai Hoya, berbeloklah ke jalur kiri.

“Pantai Hoya itu hanya satu sedangkan bisnis wisata di sepanjang area pantai di daerah ini ada beberapa. Karena berada dalam satu daerah akhirnya orang beranggapan bahwa seluruhnya adalah termasuk areal Pantai Hoya, padahal tidak,” kata Agustian Ziliwu, pengelola yang juga anak dari pemilik Pantai Hoya.

Ia menyampaikan hal tersebut untuk menepis citra negatif yang beredar di masyarakat mengenai obyek wisata Pantai Hoya yang dibangun oleh kedua orangtuanya. Ia mengungkapkan bahwa segala kejadian yang tidak mengenakkan selama ini, seperti beberapa kali pangan muda-mudi dipergoki berbuat mesum, bukanlah terjadi di kawasan wisata tersebut.

Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan adanya praktik prostitusi, penggunaan narkoba, atau tindak kriminal lainnya terjadi di lokasi wisata yang mereka kelola.

Fasilitas yang Tersedia

“Dulu pemerintah berencana membangun tempat pelelangan ikan (TPI) di lokasi yang saat ini bisa kita saksikan. Makanya kami memanfaatkan kesempatan itu untuk membuka usawa disini. Ada sekitar 130 hektar tanah yang kami miliki. Namun, karena keterbatasan dana  baru sekitar 10 hektar saja yang dimanfaatkan sebagai obyek wisata,” kata Agus.

Dengan lahan seluas itu, beberapa fasilitas yang tersedia bisa dinikmati oleh pengunjung. Diantaranya berbagai wahana permainan anak, paviliun atau saung, toilet, dan restoran. Ada juga aula berkapasitas maksimal 500 orang yang dikenakan tarif sewa bagi yang ingin menggunakannya. Biasanya aula ini dimanfaatkan untuk mengadakan berbagai kegiatan, seperti kebaktian, pertemuan ataupun kegiatan hiburan.

***

Namun, jangan lantas berkecil hati sebab bagi pengunjung yang punya dana terbatas diperkenankan mengadakan kegiatan semacam itu di luar ruangan. Pengunjung hanya akan dikenakan biaya kebersihan.

“Kalau ada dana sebenarnya kami akan memanfaatkan lahan yang lainnya untuk menambah fasilitas sehingga masyarakat tetap menggemari obyek wisata ini. Kami berencana membangun hotel dan wisata air. Begitu juga dengan fasilitas hiburan, seperti penyediaan alat musik keyboard dan sound system yang selama ini hanya dilaksanakan setiap hari Minggu saja,” ujarnya.

Di samping fasilitas yang disediakan oleh pemilik, adapula fasilitas yang telah disediakan pemerintah daerah. Fasilitas tersebut berupa dermaga yang biasa digunakan sebagai tempat memancing, baik oleh penduduk sekitar maupun para pengunjung. Fasilitas ini juga menjadi salah satu daya tarik orang berkunjung ke tempat ini.

Ada lagi fasilitas TPI, fasilitas air  bersih dan toilet umum. Sayangnya, kondisi ketiga fasilitas ini tidak terawat. Tampaknya pemerintah harus bekerja ekstra untuk mengembalikan fungsi fasilitas ini jika memang serius meningkatkan kunjungan wisata di daerah tersebut.

Selain itu, pembenahan gerbang, tanda penunjuk lokasi yang masih minim, pos penjagaan dan juga harus segera dibenahi jika ingin mencapai tujuan tersebut.

Tidak Menunggu Pemerintah

permainan anak 1

Sejumlah wahana permainan anak-anak di Pantai Hoya. | Foto: NBC/Anoverlis Hulu

Sebagai tindak lanjut penetapan Pulau Nias sebagai tujuan wisata utama Nasional,Pemerintah Kota Gunungsitoli telah menetapkan obyek wisata unggulan di daerah tersebut. Salah satunya adalah Pantai Hoya. Pemilik Pantai Hoya, yang merupakan orangtua Agus, telah menyatakan kesediaanya untuk bekerja sama dengan investor manapun.

Menurut Agus, jika kerjasama itu dilaksanakan, pembangunan Pantai Hoya dapat dilaksanakan sesegera mungkin. Utamanya dalam pembangunan fasilitas penginapan dan permainan air. Komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk membantu pengembangan obyek wisata inipun sangat disambut baik.

Walau demikian, Agus mengungkapkan hingga saat ini, tanda-tanda realisasi janji tersebut masih belum terlihat. Ia menegaskan, ada atau tidaknya bantuan dari pemerintah, pihaknya tetap akan mengandalkan modal sendiri untuk membangun kawasan wisata ini. Jika ditotal, menurut Agus, diperlukan sekitar Rp 30 miliar lebih untuk pembenahan obyek wisata Pantai Hoya.

“Masih belum ada, masih menunggu saja. Tetapi dengan catatan, kami tidak akan menunggu itu. Ketika kami bisa mengembangkan usaha wisata kami, kami lakukan sendiri. Tetapi ketika ada bantuan dari pemerintah, kami juga menerima. Pemerintah memang tidak menjanjikan nilai rupiah yang akan diberikan, tetapi mereka bilang akan dibantu entah dalam hal dana atau promosi,” ujarnya.

Perhatian Pemerintah Kota Gunungsitoli dinilai Agus memang masih kurang. Karena itu ia pun tidak berharap muluk terhadap janji pemerintah untuk membantu pengembangan Pantai Hoya terlebih seusai ditetapkan sebagai daerah wisata unggulan.[ANOVERLIS]

Related posts