Layanan Publik

Layanan Haji Pemkot Gunungsitoli Lebih Baik

Akibat kuota dari Departemen Agama, hanya 6 orang warga Gunungsitoli yang berangkat menunaikan Ibadah Haji tahun 2014. Foto Irwanto Hulu

Akibat kuota dari Departemen Agama, hanya 6 orang warga Gunungsitoli yang berangkat menunaikan Ibadah Haji tahun 2014. Foto Irwanto Hulu

Sesuai rukun Islam kelima, umat wajib menunaikan ibadah haji jika sanggup. Untuk memenuhi kewajiban itu, calon jemaah haji harus rela menunggu jatah dari Kementerian Agama Pusat, walaupun uang untuk Ongkos Naik haji (ONH) yang ditabung melalui tabungan Makbul sudah terpenuhi.

Muhamad Nasir, warga Kota Gunungsitoli pun merasakan hal itu. Pria umur 61 tahun ini mengaku telah 4 tahun sabar menanti giliran. “Setiap bulan saya menabung hingga terkumpul Rp 36 juta,” ujar pensiunan PT Bank Sumut ini saat menunggu pemberangkatan di aula Samaeri,kantor Wali Kota Gunungsitoli, Jalan Pancasila, Desa Mudik, Kota Gunungsitoli, Minggu (14/9/2014).

Peraturan yang berlaku mengharuskan calon Jemaah haji mendaftar dan menabung pada Tabungan Makbul hingga dana yang ditetapkan Departeman Agama terpenuhi.

Pemerintah kota Gunungsitoli cukup baik memberi bantuan para Jemaah haji dengan memberi fasilitas keberangkatan dan kedatangan. Bantuan itu tentu baik, setidaknya dapat mencegah pengalaman yang tak mengenakkan. Misalnya saja, pada musim Haji 2003 lalu, terlantar di Medan. Mereka adalah jemaah haji dari kelompok terbang II asal Kabupaten Nias telantar di Asrama Haji Pangkalan Mashur Medan. http://koran.tempo.co/konten/2003/12/02/3552/Jemaah-Haji-Asal-Nias-Telantar-di-Medan

“Kami hanya membantu menfasilitasi pemberangkatan hingga Calon Jemaah Haji masuk asrama di Medan dan menjemput kembali dari Mekah di Bandara Kualanamu untuk membawa pulang hingga Kota Gunungsitoli,” ujar Jasniati, seorang anggota panitia pemberangkatan dan pemulangan Calon Jemaah Haji di Kantor Walikota Jum’at (26/9/2014).

Tim Panita layanan haji dikukuhkan Wakil Walikota Gunungsitoli Aroni Zendrato, Foto Irwanto Hulu

Tim Panita layanan haji dikukuhkan Wakil Walikota Gunungsitoli Aroni Zendrato, Foto Irwanto Hulu

Petugas yang dua tahun terakhir ini ikut mengurus ke Medan itu menambahkan bahwa selain melaksanakan tepung tawar, pihaknya juga melakukan pemeriksaan kesehatan, mengantar ke asrama serta mengurus penerbangan ke Medan.
“Pekerjaan panitia masih belum selesai hingga keberangkatan, saat para CHJ kembali ke tanah air, panitia sudah menunggu kedatangan mereka di bandara Kualanamu,” tambah dia.

Sekembali di tanah air, calon jemaah haji asal Kota Gunungsitoli akan mendapat layanan lagi. Panitia bakal mengurus pembayaran ongkos-ongkos serta melayani seluruh keperluan pulang. Baru setelah usai diterima walikota, para Jemaah haji dapat kembali berkumpul dengan keluarga.

Jasniati yang sehari-hari menjabat sebagai Kasubag Protokoler Humas Pemkot Gunungsitoli itu mengingatkan bahwa jumlah jamaah haji asal Gunungsitoli menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2014 sebanyak 6 orang sedangkan tahun 2013 tercatat 12 sedang 2012 ada 23 orang.

“Jumlah tersebut menurun bukan karena tidak ada yang berminat, tetapi akibat pembatasan kuota dari Kementerian Agama, sehingga saat ini jumlah yang sudah antri untuk naik haji mencapai ratusan,” ujar dia.

H. Ahmad Tamsir Zebua, merasakan layanan tim panitia Gunungsitoli lebih baik ketimbang dari Departemen Agama. Foto Irwanto Hulu

H. Ahmad Tamsir Zebua, merasakan layanan tim panitia Gunungsitoli lebih baik ketimbang dari Departemen Agama. Foto Irwanto Hulu

Layanan Menyenangkan
Ditempat berbeda, H.Ahmad Tamsir Zebua warga Jalan Sirao, Kelurahan Pasar, Kota Gunungsitoli mengatakan, menunaikan ibadah haji pada tahun 2012. Dia bersama 23 jamaah asal Gunungsitoli merasakan layanan yang dikelola Pemkot itu. Pria berumur 63 tahun itu tak sungkan mengaku amat puas.

Saat itu, H.Ahmad Tamsir Zebua, panitia bekerja dengan baik mengurus proses tepung tawar, memeriksa kesehatan hingga mengantar ke asrama Haji Medan. “Sebelum ke Asrama, kami menginap di Mess Pemda, biaya-biaya diurus panitia, kami terbang dari Bandara Polonia,” ujar dia.

Demikian pula saat mendarat kembali dari Tanah Suci, panitia sudah menunggu di Bandara Polonia. Layanan ramah kembali mereka rasakan.

Ironisnya menurut Tamsir, selama di Tanah Suci, mereka mengalami hal yang sebaliknya. Kondisi hotel tempat mereka menginap sangat tak karuan. “Selama 30 hari di sana kami tak mendapat makanan dan harus membeli sendiri,” ujar dia meningingat kembali pengalaman itu.

Bersama rombongannya, dia sedikit merasakan kenyamanan saat di Madinah selama 8 hari. Panitia di sana menyajikan fasiitas yang memadai. Saat pengukuhan tim panitia itu, Jumat (22/8/2014), Wakil Wali Kota Gunungsitoli Aroni Zendrato tim ini dibentuk sebagai wujud dari visi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Gunungsitoli dalam rangka mendukung kegiatan keagamaan.

Irwanto Hulu

Related posts