NIASPIRASI

Menanamkan Semangat “Disceo Ergo Sum” di Pulau Nias

Oleh Marinus Waruwu, S.S, M.Pd

Ilustrasi: Siswa SMP Swasta Nurani Pelita Agung di Desa Lölözasai, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias. Hanya dengan belajarlah anak-anak Nias bisa melakukan perubahan, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, dan daerahnya. | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

Ilustrasi: Siswa SMP Swasta Nurani Pelita Agung di Desa Lölözasai, Kecamatan Gidö, Kabupaten Nias. Hanya dengan belajarlah anak-anak Nias bisa melakukan perubahan, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, dan daerahnya. | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

NBC — Ya’ahoŵu, disceo ergo sum! Beberapa tahun terakhir Pulau Nias tercinta mengalami perubahan sangat siginifikan. Pembangunan di berbagai bidang kehidupan, seperti sumber daya manusia, infrastruktur, ekonomi, dan teknologi, mengalami kemajuan yang luar biasa. Cara pandang masyarakat kita dalam mengatasi berbagai persoalan hidup sehari-hari juga berubah dan secara perlahan pula gaya hidup masyarakat bertransformasi seiring semakin derasnya modernisasi yang menghantam setiap sendi kehidupan di Pulau Nias. Modernisasi berjalan perlahan, tetapi pasti. Banyak perkembangan positif yang mesti kita syukuri.

Namun, modernisasi di segala bidang kehidupan tersebut ternyata memiliki tantangan tersendiri. Cara berpikir dan gaya hidup anak-anak muda mengalami perubahan. Di sana-sini anak-anak kita pinginnya serba instan, tak mau kerja keras alias pemalas, individualisme tinggi, sopan santun kurang, perilaku hidup ugal-ugalan, komitmen kurang, dan sebagainya. Tak sedikit pula anak-anak putus sekolah karena alasan malas berpikir, malas belajar, malas bekerja keras. Pinginnya serba instan.

Karena itu, melalui tulisan sederhana ini penulis mengajak kita semua para pendidik, orangtua, masyarakat agar tak jemu-jemu memberikan kesadaran kepada anak-anak kita di Pulau Nias bahwa belajar merupakan sarana memanusiakan hidup kita manusia. Bahwa hanya melalui belajar kita dapat meraih cita-cita dan tujuan hidup. Sebaliknya pola pikir serba instan, kemalasan, sikap manja berlebihan justru merusak kemanusiaan mereka sendiri. Judul tulisan ini pun sangat tepat, disceo ergo sum!

Apa Itu Disceo Ergo Sum?

Disceo ergo sum! Istilah ini berasal dari bahasa Latin yang artinya “saya belajar maka saya ada” (Fransiskus Borgias: 2013). Dalam aktivitas belajar, diriku ada dan berada sebagai pribadi. Belajar merupakan wujud eksistensi diriku (Marthin Heideger) atau keberadaan diriku sebagai pribadi yang dikaruniai akal budi, kebebasan, dan hati nurani.

Belajar menjadi jalan hidup yang memengaruhi pertumbuhan diriku secara keseluruhan. Dalam belajar, aku bertumbuh dan memahami segala hal. Singkatnya, aku ber-ada (being) karena aku belajar (to learn). Sebaliknya, tanpa belajar, diriku tidak ber-ada. Sikap tidak belajar meniadakan eksistensi diriku sebagai manusia yang dikaruniai akal budi, kebebasan, dan hati nurani. Karunia khusus dari Sang Pencipta ini pun menjadi sia-sia tanpa aktivitas belajar itu sendiri.

Marinus Waruwu | Foto: Dokumen Pribadi

Marinus Waruwu | Foto: Dokumen Pribadi

Terlepas dari pengertian tersebut di atas, istilah Latin,disceo ergo sum hanyalah salah satu slogan hidup yang dianut sebagian besar umat manusia modern saat ini. Sejak lahirnya, slogan cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada) yang diwacanakan filsuf legendaris Perancis, Rene Descartes (1596-1650) telah tercipta begitu banyak slogan-slogan gaya hidup lain yang diciptakan oleh para ilmuwan, filsuf, teolog, motivator dunia. Pada intinya, slogan-slogan ini menunjukkan suatu keyakinan dan totalitas dalam menjalani pilihan hidup. Bahwa hidup yang dijalani bukanlah sekadar tempelan belaka bagi yang menjalaninya, melainkan sebuah identitas dan otensitas diri yang mesti dihidupi dan dijalani secara total.

Totalitas terhadap jalan hidup yang dipilih perlu demi menjaga identitas dan tentu saja otensitas diri yang menjalaninya (Charles Taylor). Penulis mengungkapkan beberapa contoh slogan yang menggambarkan totalitas perilaku manusia modern, antara lain: Saya berdoa, maka saya ada;Saya berbelanja, maka saya ada;Saya menulis, maka saya ada;Saya melukis, maka saya ada; Saya bermain, maka saya ada;atau Saya online, maka saya ada. Beberapa contoh ini hendak menunjukkan bahwa manusia-manusia zaman modern hidup dengan beragam identitas tindakan dan perilaku gaya hidup. Namun, setiap slogan tersebut menuntut adanya totalitas bagi yang menjalaninya.

Dalam permenungan penulis soal slogan menarik ini, penulis berpikir bahwa ada baiknya apabila slogan disceo ergo sum ini mesti ditularkan kepada anak-anak muda, khususnya peserta didik di Pulau Nias. Kita sudah mengetahui bersama bahwa perubahan gaya hidup anak-anak muda di Nias mengalami perubahan secara perlahan-lahan, tetapi pasti karena derasnya arus budaya modern menerjang setiap segi kehidupan di Nias. Apabila cara berpikir dan gaya hidup barat modern ini ditelan mentah-mentah setiap anak muda dan peserta didik, kita sangat khawatir. Kita sudah mengetahui semua contoh perilaku nakal anak-anak muda Nias, seperti dimuat beberapa kali di media online Nias-Bangkit.Com ini juga.

Demi menciptakan anak-anak muda berkualitas, beriman, cerdas, dan berbudi pekerti luhur di Nias, penulis mengusulkan agar semangat disceo ergo sum ini perlu ditanamkan sejak dini dalam diri anak-anak Nias. Orangtua, para pendidik di sekolah, warga masyarakat, dan gereja memiliki tanggung jawab bersama menyadarkan anak-anak itu. Bahwa belajar merupakan identitas diri mereka. Belajar bagian hidup yang harus dijalani secara total. Dengan begitu, anak-anak Nias memiliki semangat belajar dan menyadari bahwa kegiatan belajar merupakan tanggung jawabnya sebagai manusia yang secitra dengan Allah (Kejadian 1:26-28).

Tantangan dan Peluang

Penerapan prinsip disceo ergo sum bagi peserta didik di Pulau Nias bukanlah perkara mudah. Ada banyak tantangan yang mesti dihadapi orangtua dan juga para pendidik di sekolah. Tantangannya begitu kompleks sejalan dengan perkembangan kepribadian setiap anak yang berbeda di tiap levelnya, misalnya umur, pergaulan, cara berpikir, lingkungan, dan sebagainya.

Penulis mengungkapkan dua tantangan orangtua yang mesti menjadi bahan permenungan orangtua dan para pendidik, antara laintantangan dari dalam diri mereka sendiri (internal), misalnya rasa malas belajar, suka menunda-nunda, cepat bosan, kurang sabar dan tabah, cepat patah semangat, iri hati, daya juang rendah. Sementara tantangan dari luar diri mereka (eksternal), misalnya tempat belajar dan suasana belajar yang membosankan, baik di sekolah maupun di rumah, fasilitas untuk belajar terbatas, kelekatan pada media-media online seperti Facebook, game online, lingkungan rumah tidak sehat, orangtua terlalu sibuk, kurang perhatian dan kasih sayang.

Kedua tantangan tersebut menjadi hambatan tersendiri bagi peserta didik untuk menunjukkan diri sebagai manusia yang pembelajar dan menjadikan aktivitas belajar sebagai bagian dari diri-nya.

Bagaimana dengan peluang menanamkan disceo ergo sum? Dalam refleksi penulis, peluang menanamkan paham ini dalam diri peserta didik sangatlah besar. Orangtua dan para guru di sekolah tentu saja menjadi garda terdepan. Kedua pihak mesti sinergis dalam mendidik dan mengarahkan anak-anak agar mencintai aktivitas belajar itu. Di rumah, orangtua harus memberikan perhatian khusus dalam mendampingi anak-anak belajar. Motivasi dan pendekatan pribadi, tempat dan fasilitas belajar yang baik tentu memengaruhi kecintaan anak-anak terhadap aktivitas belajar.

Sementara di sekolah guru bertanggung jawab menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik,misalnya, (a) prinsip perhatian dan motivasi dari guru. Menurut H.L Petri (1986), motivasi dan perhatian menjadi kekuatan dan dorongan yang menggerakkan peserta didik agar menyenangi pembelajaran. Motivasi dan perhatian dijadikan tujuan dan alat aktivitas belajar itu sendiri. (b) prinsip keaktifan.

Menurut Gage dan Berliner (1984:267) dalam aktivitas belajar, siswa bertindak sebagai subyek belajar yang harus memiliki sifat aktif, konstruktif, mampu merencanakan, mencari, mengolah informasi, memecahkan, dan melakukan transfer of learning dalam kehidupan luas. Selain kedua prinsip itu, pembelajaran juga mencakup prinsip lain, misalnya keterlibatan langsung, pengulangan, prinsip tantangan, penguatan, perbedaan individual (Tim MKDP 2011:185-187).

Di sisi lain guru juga mesti memikirkan pendekatan, strategi, dan model pembelajaran yang menyenangkan buat anak-anak di sekolah. Pembelajaran pun bukan lagi sesuatu yang membebankan, melainkan sesuatu yang menyenangkan untuk dijalani. Belajar menjadi bagian dari hidup. Way of life!

Beberapa pendekatan di atas hanyalah beberapa strategi umum bagaimana orangtua, guru menanamkan semangat disceo ergo sum dalam diri peserta didik di Nias. Slogan ini sendiri akan mengantarkan peserta didik Nias pada 3 kesadaran baru.

Pertama, kesadaran akan tanggungjawab sebagai peserta didik. Sebagai seorang peserta didik, dia menyadari tanggung jawabnya untuk belajar. Dengan belajar, dia menunjukkan eksistensinya dan keberadaan dirinya. Dengan belajar, dia mempertanggungjawabkan kehidupan dan karunia hidup yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya. Dia mempertanggungjawabkan karunia Tuhan itu dengan belajar dan mengembangkan diri.

Kedua, kesadaran akan kewajiban sebagai peserta didik. Sebagai seorang peserta didik, dia dengan sendirinya menyadari kewajibannya sebagai seseorang yang sedang diformat, dibentuk, dan dididik di sekolah. Kesadaran diri sebagai seorang yang sedang diformat dan dibentuk mengantar dia pada sebuah komitmen mengembangkan diri baik secara intelektual, keterampilan, relasi dengan teman, maupun dalam hal mengembangkan hidup rohaninya.

Ketiga, kesadaran akan identitasnya sebagai peserta didik. Kesadaran akan identitas sebagai peserta didik membawanya pada sebuah kesadaran baru bahwa hanya melalui belajarlah dia mampu berkembang dan mewujudkan cita-citanya. Dia pun selalu termotivasi untuk belajar, belajar, dan terus belajar. Belajar pun menjadi sebuah identitas yang melekat dalam dirinya.

Disceo ergo sum mungkin saja terlalu idealistik terhadap kenyataan peserta didik di Pulau Nias. Namun, dalam refleksi penulis, disceo ergo sum justru menjadi strategi atau metode bagi setiap orangtua, guru, masyarakat, gereja, pemerintahan dalam mendidik anak-anak sejak usia dini. Jika sejak dini anak-anak sadar bahwa belajar itu penting, kasus-kasus anak putus sekolah tidak terjadi lagi. Kualitas sumber daya manusia juga akan terjamin pada masa mendatang. [Marinus Waruwu S.S, M.Pd,Pemerhati Pendidikan, Tinggal di Bandung]

Related posts